Categories
Uncategorized

Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan eklampsia ?

Eklampsia adalah kelainan pada masa kehamilan, saat persalinan, atau setelah persalinan. Kondisi ini merupakan komplikasi berat dari preeklampsia, yang ditandai dengan timbulnya kejang dan dapat disertai koma.

Eklampsia setelah persalinan umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan. Sebanyak 50-60% kasus terjadi selama masa kehamilan. Sementara itu, sekitar 30-35% kasus terjadi saat persalinan dan sekitar 10% terjadi setelah persalinan.

Komplikasi yang mungkin terjadi pada eklampsia, antara lain:

  • Perdarahan
  • Komplikasi hati
  • Komplikasi ginjal
  • Kuning atau jaundice (mata dan kulit kuning)
  • Koma
  • Kelahiran prematu
  • Lepasnya plasenta dari dinding Rahim
  • Kerusakan otak akibat kejang

Gejala Eklampsia

Eklampsia bisa menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang kepala, yang diikuti dengan peningkatan tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut terus-menerus dan tidak berkurang dengan pemberian aspirin atau obat sakit kepala lain.
  • Gangguan penglihatan. Penderita akan melihat kilatan-kilatan cahaya, pandangan kabur, dan terkadang bisa terjadi kebutaan sementara.
  • Mudah gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara berisik atau gangguan lainnya.
  • Nyeri perut pada bagian kanan atas.
  • Tanda-tanda umum preeklampsia (tekanan darah tinggi, bengkak pada wajah atau tangan, dan adanya protein di dalam urine).
  • Kejang-kejang yang bisa diikuti dengan koma.

Penyebab Eklampsia

Eklampsia biasanya terjadi jika preeklampsia tidak diobati atau tidak diketahui sebelumnya. Selain itu, juga ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan eklampsia, yaitu:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Sering sakit kepala.
  • Kehamilan pada usia di atas 35 tahun.
  • Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun.
  • Kehamilan kembar.
  • Kehamilan pertama.
  • Riwayat diet yang buruk atau malnutrisi.
  • Diabetes atau kondisi lain yang memengaruhi pembuluh darah.

Diagnosis Eklampsia

Bila sebelumnya Anda sudah didiagnosis mengalami preeklampsia, dokter akan menyarankan pemeriksaan pendukung. Tujuannya adalah untuk melihat kemungkinan preeklampsia memburuk atau kambuh.

Namun, jika sebelumnya Anda tidak memiliki preeklampsia, maka dokter akan melakukan pemeriksaan eklampsia saja. Jenis-jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk menentukan penyebab kejang selama kehamilan adalah:

  • Tes darah. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui jumlah trombosit dan faktor pembekuan darah.
  • Tes urine. Tujuannya adalah untuk memeriksa kemungkinan adanya protein dalam urine.
  • Uji kreatinin. Kadar kreatinin (limbah yang diciptakan oleh otot dan seharusnya disaring oleh ginjal) yang tinggi dalam darah menunjukkan preeklampsia.

Diagnosis untuk menentukan bahwa telah terjadi eklampsia dapat dilakukan dengan cara:

  • Pemeriksaan fisik. Pada tahap awal yang berlangsung 30-35 detik, tangan dan kelopak mata bergetar, mata terbuka dengan pandangan kosong. Tahap selanjutnya adalah kejang.
  • Pemeriksaan tanda vital. Adanya peningkatan tekanan darah diastol 110 mmHg. Ujung-ujung jari terlihat kebiruan. Dapat ditemukan adanya tanda-tanda paru terendam cairan, yang bisa disertai dengan gagal jantung.
  • Pemeriksaan penunjang. Dokter akan melakukan pemeriksaan urine untuk melihat adanya protein dalam urine.

Pengobatan Eklampsia

Pengobatan untuk mengatasi kejang eklampsia tidak jauh berbeda dengan pengobatan preeklampsia berat. Namun, jika kejang-kejang terjadi lagi, maka kemungkinan dokter akan memberikan obat antikejang.

Tujuan pengobatan dari eklampsia adalah:

  • Untuk menghentikan dan mencegah kejang.
  • Untuk mencegah dan mengatasi tekanan darah tinggi.
  • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi dengan seoptimal mungkin.
  • Untuk mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin

Pencegahan Eklampsia

Pencegahan eklampsia dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan yang disarankan dokter. Selain itu, pastikan Anda cukup beristirahat dan selalu awasi setiap perubahan pada kondisi tubuh.

Jika sebelumnya Anda sudah didiagnosis preeklampsia, maka melakukan terapi preeklampsia dengan baik dapat membantu mencegah eklampsia.

