Categories
Uncategorized

Kenali Penyebab polip usus

Polip usus merupakan kondisi timbulnya benjolan pada usus yang timbul dari sel yang melapisi usus. Sebagian besar polip usus tergolong jinak. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sebagian kecil polip usus dapat berkembang menjadi kanker usus, yang dapat berbahaya bila terdeteksi pada tahap lanjut.

Terdapat dua kategori utama polip usus, yakni polip non-neoplastik dan polip neoplastik. Polip non-neoplastik umumnya tidak berkembang menjadi kanker, dan polip neoplastik dapat berkembang menjadi kanker. Secara umum, semakin besar ukuran suatu polip, risiko terjadinya kanker semakin meningkat, terutama pada polip neoplastik.

Polip usus dapat terjadi pada usia berapa pun. Namun, risiko dari kondisi ini meningkat pada individu yang berusia 50 tahun atau lebih, mengalami berat badan berlebih, merokok, atau memiliki riwayat polip usus atau kanker usus pada diri sendiri atau anggota keluarga.

Polip usus sering kali tidak menyebabkan keluhan. Namun, sangat penting untuk menjalani pemeriksaan rutin, seperti kolonoskopi. Sebab polip usus yang ditemukan pada tahap awal umumnya dapat diangkat secara sepenuhnya dengan aman. Pencegahan yang terbaik bagi kanker usus adalah pemeriksaan usus yang rutin untuk melihat adanya polip.

Penyebab Polip Usus

Polip usus disebabkan karena pertumbuhan sel yang berlebihan pada usus dan rektum. Pada dasarnya, sel tubuh yang sehat memang dapat tumbuh dan berlipat ganda dengan teratur. Namun, terjadinya mutasi atau perubahan pada gen tertentu dapat membuat beberapa jenis sel untuk berlipat ganda dengan lebih cepat.

Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya polip usus adalah:

  • Usia → Sebagian besar individu dengan polip usus berusia 50 tahun atau lebih.
  • Peradangan pada usus.
  • Riwayat keluarga. Seseorang memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami polip usus atau kanker usus bila terdapat orang tua, saudara kandung, atau anak yang juga mengalami kondisi ini.
  • Merokok atau mengonsumsi alkohol.
  • Obesitas dan aktivitas fisik yang rendah.
  • Mengalami diabetes melitus tipe 2 disertai kadar gula darah yang tidak terkendali dengan baik.

Gejala Polip Usus

Polip usus sering kali tidak menyebabkan adanya tanda atau gejala. Pada sebagian besar individu, adanya polip usus diketahui pada saat dokter melakukan pemeriksaan pada usus.

Namun, beberapa tanda dan gejala yang dapat timbul pada polip usus adalah :

  • Perdarahan rektal → Keluhan ini dapat menandakan adanya polip usus, kanker usus, atau berbagai kondisi lainnya, seperti hemoroid atau adanya robekan kecil pada anus.
  • Perubahan warna feses → Darah dapat tampak sebagai garis merah pada feses atau membuat feses tampak hitam. Akan tetapi, perubahan warna feses juga dapat disebabkan oleh makanan, pengobatan, dan suplemen.
  • Perubahan kebiasaan buang air besar → Polip usus dapat menyebabkan seseorang mengalami konstipasi atau diare yang berlangsung selama lebih dari satu minggu. Akan tetapi, keluhan ini juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi kesehatan lainya.
  • Nyeri → Polip usus yang berukuran besar dapat menyebabkan hambatan parsial pada usus, yang bisa menimbulkan keluhan kram atau nyeri pada perut.
  • Anemia akibat defisiensi zat besi → Perdarahan dari polip dapat terjadi perlahan seiring dengan berjalannya waktu, tanpa perdarahan yang tampak pada feses.

Perdarahan yang berlangsung lama dapat membuat tubuh mengalami penurunan zat besi yang dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, yang merupakan zat penghantar oksigen pada sel darah merah. Hal ini dapat menyebabkan anemia akibat defisiensi zat besi, yang dapat menyebabkan seseorang merasa mudah lelah dan sesak napas.

