Categories
Uncategorized

Pencegahan dan Pengobatan Hemokromatosis

Hemokromatosis adalah kelainan metabolis, di mana tubuh menyimpan terlalu banyak zat besi. Pada dasarnya zat besi merupakan nutrisi penting yang sumbernya berasal dari aneka jenis makanan. Zat besi ini kemudian bertugas membawa oksigen di dalam hemoglobin darah.

Akan tetapi, jumlah zat besi yang terlalu banyak di dalam tubuh justru mengganggu. Bila tidak diatasi, penumpukan ini dapat merusak sendi, organ tubuh, atau bahkan menyebabkan kematian.

Beberapa penyakit yang dapat terjadi karena hemokromatosis yang tidak terdiagnosis dan tidak tertangani adalah:

  • Artritis (osteoartritis, osteoporosis)
  • Sirosis hati atau kanker hati
  • Warna kulit menjadi coklat, kemerahan, atau keabu-abuan
  • Detak jantung tidak teratur, jantung membesar atau gagal jantung
  • Diabetes, hipotiroid, hipogonadisme (infertilitas atau impotensi)
  • Limpa membesar
  • Kanker

Penyebab Hemokromatosis

Ada dua tipe hemokromatosis:

  • Tipe pertama adalah hemakromatosis primer (klasik) yang juga paling sering terjadi. Kelainan mutasi genetik ini diturunkan dalam keluarga. Penderita menyerap zat besi secara berlebihan dari makanan sehari-hari. Pada kondisi normal, tubuh biasanya menyerap sekitar 8–10% zat besi dari makanan.
    Penderita hemokromatosis dapat menyerap zat besi empat kali lebih banyak daripada kondisi tubuh yang normal. Sayangnya, tubuh tidak bisa membuang sendiri zat besi yang berlebihan itu. Akibatnya terjadi penumpukan zat besi pada organ seperti jantung, hati, pankreas, sendi, dan kelenjar pituitary.
    Biasanya pada laki-laki, gejala ini dialami di usia antara 40–60 tahun. Sedangkan pada wanita dapat muncul setelah menopause. Pada tipe primer ini ada tipe khusus lagi, yaitu hemokromatosis juvenile (terjadi pada usia 15–30 tahun) dan neonatal (bayi).
  • Tipe kedua adalah hemokromatosis sekunder. Penumpukan zat besi pada kondisi ini terjadi karena penyakit lain seperti:
  • Anemia
  • Penyakit hati kronis
  • Terlalu sering melakukan transfusi darah
  • Dialisis ginjal atau cuci darah

Diagnosis Hemokromatosis

Sulit untuk menentukan diagnosis hemokromatosis karena gejalanya memiliki banyak kemiripan dengan penyakit lain. Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis.

Pemeriksaan tersebut di antaranya adalah pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar zat besi dalam darah. Bisa juga dilakukan tes DNA untuk memeriksa mutasi genetik. Kadangkala diperlukan pula biopsi hati untuk melihat adanya zat besi atau kerusakan hati. Organ hati ini perlu lebih awal diperiksa karena zat besi tersimpan paling banyak di hati.

Gejala   Hemokromatosis

Gejala hemokromatosis bervariasi pada tiap individu. Bahkan banyak yang tidak menyadarinya. Gejala hemokromatosis yang paling sering ditemui adalah kelelahan kronis dan nyeri sendi. Sayangnya gejala ini juga sering muncul pada penyakit lain sehingga diagnosis sering terlambat.

Gejala yang cukup khas dari hemokromatosis adalah the iron fist yaitu nyeri pada buku jari telunjuk dan tengah. Namun, tidak semua penderita mengalami gejala ini.

Gejala lainnya meliputi:

  • Lemah
  • tidak bersemangat
  • nyeri perut
  • kehilangan gairah seks atau impotensi
  • jantung berdebar-debar
  • detak jantung tidak teratur
  • nyeri sendi

Pengobatan Hemokromatosis

Pengobatan hemokromatosis adalah dengan phlebotomi atau proses mengeluarkan darah. Prosedur ini dapat dilakukan secara rutin untuk mengeluarkan zat besi yang berlebihan.

