Categories
Uncategorized

Pantangan makanan untuk penderita sakit lambung

Apa yang terjadi di perut Anda sangat bergantung pada apa yang Anda makan setiap hari. Misalnya saja, Anda punya sakit lambung (entah itu mag atau GERD), tapi Anda tidak mengetahui makanan dan minuman apa yang sebaiknya dihindari. Hal itu tentu akan membuat sakit lambung sering kambuh.

Lambung adalah tempat makanan dicerna dan sejumlah sari-sari makanan diserap. Organ yang bentuknya menyerupai huruf J ini berdinding tebal, dan terletak di sebelah kiri atas rongga perut, tepat di bawah diafragma. Jika fungsi lambung terganggu, Anda akan merasakan beberapa gejala, seperti kembung, mual, muntah, nyeri pada bagian ulu hati, dan nyeri perut setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

Hindari 5 makanan ini

Untuk itu, Anda yang menderita sakit lambung, harus berhati-hati dalam memilih makanan. Bila asal mencomot makanan, kondisi lambung akan semakin memburuk dan frekuensi kekambuhan bisa meningkat. Pantangan makanan bagi penderita sakit lambung, antara lain:

  • Makanan pedas dan asam

Ya, katakan selamat tinggal pada makanan pedas dan asam. Meski enak di lidah, keduanya sangat tidak baik untuk kesehatan lambung Anda yang sudah bermasalah. ketika masuk ke dalam saluran pencernaan, makanan pedas dapat mengiritasi lapisan mukosa lambung. Konsumsi makanan pedas juga dapat meningkatkan sekresi atau pengeluaran asam lambung sekaligus menurunkan kekuatan lapisan pelindungnya. “Kondisi lambung akan semakin parah jika Anda makan makanan pedas yang dikonsumsi berbarengan dengan makanan asam, misalnya saja rujak buah asam dengan bumbunya yang pedas atau sup tom yam khas Thailand,”

  • Makanan berlemak

Makanan berlemak (Kuruneko/Shutterstock), Makanan yang digoreng secara deep fry dan produk olahan susu yang tinggi lemak adalah contoh makanan berlemak yang sebaiknya dikurangi penderita sakit lambung. Penyebabnya, makanan berlemak butuh waktu lebih lama untuk dicerna tubuh dan pengosongan lambung pun akan menjadi lebih lama. Sebuah penelitian pernah dilakukan pada 134 pasien mag. Mereka disarankan untuk menerapkan diet tinggi lemak selama beberapa waktu.

Hasilnya, kelompok yang masih mengonsumsi makanan tinggi lemak mengalami penyembuhan lebih lama, meski sudah diberikan pengobatan. Sementara mereka yang menjauhi makanan berlemak dan menjalani pengobatan dengan benar bisa sembuh lebih cepat.

  • Makanan dan minuman berkafein

Bicara soal kafein, mungkin yang terpikirkan oleh Anda hanyalah kopi. Padahal, teh dan cokelat juga mengandung kafein yang juga sama buruknya untuk lambung. Kafein dalam secangkir kopi berkisar 95-200 mg, sedangkan kopi instan mengandung 27-173 mg kafein. Lalu, bagaimana dengan teh? Secangkir teh hijau mengandung 24-25 mg kafein, sedangkan teh hitam mengandung 14-70 mg kafein. Sementara itu, dalam secangkir cokelat hangat terkandung 10-70 mg kafein. Bila Anda mengunyah cokelat batangan, Anda mengonsumsi 20-60 mg kafein.

Kafein bersifat stimulan yang dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memperparah gejala sakit lambung Anda. “Lagi pula, kafein pun dapat merangsang kontraksi usus dan meningkatkan risiko diare atau nyeri perut. Jadi, sebaiknya dihindari saja,

  • Minuman berkarbonasi

Mengonsumsi minuman berkarbonasi dapat meningkatkan tekanan pada lambung karena gas yang dilepaskan oleh minuman tersebut. Gelembung gas akan mendorong lambung, meregangkan, sekaligus memaksa sfinger esofagus untuk terbuka. Pada akhirnya, gas dari minuman bersoda pun memicu gejala refluks asam.

  • Beberapa jenis sayuran, buah, dan herbal

Bila Anda memiliki masalah lambung, sebaiknya hindari beberapa jenis sayur, buah, dan herbal, seperti tomat, jeruk, daun mint, kol, sawi, dan selada. Semua yang telah disebutkan itu meningkatkan produksi gas dalam lambung sehingga membuat perut tidak nyaman.

Tomat sendiri memiliki kandungan sitrat dan asam lamat yang dapat membuat refluks asam terjadi, begitu pula dengan jeruk. Adapun daun mint dapat menciptakan sensasi heartburn yang sangat menyakitkan.