Diagnosis Polip Usus

Pemeriksaan skrining berperan penting dalam mendeteksi polip usus sebelum terjadi kanker. Pemeriksaan ini juga bermanfaat dalam mendeteksi kanker usus pada tahap awal.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan mencakup:

  • Kolonoskopi → Kolonoskopi merupakan pemeriksaan yang paling sensitif untuk polip usus dan kanker usus. Bila ditemukan polip, dokter dapat segera mengangkatnya atau mengambil sampel jaringan dengan melakukan biopsi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  • Kolonoskopi virtual → Pemeriksaan minimal invasif ini menggunakan computerized tomography(CT) untuk menghasilkan pencitraan pada usus. Pemeriksaan ini membutuhkan persiapan yang serupa dengan prosedur kolonoskopi.
  • Bila didapatkan adanya polip pada hasil, dapat dilakukan pengangkatan menggunakan metode kolonoskopi.
  • Sigmoidoskopi fleksibel → Pemeriksaan ini menggunakan selang tipis yang disertai kamera untuk mengevaluasi kondisi usus besar bagian bawah (sigmoid) dan rektum. Bila ditemukan adanya polip, dapat dilakukan kolonoskopi untuk mengangkatnya.
  • Pemeriksaan feses → Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk melihat adanya darah pada feses.

Penanganan Polip Usus

Dokter dapat melakukan pengangkatan polip pada saat dilakukan pemeriksaan. Beberapa jenis pengangkatan yang dapat dilakukan adalah:

  • Polipektomi, atau pengangkatan polip, dapat dilakukan pada saat dilakukan kolonoskopi. Bila polip berukuran 1 sentimeter atau lebih, dokter dapat menyuntikkan cairan di bawahnya untuk membuat polip menjadi lebih tinggi dan terisolasi dari jaringan sekitar, guna mempermudah pengangkatan.
  • Bedah minimal invasive → Pada polip yang berukuran sangat besar dan tidak dapat diangkat dengan aman pada saat prosedur pemeriksaan, dapat dilakukan prosedur laparoskopi, yang melibatkan prosedur pembedahan dengan memasukkan instrumen ke dalam usus besar.

Pencegahan Polip Usus

Risiko terjadinya polip usus dan kanker dapat dicegah dengan menjalani pemeriksaan secara rutin. Beberapa perubahan gaya hidup juga dapat membantu pencegahan, seperti:

  • Menjalani kebiasaan sehat, Hal ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, dan makanan whole grain, serta menurunkan asupan makanan berlemak. Selain itu, juga disarankan untuk membatasi asupan alkohol dan berhenti merokok. Melakukan aktivitas rutin juga sangat disarankan, karena dapat membantu menjaga berat badan agar tetap ideal.
  • Memastikan bahwa kadar kalsium dan vitamin D dalam tubuh cukup. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan konsumsi kalsium dapat mencegah timbulnya pertumbuhan abnormal pada usus. Namun, manfaat protektif dari kalsium terhadap kanker usus masih sedang diinvestigasi lebih lanjut. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa vitamin D dapat memiliki efek protektif terhadap kanker usus.

 

 

Categories
Uncategorized

Apa itu laringitis

Laringitis adalah suatu kondisi dimana terjadi peradangan (iritasi) pada organ laring (kotak suara). Padahal di dalam laring terdapat pita suara. Dalam kondisi normal, pita suara akan membuka dan menutup dengan lancar, membentuk suara melalui pergerakan dan getaran yang terbentuk.

Saat terjadi iritasi dan peradangan di kotak suara, pita suara akan membengkak. Hal ini memicu terjadinya perubahan suara yang diproduksi. Itulah sebabnya saat mengalami laringitis, suara Anda menjadi serak dan merasa tidak nyaman saat bersuara. Pada beberapa kasus, suara yang keluar bisa sangat lemah hingga tak terdengar.

Secara umum, laringitis atau dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: kondisi akut dan kronik. Laringitis akut biasanya berlangsung singkat. Sedangkan kronik berlangsung lama (lebih dari tiga minggu).

Gejala Laringitis

Ada beberapa gejala laringitis atau yang paling umum, yaitu:

  • Suara serak atau sangat lemah –bahkan bisa hilang sama sekali
  • Nyeri saat menelan dan mengunyah
  • Hidung berair
  • Sakit tenggorokan
  • Rasa gatal di tenggorokan
  • Tenggorokan terasa kering
  • Demam –yang bisa saja terjadi pada beberapa kasus

Pada anak-anak, struktur saluran pernapasan yang kecil terkadang menimbulkan sesak napas. Hal ini sangat jarang terjadi pada orang dewasa.