Pada awalnya phlebotomi dapat dilakukan 2 kali seminggu. Setelah itu memungkinkan untuk dilakukan 4–6 kali per tahun. Meski bermanfaat, prosedur ini tidak cukup populer atau disukai karena memiliki efek samping seperti: lelah, nyeri, dan anemia akibat terlalu banyak darah yang dikeluarkan.

Terapi lain adalah pengobatan chelating. Obat ini bisa diminum atau disuntikkan ke tubuh. Obat tersebut bekerja dengan membuang zat besi melalui air seni dan saat buang air besar.

Pencegahan  Hemokromatosis

Prinsipnya hemakromatosis primer tidak bisa dicegah. Risiko akan meningkat pada kondisi seperti adanya riwayat keluarga, merupakan ras Eropa, dan pada wanita post menopause.

Sedangkan hemokromatosis sekunder dapat dihindari dengan menghindari faktor risikonya seperti: konsumsi alkohol, melakukan cek bila ada riwayat diabetes dalam keluarga, mengalami gangguan jantung dan penyakit hati, serta berlebihan mengkonsumsi suplemen zat besi atau vitamin C.

 

Categories
Uncategorized

Radang Kelopak mata

Radang Kelopak mata atau blefaritis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya peradangan pada kelopak mata. Peradangan paling sering terjadi pada tepi kelopak mata. Radang tersebut melibatkan folikel dan beberapa kelenjar-kelenjar di daerah kelopak mata.

Penderita blefaritis akan merasakan gatal, nyeri atau panas pada kelopak matanya. Meski demikian, penglihatan penderitanya masih dirasakan normal.
Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan kondisi tubuh dan hieginitas penderitanya. Oleh karena itu, menjaga kebersihan tubuh dan kondisi badan merupakan salah satu cara yang dianjurkan untuk menghindari penyakit ini.

Terdapat 2 jenis radang kelopak mata atau blefaritis, yaitu:

  1. Blefaritis anterior. Peradangan mengenai kelopak mata bagian luar depan (tempat melekatnya bulu mata). Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus dan seborheik.
  2. Blefaritis posterior. Peradangan mengenai kelopak mata bagian dalam (bagian kelopak mata yang lembab dan bersentuhan dengan mata). Penyebabnya adalah kelainan pada kelenjar minyak. Dua penyakit kulit yang bisa menyebabkan blefaritis posterior adalah rosasea dan ketombe pada kulit kepala (dermatitis seboreik).

Komplikasi:

Komplikasi yang bisa terjadi pada radang kelopak mata atau blefaritis adalah:

  • Blefarokonjungtivitis, yaitu peradangan yang meluas dari kelopak mata hingga ke bagian konjunktiva.
  • Madarosis, yaitu sebuah keadaan dimana bulumata didapati rontok. Ini diakibatkan karena folikel rambut yang telah meradang mengalami kerusakan sehingga tidak mampu menopang bulu mata.
  • Trikiasis, yaitu keadaan bulu mata melengkung kedalam. Ini diakibatkan tepi bawah kelopak mata yang meradang dapat mendorong bulu mata yang semula kebawah menjadi ke atas hingga masuk ke dalam mata.

Diagnosis Radang Kelopak Mata

Penentuan diagnosis pada radang kelopak mata atau blefaritis dilakukan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Lewat pemeriksaan akan dilakukan pengecekan terhadap:

  • Kelopak mata → Biasanya terasa bengkak, gatal, merah dan kadang nyeri.
  • Bagian dalam → Terkadang bagian ini juga ikut merah.
  • Kerak disekitar kelopak mata.
  • Skuama (sisik halus) atau krusta (keropeng) pada tepi kelopak mata. Jika krusta dilepaskan, bisa terjadi perdarahan.
  • Bulu mata rontok.