Itu dia lima pantangan makanan dan minuman yang sebaiknya benar-benar dihindari oleh penderita sakit lambung. Selain menghindari makanan tersebut secara konsisten, Anda juga harus mengimbanginya dengan makan secara teratur dan mengelola stres dengan baik. Dengan cara ini, frekuensi kekambuhan sakit lambung akan lebih jarang terjadi.

 

Categories
Uncategorized

Ketahui Penyebab Vagina gatal

Vagina gatal menjadi salah satu keluhan yang mungkin pernah dialami wanita sepanjang hidupnya. Kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas, bahkan menurunkan kualitas hidup wanita yang mengalaminya.

Banyak hal yang dapat menjadi penyebab vagina gatal. Beberapa penyebab yang paling sering, di antaranya:

  1. Iritan

Vagina yang terpapar bahan iritan sangat mungkin mengalami iritasi dan reaksi alergi. Adanya kondisi ini menyebabkan munculnya ruam kemerahan yang terasa gatal di bagian vital tersebut.

Beberapa iritan yang dimaksud, meliputi :

  • Sabun mandi mengandung detergen
  • Semprotan feminine
  • Vaginal douche
  • Kontrasepsi topikal (oles)
  • Pelembut kain
  • Kertas toilet beraroma
  1. Penyakit kulit

Beberapa penyakit kulit seperti eksem (atau lebih dikenal dengan sebutan eksim)  dan psoriasis dapat menyebabkan kemerahan dan gatal pada area genital, baik pada pria maupun wanita. Eksim juga dikenal sebagai dermatitis atopik adalah ruam yang terutama terjadi pada orang dengan riwayat asma atau alergi. Ruam ini berupa kemerahan dan gatal dengan tekstur kulit yang bersisik. Kondisi ini dapat menyebar ke vagina pada beberapa wanita dengan eksim. Sementara itu, psoriasis adalah penyakit kulit yang menyebabkan munculnya bercak merah bersisik dan gatal di kulit kepala maupun persendian. Terkadang kondisi ini juga dapat terjadi pada area vagina.

  1. Infeksi jamur

Jamur secara alami terdapat pada vagina. Akibat satu dan lain hal, jamur-jamur tersebut bisa saja mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali dan menyebabkan terjadinya infeksi. Saat terjadi infeksi jamur di bagian vagina, keluhan yang akan terjadi umumnya berupa sensasi gatal berlebih dan perasaan terbakar di sekitar vagina. Pada kasus lebih lanjut, infeksi jamur di vagina dapat menyebabkan lendir keputihan sangat kental menyerupai keju dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

  1. Vaginosis bakteri

Vaginosis bakteri terjadi saat keseimbangan flora normal yang hidup di dalam vagina mengalami gangguan. Sama halnya dengan infeksi jamur, kondisi ini juga dapat menyebabkan vagina gatal dan memicu terjadinya keputihan abnormal dengan ciri-ciri lendir berwarna putih ke abu-abuan dan berbau amis.

  1. Infeksi menular seksual

Infeksi menular seksual atau IMS seperti infeksi chlamydia, kutil kelamin, gonore, herpes genital dan trikomoniasis bisa saja terjadi akibat perilaku seksual yang tidak sehat. Salah satu keluhan yang terjadi akibat kondisi tersebut adalah vagina gatal.

  1. Menopause

Tahukah Anda bahwa menopause juga bisa menyebabkan terjadinya gatal pada vagina? Keadaan tersebut bisa terjadi akibat kadar estrogen yang berkurang selama menopause, sehingga menyebabkan atrofi vagina. Ini adalah penipisan mukosa vagina yang dapat menyebabkan kekeringan berlebihan sehingga memicu gatal dan iritasi.

  1. Stres

Meski jarang, stres fisik dan emosional juga dapat menyebabkan vagina teriritasi dan terasa gatal. Ini karena stres membuat sistem kekebalan tubuh menurun, sehingga infeksi di seluruh bagian tubuh termasuk vagina lebih mudah terjadi.

  1. Kanker vulva

Pada kasus yang jarang, vagina gatal dapat menjadi salah satu gejala dari kanker vulva. Kanker jenis ini berkembang pada area luar kelamin wanita, yang meliputi bibir dalam dan luar vagina, klitoris dan pembukaan vagina. Vagina gatal yang terjadi akibat kanker vulva biasanya disertai dengan perdarahan abnormal dan rasa nyeri pada area vulva. Vagina gatal dapat disebabkan oleh banyak hal yang tak melulu sepele. Oleh karena itu, apabila Anda mengalami vagina gatal yang tak kunjung hilang disertai munculnya luka di sekitar organ vital, nyeri berlebihan, masalah buang air kecil atau keluarnya cairan abnormal dari vagina, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Semakin cepat dideteksi dan diobati, kemungkinan untuk sembuh akan semakin tinggi.