Penyebab Laringitis

Laringitis akut bisa disebabkan karena beberapa hal yang meliputi:

  • Penyalahgunaan vokal, misalnya, berteriak berlebihan dan terlalu banyak berbicara
  • Paparan bahan kimiawi berbahaya
  • Infeksi akibat kuman, virus, dan bakteri

Selain itu ada juga penyebab yang lebih jarang. Misalnya suatu kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan normal tubuh sendiri. Gangguan autoimun yang mungkin menyebabkan radanga tenggorokan adalah arthritis rheumatoid, Wegener granulomatosis, dan sarkoidosis.

Sedangkan laringitis yang kronik umumnya disebabkan oleh faktor lingkungan. Misalnya karena menghirup asap rokok atau udara terpolusi terus menerus, penyalahgunaan vokal, dan naiknya asam lambung ke tenggorokan.

Saat merasakan datangnya gejala laringitis ada tindakan tertentu yang dapat Anda lakukan dirumah. Salah satunya adalah mengistirahatkan penggunaan suara. Sebaiknya minimalkan penggunaan suara untuk mencegah peradangan lebih lanjut. Selain itu tingkatkanlah daya tahan tubuh dengan cukup istirahat, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, dan meningkatkan mengonsumsi air putih.

Diagnosis Laringitis

Diagnosis laringitis atau dilakukan dengan beberapa tahap. Dokter akan melakukan pengumpulan informasi secara mendetil dan pemeriksaan fisik menyeluruh. Pengumpulan informasi mencakup gejala laringitis atau yang Anda rasakan.

Lewat pemeriksaan fisik, dapat ditemukan gambaran laring yang kemerahan dan bengkak (meskipun menampakkan laring bukanlah suatu hal yang wajib). Umumnya tidak ada pemeriksaan laboratorium maupun radiologis yang dibutuhkan. Pemeriksaan tersebut hanya akan dilakukan bila ada kecurigaan penyakit penyerta lain.

Pengobatan Laringitis

Penanganan laringitis atau akan diseuaikan dengan faktor penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi virus, maka peningkatan daya tahan tubuh sangat diperlukan. Ini bisa dilakukan dengan cukup istirahat dan mengonsumsi makanan bergizi. Minum air putih juga dapat membantu menghilangkan gejala dengan sendirinya.

Namun bila dokter mencurigai adanya infeksi bakteri, maka penambahan antibiotik akan diperlukan. Selain itu, umumnya laringitis atau akan sembuh sendiri dengan menghindari penyalahgunaan vokal. Artinya, Anda perlu mengistirahatkan pita suara dan menghindari berbagai iritan (asap dan udara terpolusi).

Anda bisa mencegah terjadinya laringitis atau laryngitis. Caranya adalah dengan menghindari penyalahgunaan vokal (misalnya, berteriak berlebihan, banyak berbicara), menghindari infeksi akibat kuman dengan meningkatkan daya tahan tubuh, dan menjauhi sumber infeksi. Selain itu hindari juga ekspos udara berpolusi dalam jangka waktu lama seperti asap rokok, asap kendaraan.

 

Categories
Uncategorized

Pencegahan Faringitis

Faringitis adalah istilah medis untuk infeksi atau iritasi pada daerah faring (tenggorokan).  Faring merupakan saluran yang mengantarkan udara dari hidung dan mulut menuju ke paru. Umumnya faringitis disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Anak-anak lebih sering mengalami penyakit ini dibandingkan orang dewasa. Data menunjukkan bahwa anak-anak umumnya mengalami setidaknya lima kali faringitis dalam setahun.

Penyebab Faringitis

Sebagian besar kasus faringitis disebabkan karena infeksi virus dan bakteri. Bakteri penyebab terseringnya adalah bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A. Penyebab lainnya yang lebih jarang adalah karena alergi, toksin, atau cedera.

Pada kasus faringitis yang disebabkan karena infeksi virus atau bakteri, kuman tersebut berusaha merusak lapisan tenggorokan sehingga menimbulkan reaksi radang. Khusus untuk faringitis yang disebabkan karena Streptococcus beta hemolyticus grup A, selain menimbulkan reaksi radang di tenggorokan, juga dapat menyebabkan gangguan sistem imun yang mengakibatkan sistem imun merusak katup jantung dan/ atau ginjal.

Virus atau bakteri umumnya menyerang faring melalui penularan dari udara jika penderita berkontak dalam jarak dekat dengan orang yang sedang mengalami faringitis.