Gejala Radang Kelopak Mata

Gejala yang sering dikeluhkan oleh penderita radang kelopak mata atau blefaritis di antaranya:

  • Gatal pada tepi kelopak mata
  • Rasa panas dan nyeri pada tepi kelopak mata
  • Kelopak terlihat merah dan terasa hangat saat disentuh
  • Terbentuknya sisik halus dan keropeng terutama di sekitar dasar bulu mata
  • Kadang disertai kerontokan bulu mata (madarosis), putih pada bulu mata (poliosis), dan bulu mata melengkung ke dalam (trikiasis)
  • Dapat keluar cairan yang mengering selama tidur, sehingga ketika bangun kelopak mata sukar dibuka

Faktor yang memperberat seseorang mengalami radang kelopak mata atau blefaritis ialah:

  • Kelainan pada kulit, misalnya dermatitis seboroik (ketombe)
  • Higienesitas personal dan lingkungan yang kurang baik
  • Penyakit metabolik dan penurunan daya tahan tubuh, seperti diabetes mellitus dan HIV

Pengobatan Radang Kelopak Mata

Penanganan radang kelopak mata atau blefaritis yang bisa dilakukan antara lain:

  • Non-medikamentosaa → Membersihkan kelopak mata dengan lidi kapas yang dibasahi air hangat. Kompres hangat selama 5-10 menit. Selain itu membersihkan dengan sampo bayi atau sabun wajah juga bisa dilakukan.
  • Medikamentosa → Apabila ditemukan luka pada kelopak mata, dapat diberikan salep atau tetes mata antibiotik hingga gejala menghilang. Jika terasa nyeri maka dapat diberikan obat antinyeri.

Apabila didapati gejala yang berat, biasanya diberikan pula antibiotik dan obat radang minum. Jika ditemukan penyebab lain yang memicu timbulnya penyakit tersebut, contoh diabetes dan HIV, maka disarankan untuk rutin melakukan kontrol pada dokter dan minum obat secara teratur.

Penyebab Radang Kelopak Mata

Penyebab radang kelopak mata atau blefaritis adalah:

  • Blefaritis superfisial, disebabkan oleh bakteri staphylococcus.
  • Blefaritis seboroik, disebabkan oleh higienitas yang kurang dan produksi kelenjar meibom berlebih.
  • Blefaritis skuamosa, yaitu blefaritis yang disertai adanya keropeng krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan terjadinya luka kulit. Penyebab blefaritis skuamosa adalah kelainan metabolik ataupun oleh jamur.
  • Blefaritis ulseratif, merupakan blefaritis akibat infeksi staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng berwarna kekuning-kuningan yang bila diangkat akan mengeluarkan darah di sekitar bulu mata. Biasanya disebabkan kuman stafilokokus.
  • Blefaritis angularis, merupakan infeksi staphylococcus pada sudut tengah kelopak mata. Infeksi ini dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi saluran air mata. Blefariris angularis disebabkan Staphylococcus aureus.
  • Meibomianitis, merupakan infeksi pada kelenjar meibom (kelenjar penghasil minyak pada kulit). Disebabkan oleh virus herpes zooster, virus herpes simplek, infeksi jamur.

 

Categories
Uncategorized

Penyebab bau mulut

Halitosis adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki aroma napas tak sedap. Di masyarakat, gangguan ini lebih dikenal dengan istilah bau mulut. Gangguan ini merupakan salah satu masalah yang sering dialami banyak orang. Pada dasarnya bau mulut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bau mulut karena sebab yang wajar dan bau mulut karena sebab yang tidak wajar. Bau mulut karena sebab yang wajar misalnya aroma napas pagi hari atau saat Anda sedang berpuasa. Sedangkan bau mulut karena sebab yang tidak wajar biasanya berhubungan dengan gangguan kesehatan yang lebih serius.