Diagnosis Faringitis

Pada pemeriksaan awal, dokter akan melakukan wawancara lengkap dan pemeriksaan fisik menyeluruh, terutama di daerah tenggorokan. Dokter akan melihat apakah terdapat tanda peradangan pada tenggorokan dan apakah terdapat pembesaran tonsil.

Jika dokter mencurigai bahwa penyebabnya virus, maka umumnya tidak diperlukan pemeriksaan lanjutan. Namun bila faringitis diduga disebabkan karena bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A, maka pemeriksaan swab tenggorokan di bawah mikroskop dan kultur dari swab tersebut diperlukan untuk memastikannya. Pemeriksaan darah biasanya tidak perlu dilakukan.

Gejala Faringitis

Gejala utama faringitis adalah adanya batuk atau pilek. Faringitis yang disebabkan karena infeksi virus biasanya ditandai dengan gejala batuk atau pilek yang muncul secara mendadak dan bisa disertai dengan demam.

Jika virus yang menginfeksi adalah adenovirus, maka selain faringitis, infeksi pada selaput bening mata (konjungtiva) juga bisa terjadi, ditandai dengan mata merah, berair, dan kadang terasa gatal atau tidak nyaman.

Faringitis juga bisa merupakan gejala infeksi virus coxsackie. Virus ini menyebabkan penyakit mulut kaki tangan, atau dikenal secara awam dengan istilah flu Singapura. Selain faringitis, penyakit ini juga menimbulkan keluhan sariawan di rongga mulut dan bintil-bintil berisi air di kulit di tangan dan kaki.

Sementara itu, pada faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus beta hemolyticus grup A, gejala batuk biasanya tidak terjadi. Gejala yang lebih sering muncul adalah pilek, nyeri menelan, dan sakit kepala. Tak jarang, muntah-muntah atau adanya pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher juga terjadi.

JIka infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A menyebabkan gangguan imun pada ginjal, faringitis bisa disertai dengan gejala buang air kecil berdarah dan mual muntah akibat fungsi ginjal.

JIka infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A menyebabkan gangguan imun pada katup jantung, faringitis bisa disertai dengan gagal jantung seperti sesak napas terutama saat beraktivitas, perut membesar, atau bengkak pada kedua tungkai.

Pengobatan Faringitis

Sebagian besar kasus faringitis tidak berbahaya dan umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Namun yang paling penting adalah beristirahat dengan cukup, mengonsumsi makanan bergizi, dan minum air putih 1,5–2 liter per hari. Antibiotik tidak perlu diberikan bila tidak ada bukti adanya infeksi bakteri.

Jika melalui pemeriksaan swab tenggorokan terbukti adanya infeksi bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik golongan beta lactam, seperti penisilin atau amoksisilin, selama 10–14 hari untuk membunuh semua bakteri.

Pencegahan Faringitis

Beberapa tindakan pencegahan faringitis yang dapat dilakukan, di antaranya adalah:

  • Menghindari berkontak dalam jarak dekat dengan penderita faringitis
  • Menggunakan masker jika harus berada dalam jarak dekat dengan penderita faringitis
  • Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap akan makan dan setiap kali tangan akan berkontak dengan hidung
Categories
Uncategorized

Pengobatan Melasma

Melasma merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kulit, di mana terbentuk pigmentasi berwarna cokelat muda hingga cokelat tua, atau keabu-abuan. Kondisi ini juga dikenal dengan nama chloasma.

Melasma sering kali ditemukan pada area kulit yang terpapar sinar matahari, terutama pada wajah. Keadaan ini umum ditemukan pada wanita, terutama mereka yang memiliki kulit berwarna gelap dan tinggal di area dengan banyak sinar matahari.

Penyebab Melasma

Penyebab pasti yang memicu melasma belum diketahui. Namun, kemungkinan kondisi ini terkait dengan melanosit (sel yang memberikan warna pada kulit) yang memproduksi terlalu banyak warna.

Pada orang-orang berkulit gelap, sel melanosit lebih aktif dibandingkan mereka yang berkulit terang. Hal ini menyebabkan mereka yang berkulit gelap lebih rentan terkena melasma.

Melasma memiliki kecenderungan genetik. Hal ini tidak berarti bahwa melasma akan serta merta diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Namun, mereka dengan riwayat keluarga memiliki melasma akan lebih rentan pula terkena melasma.

Terdapat beberapa faktor yang diketahui memicu melasma, yaitu:

  • Paparan sinar matahari. Sinar ultraviolet (UV) pada sinar matahari diketahui dapat menstimulasi melanosit. Paparan sinar matahari dapat memperburuk keadaan melasma, atau membuat melasma yang sudah hilang menjadi muncul atau kambuh kembali.
  • Perubahan hormonal. Misalnya saat kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, hormone replacement therapy, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan wanita lebih rentan terkena melasma. Choasma adalah istilah untuk menggambarkan melasma saat kehamilan.
  • Produk perawatan kulit. Produk-produk yang mengiritasi kulit dapat memperburuk keadaan melasma seseorang.

Diagnosis Melasma

Umumnya melasma mudah dikenali dengan memperhatikan persebaran area yang memiliki pigmentasi berlebih pada bagian tubuh yang rentan terkena (umumnya wajah). Dapat digunakan bantuan alat yang dianamakan Wood’s light untuk melihat kedalaman melasma dari permukaan kulit. Untuk membantu menyingkirkan diagnosis lainnya, ada kemungkinan akan dilakukan biopsi kulit.

Gejala Melasma

Melasma tampak sebagai area yang berwarna lebih gelap dari kulit sekitarnya (hiperpigmentasi) atau flek cokelat pada kulit. Area ini tidak memiliki keluhan gatal ataupun nyeri. Walau demikian, dapat mempengaruhi penampilan seseorang. Terdapat tiga pola persebaran melasma, yaitu:

  • Centrofacial: mempengaruhi dahi, pipi, hidung, bibir atas, dan dagu
  • Malar mempengaruhi pipi dan hidung
  • Mandibular: mempengaruhi area rahang bawah

Walaupun jarang, ada kemungkinan melasma dapat ditemukan pada leher dan lengan bawah.

Pengobatan Melasma

Melasma dapat sulit untuk dihilangkan seluruhnya. Sering kali, faktor penyebab juga perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan melakukan pengobatan. Misalnya, melasma yang disebabkan kehamilan umumnya akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa bulan setelah melahirkan. Dalam hal ini, pengobatan sebenarnya tidak diperlukan.

Beberapa pengobatan yang mungkin ditawarkan pada Anda untuk membantu mengatasi keluhan melasma antara lain:

  • Hydroquinone: merupakan pengobatan melasma yang paling utama disarankan. Obat ini bekerja dengan mencerahkan kulit, dan digunakan dengan cara dioleskan pada bagian yang diperlukan.
  • Tretinoin dan kortikosteroid: kedua obat ini mungkin diresepkan dokter Anda untuk membantu mencerahkan kulit. Umumnya digunakan bersamaan dengan
  • Obat topikal lainnya, misalnya azelaic acidatau kojic acid
  • Prosedur: umumnya dipertimbangkan apabila pemberian obat-obatan tidak membantu mengatasi keluhan melasma. Beberapa jenis prosedur yang bisa ditawarkan adalah chemical peeling, mikrodermabrasi, dermabrasi, perawatan dengan laser, dan sebagainya.

Perlu diingat bahwa pengobatan yang dilakukan penting untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis kulit Anda. Segera hubungi dokter yang menangani Anda, jika setelah melakukan pengobatan muncul gejala iritasi kulit, perubahan warna kulit menjadi lebih gelap, dan perubahan lainnya.

Salah satu hal utama yang perlu diingat dalam pengobatan dan pencegahan melasma adalah mencegah paparan dengan sinar matahari. Jangan lupa untuk menggunakan sunblock setiap hari, dan sebaiknya digunakan ulang setiap dua jam. Penggunaan topi, terutama topi berukuran lebar juga baik untuk mencegah paparan sinar matahari.

 

Categories
Uncategorized

Nyeri Payudara waspada mastitis

Mastitis merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan inflamasi atau peradangan pada jaringan payudara. Keadaan ini mungkin disertai infeksi, namun bisa juga terjadi tanpa adanya infeksi.

Mastitis sering kali dialami oleh ibu menyusui, yang dikenal dengan istilah mastitis laktasi atau mastitis puerperium. Kondisi ini sering kali terjadi pada tiga bulan pertama setelah melahirkan, namun bisa muncul hingga dua tahun setelah melahirkan.

Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, dapat muncul mastitis periduktal. Pria juga bisa terkena mastitis, meskipun sangat jarang ditemui. Umumnya, hanya satu payudara yang terkena kondisi ini.