Halitosis sering dianggap sebagai hal yang memalukan. Jika tidak segera ditangani, bau mulut dapat menurunkan kepercayaan diri Anda. Bahkan bukan tidak mungkin juga halitosis yang diabiarkan bisa menurunkan kualitas hidup Anda.

Diagnosis Bau Mulut atau Halitosis

Dianosis halitosis atau bau mulut dilakukan lewat serangkaian wawancara dan pemeriksaan fisik menyeluruh pada rongga mulut dan gigi. Pemeriksaan juga dilakukan pada area hidung dan tenggorokan –jika terdapat luka.

Bila dicurigai adanya kemungkinan penyakit sistemik, maka diperlukan adanya pemeriksaan pendukung lainnya. Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah:

  • Endoskopi
  • Rontgen perut
  • Rontgen dada

Gejala Bau Mulut atau Halitosis

Gejala halitosis yang paling mudah dikenali adalah:

  • Terciumnya aroma napas yang tidak sedap dari dalam mulut
  • Mulut terasa kering
  • Adanya lapisan berwarna putih di permukaan lidah yang memungkinkan bakteri untuk berkembang

Pengobatan Bau Mulut atau Halitosis

Halitosis atau bau mulut karena sebab yang waajr (seperti aroma napas saat bangun tidur) dapat diatasi dengan menyikat gigi. Namun, halitosis karena sebab yang tidak wajar memerlukan penanganan yang lebih serius.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah halitosis:

  • Sikat gigi dua kali sehari. Waktu yang paling tepat untuk melakukannya adalah di pagi hari (setelah sarapan) dan malam hari (sebelum tidur).
  • Ganti sikat gigi setelah 3 sampai 4 bulan. Jika sebelum waktunya mengganti sikat gigi telah rusak dan tidak nyaman digunakan, segera ganti.
  • Lakukan pembersihan permukaan lidah secara teratur. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan sikat gigi yang lembut atau tongue cleaner.
  • Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi.Anda juga bisa menggunakan mouthwash untuk membersihkan area yang sulit dijangkau sikat gigi.
  • Pemakaian mouthwash (obat kumur) antibakteri dapat membantu mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut. Misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.
  • Lakukan scaling (pembersihan karang gigi).
  • Segera perbaiki dan tambal gigi yang berlubang.
  • Berhentilah merokok dan penggunaan produk tembakau.
  • Perbanyak minum air putih untuk menjaga kelembaban rongga mulut.
  • Konsumsi permen karet bebas gula untuk merangsang air liur agar dapat membantu membersihkan sisa makanan serta bakteri.
  • Perhatikan pola makan. Hindari atau kurangi makanan yang dapat memicu bau mulut.
  • Bersihkan gigi palsu dan lepaskan saat tidur di malam hari.
  • Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk pemeriksaan rutin dan pembersihan.

Penyebab Bau Mulut atau Halitosis

Halitosis dapat disebabkan oleh banyak hal. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kebersihan mulut yang buruk. Tanpa pembersihan mulut yang baik, sisa makanan akan tertinggal dalam mulut. Hal ini dapat memicu berkembangnya bakteri dalam mulut dan di permukaan lidah yang menyebabkan bau pada mulut. Selain itu, sisa makanan yang menempel pada gigi, gusi, dan lidah akan menyebabkan gingivitis (radang gusi) dan gigi berlubang. Akibatnya terjadi peningkatan bau mulut dan rasa yang tidak enak di dalam mulut.
  • Pembersihan gigi tiruan yang kurang baik. Gigi tiruan yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menyebabkan penumpukan sisa makanan dan bakteri di permukaan gigi tiruan. Hal ini bisa memicu munculnya bau yang tidak sedap.
  • Penyakit gusi atau jaringan periodontal (jaringan penyangga gigi).
  • Penyakit sistemik. Bau mulut dapat merupakan salah satu gejala dari penyakit tertentu, misalnya infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, diabetes, atau kelainan pada hati.
  • Xerostomia (mulut kering). Pemakaian beberapa obat-obatan tertentu dapat menyebabkan mulut menjadi kering, terutama obat-obatan untuk mengatasi depresi dan tekanan darah tinggi. Xerostomia juga dapat disebabkan oleh kelainan pada kelenjar ludah sehingga produksi ludah menurun. Selain itu, kebiasaan bernapas lewat mulut juga dapat menyebabkan mulut cenderung menjadi lebih kering.
  • Merokok