Penyebab Mastitis

Pada ibu menyusui, mastitis sering kali disebabkan saluran susu yang tersumbat. Hal ini menyebabkan keadaan stasis dari ASI, di mana ASI yang diproduksi tidak dapat dikeluarkan dari payudara. Keadaan stasis sendiri dapat dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya latch on yang kurang baik saat menyusui, bayi yang kesulitan menyedot ASI dari payudara, dan kebiasaan menyusui yang tidak teratur.

Selain itu, dapat terjadi sumbatan saluran ASI akibat tekanan pada payudara. Misalnya akibat pakaian yang terlalu ketat. Keadaan stasis menyebabkan rentan muncul infeksi pada payudara. ASI sendiri tidak mengandung bakteri, namun bakteri dari permukaan kulit dapat masuk ke dalam jaringan payudara dan menyebabkan infeksi.

Pada wanita yang tidak menyusui, mastitis sering kali ditemukan pada wanita perokok berusia 20-an akhir hingga awal 30-an. Keadaan ini dinamakan mastitis periduktal dan dipercaya disebabkan kerusakan duktus akibat merokok. Mastitis juga bisa terjadi setelah melakukan tindik pada puting, terutama jika tidak dilakukan oleh tenaga profesional.

Diagnosis Mastitis

Mastitis mudah dikenali melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Data mengenai kebiasaan menyusui sangat membantu. Oleh sebab itu, jangan ragu untuk menjawab dengan jujur pertanyaan dokter seputar kebiasaan menyusui Anda.

Jika diperlukan, sampel ASI Anda dapat diambil untuk diperiksa. Hal ini terutama penting apabila gejala mastitis cukup parah. Gejala mastitis sering kali kambuh atau keadaan Anda tidak membaik setelah mengonsumsi antibiotik.

Jika Anda tidak menyusui, maka diperlukan pemeriksaan penunjang untuk mengevaluasi mastitis. Bentuk pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain mamografi atau USG payudara. Hal ini mungkin diperlukan untuk membedakan mastitis dengan suatu tipe kanker payudara (inflammatory breast cancer) yang memiliki gejala serupa.

Gejala Mastitis

Gejala yang mungkin ditemukan pada penderita mastitis antara lain:

  • Bagian payudara memerah dan bengkak
  • Area payudara tersebut nyeri apabila disentuh
  • Area payudara tertentu teraba panas
  • Benjolan pada payudara
  • Keluar cairan berwarna putih atau bercampur darah dari putting
  • Sensasi terbakar pada payudara, bisa dirasakan terus menerus atau hanya saat menyusui
  • Gejala serupa flu
  • Demam dan menggigil
  • Kelelahan
  • Tubuh terasa pegal atau nyeri
  • Rasa cemas, merasa stres

Pengobatan Mastitis

Beberapa hal yang dapat segera Anda lakukan apabila curiga terkena mastitis adalah:

  • Kosongkan payudara yang terkena mastitis. Menyusuilah lebih sering dari biasanya dan awali dengan payudara yang terkena. Tak perlu khawatir, ASI tetap aman dikonsumsi bayi.
  • Gunakan pakaian dan bra yang longgar. Bila perlu, hindari penggunaan bra untuk sementara waktu.
  • Gunakan kompres dingin pada payudara untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Sesaat sebelum menyusui, Anda bisa menggunakan kompres hangat.
  • Beristirahat sebanyak mungkin.
  • Jika gejala tidak membaik dalam 12–24 jam, segera berkonsultasi dengan dokter. Bila disertai infeksi, umumnya dokter akan meresepkan antibiotik, yang harus dikonsumsi hingga habis.

Pencegahan Mastitis

Selain itu, penting untuk mengetahui langkah mencegah mastitis, Upaya yang bisa dilakukan yaitu:

  • Memastikan latch onyang baik antara bayi dan payudara, serta bayi bisa menyusu dengan baik.
  • Menyusui sesering mungkin, mengikuti keinginan bayi.
  • Hindari menunda atau melewatkan waktu menyusui.
  • Jangan ragu membangunkan bayi untuk menyusui, terutama jika payudara terasa penuh.
  • Hindari tekanan pada payudara. Misalnya dengan menghindari penggunaan pakaian ketat.
  • Istirahat sebanyak mungkin.
  • Bergantian sisi payudara saat mulai menyusui. Misalnya jika saat ini diawali payudara kanan, maka berikutnya diawali payudara kiri.
  • Hindari memberikan bayi cairan lain