 

Categories
Uncategorized

Pencegahan Munculnya tahi lalat

Tahi lalat, atau secara medis disebut nevus pigmentosus, merupakan gangguan pigmen di kulit. Tahi lalat umumnya berwarna kecokelatan, namun dapat pula berwarna hitam atau justru sewarna dengan kulit. Tahi lalat dapat rata dengan permukaan kulit, dapat pula lebih tinggi dari kulit sekitarnya.

Tahi lalat dapat bertambah atau berkurang jumlahnya. Pada wanita, munculnya tahi lalat sering berhubungan dengan perubahan hormonal. Tahi lalat sering muncul saat wanita hamil dan saat sudah menopause.

Sebagian besar kasus tahi lalat tidak mengganggu kesehatan sama sekali. Namun ada pula tahi lalat yang merupakan tanda kanker kulit.

Penyebab Tahi Lalat

Tahi lalat terjadi akibat melanosit (sel yang memproduksi pigmen kulit) berkumpul di satu lokasi. Hal ini menyebabkan melanin (pigmen kulit) di daerah tersebut menjadi lebih banyak sehingga warna kulitnya berbeda dengan kulit sekitarnya.

Pada sebagian besar kasus tahi lalat, berlebihnya jumlah melanosit tersebut merupakan bawaan lahir.

Diagnosis Tahi Lalat

Bila menemukan tahi lalat, yang paling penting adalah dapat membedakan apakah tahi lalat tersebut merupakan tahi lalat biasa atau tanda kanker kulit. Pertanyaan berikut ini diperlukan untuk membedakannya:

  • Apakah tahi lalat disertai gejala nyeri, gatal, atau sensasi terbakar?
  • Apakah warna dan bentuk tahi lalat tidak merata?
  • Apakah tahi lalat terlihat membesar dengan cepat?
  • Apakah tahi lalat berdarah terus menerus?
  • Apakah tahi lalat terlihat memerah dan bengkak?

Bila ada salah satu pertanyaan yang dijawab “ya”, maka ada kemungkinan tahi lalat tersebut merupakan tanda kanker kulit. Untuk memastikannya, dokter akan melakukan biopsi dengan cara mengangkat tahi lalat dan melihatnya di bawah mikroskop.

Sementara itu, bila semua pertanyaan tersebut dijawab “tidak”, maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena tahi lalat tersebut aman.

Gejala Tahi Lalat

Tahi lalat biasanya berwarna kecokelatan, dapat berbentuk oval atau bulat. Ukuran tahi lalat dapat sangat bervariasi, mulai dari sebesar lubang jarum hingga seluas tangan. Tahi lalat umumnya tidak menimbulkan gejala apa pun.

Bila terdapat gejala pada tahi lalat, seperti nyeri, gatal, terasa seperti terbakar, berdarah, atau membesar dengan cepat, hal ini harus diwaspadai karena kemungkinan tahi lalat tersebut merupakan tanda kanker kulit.

Pengobatan Tahi Lalat

Sebagian besar tahi lalat adalah hal yang aman sehingga tidak membutuhkan pengobatan sama sekali. Namun bila ada kecurigaan kanker kulit, tahi lalat tersebut harus diangkat melalui tindakan pembedahan.

Pencegahan Tahi Lalat

Tahi lalat yang terjadi akibat bawaan lahir tidak dapat dicegah. Sementara itu, tahi lalat sebagai tanda dari kanker kulit dapat dicegah dengan cara melakukan pemeriksaan tahi lalat dengan rutin dan membatasi paparan sinar ultraviolet (umumnya didapatkan dari paparan sinar matahari di atas pukul 09.00).

 

Categories
Uncategorized

Pencegahan Mata juling

Mata juling atau dalam dunia medis disebut strabismus merupakan kondisi ketika posisi mata tidak berada dalam posisi seimbang atau sama antara mata kiri dengan mata kanan. Satu mata bisa melihat dengan lurus sedangkan mata lainnya melihat ke arah lain, bisa ke dalam, ke luar, ke atas maupun ke bawah.

Mata juling cukup bayak terjadi pada usia anak-anak. Sebagian kasus merupakan keturunan dari orang tua. Sebagian lain tidak terdapat riwayat mata juling salam sekali dalam garis keturunan kesehatan keluarganya.

Penyebab Mata Juling

Untuk dapat melihat fokus dan jelas, kedua mata memerlukan kerja otot-otot penglihatan secara sinergis. Bila salah satu dari otot-otot tersebut lemah atau terganggu, fokus pandang ini pun akan terpengaruh.

Pada anak-anak, karena sejak awal terdapat dua fokus pandang, otak pun beradaptasi hanya mengindahkan pandangan dari mata yang lurus. Sedangkan pandangan dari mata yang mengalami gangguan fokus diabaikan.

Berbeda halnya bila mata juling terjadi saat dewasa. Otak yang terbiasa menyinergikan dua mata dengan fokus yang sama menjadi kebingungan. Sering kali dua persepsi pandang ini mengakibatkan penglihatan ganda yang sangat mengganggu penderitanya.

Mata juling pada anak lebih sering terjadi pada kondisi berikut:

  • Cerebral palsy
  • Sindrom Down
  • Hidrocefalus
  • Tumor otak
  • Prematur

Katarak atau benturan pada mata juga kerap melatarbelakangi terjadinya mata juling.

Diagnosis Mata Juling

Diagnosis mata juling ditentukan atas dasar pemeriksaan fisik. Pada anak yang mengalami mata juling, biasanya secara fisik terlihat mata yang tidak terfokus pada titik yang sama. Pantulan cahaya yang ada pada tengah pupil pun jatuh pada titik yang berbeda.

Sebagai screening awal mata juling, anak-anak berusia tiga sampai lima tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh. Karena pada prinsipnya mata juling dapat diatasi asalkan mendapat rangkaian terapi sedini mungkin.

Gejala Mata Juling

Mata juling mudah dikenali dengan adanya perbedaan posisi dan arah pandang antara mata kanan dan kiri. Sebagian anak dengan mata juling harus mengernyitkan satu mata ketika melihat dalam terang atau menengadahkan kepala agar dapat melihat suatu objek dengan jelas.

Pengobatan Mata Juling

Pengobatan dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan fungsi kedua mata agar dapat melihat dengan jelas dan fokus menggunakan kedua mata tersebut. Pada kasus tertentu diperlukan operasi untuk memperbaiki otot mata yang terganggu.

Pada kasus ketika terjadi mata malas, dokter bisa memberikan penutup pada mata yang sehat agar mata yang mengalami juling dapat ‘dipaksa’ untuk bekerja dengan baik.

Komplikasi Mata Juling

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi bila mata juling tidak ditangani dengan tepat adalah mata malas atau ambliopia. Mata malas terjadi bila otak terbiasa menggunakan hanya satu mata yaitu mata sehat untuk mempersepsikan obyek. Lama-kelamaan mata yang mengalami juling akan semakin menurun kerjanya dan bukan tidak mungkin kehilangan kemampuan melihat.

Pencegahan Mata Juling

Mata juling umumnya tidak dapat dicegah. Namun, pencegahan terhadap komplikasi mata juling dapat dilakukan dengan deteksi dini dan penanganan sesegera mungkin secara tepat. Bayi yang baru lahir dan anak hingga usia tiga tahun juga harus menjalani pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk mengevaluasi kemampuan penglihatannya.