 

Categories
Uncategorized

Waspada efusi pleura

Efusi pleura adalah berkumpulnya cairan abnormal dalam rongga pleura. Pleura itu sendiri merupakan membran tipis yang melapisi paru-paru dan dinding dada. Di antara pleura yang melapisi paru-paru dan dinding dada itu terdapat rongga pleura. Secara normal, terdapat cairan dalam jumlah sedikit pada rongga ini yang berfungsi sebagai pelumas antara kedua pleura saat pergerakan paru-paru semasa bernapas.

Penyebab Efusi Pleura

Penumpukan cairan di rongga pleura atau efusi pleura bisa disebabkan oleh:

  • Penyakit dan peradangan pada paru-paru, seperti pneumonia, tuberkulosis, kanker paru, atau edema paru.
  • Gagal jantung.
  • Protein yang rendah dalam darah, menyebabkan cairan mudah keluar dari pembuluh darah dan bisa tekumpul dalam rongga pleura. Contohnya adalah pada kondisi sirosis hati dan penyakit ginjal.
  • Penurunan laju penyerapan dari saluran getah bening, misalnya karena penyumbatan saluran getah bening akibat adanya keganasan atau trauma.

Diagnosis Efusi Pleura

Untuk menentukan diagnosis efusi pleura, dibutuhkan evaluasi menyeluruh. Evaluasi bisa dilakukan melalui pengumpulan informasi dari pasien dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang yang berguna adalah dengan pemeriksaan sinar X thorax. Pengambilan sampel cairan dapat membantu mendiagnosis penyebab dari efusi pleura.

Gejala Efusi Pleura

Gejala yang paling sering dialami oleh penderita efusi pleura adalah sesak napas. Saat terjadi efusi pleura, cairan dalam rongga pleura menyebabkan paru-paru tidak dapat mengembang sempurna saat menarik napas. Akibatnya terjadi sesak napas yang merupakan gejala paling umum.

Selain sesak, efusi pleura dapat menimbulkan gejala batuk. Umumnya, batuk yang dialami ringan dan tidak berdahak. Namun, jika disebabkan oleh pneumonia, bisa terjadi  gejala batuk berdahak. Nyeri dada juga dapat dikeluhkan penderita efusi pleura. Hal ini umumnya berkaitan dengan iritasi pada pleura.

Pengobatan Efusi Pleura

Jika penyebab efusi pleura sudah diketahui, maka upaya penanganan biasanya diarahkan pada penyebab utama tersebut. Misalnya pemberian OAT (obat anti tuberkulosis) pada pasien tuberkulosis, pemberian antibiotik untuk pasien pneumonia, atau pemberian diuretik pada kasus gagal jantung.

Untuk mengeluarkan cairan yang berlebih dapat dilakukan thorakotomi dengan memasukkan selang ke rongga pleura. Selang tersebut akan mengalirkan cairan yang berlebih agar keluar dari rongga pleura.

Pencegahan Efusi Pleura

Efusi Pleura merupakan efek dari gangguan kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penumpukan cairan kadangkala merupakan kondisi yang sulit dicegah.

 

Categories
Uncategorized

Tidak bisa mengontrol emosi ? apakah ada gangguan kepribadian ?

Gangguan kepribadian adalah kondisi ketika seseorang berpikir, merasa, berperilaku, bertindak atau berhubungan dengan orang lain secara unik. Bahkan bisa menyimpang atau bertolak belakang dengan perilaku orang lain pada umumnya. Banyak jenis gangguan kepribadian yang mungkin terjadi. Tetapi secara umum, gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga kelas, yaitu

  • Kelas pertama adalah perilaku aneh atau eksentrik.
  • Kelas kedua adalah perilaku dramatik, emosional, dan tak menentu.
  • Kelas ketiga adalah perilaku cemas dan ketakutan.

Penyebab Gangguan Kepribadian

Penyebab gangguan kepribadian belum bisa dijelaskan dengan pasti. Gangguan ini diperkirakan disebabkan oleh gabungan beberapa faktor seperti : genetik dan lingkungan, yaitu adanya faktor riwayat trauma karena kekerasan.

Diagnosis Gangguan Kepribadian

Dokter menentukan diagnosis gangguan kepribadian dari gejala-gejala penderita. Pemeriksaan lebih lanjut dan detail akan dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan melalui percakapan mendalam. Berdasarkan wawancara medis yang dilakukan tersebut, dokter akan merekomendasikan metode pengobatan. Untuk penderita di bawah 18 tahun, gejala harus ada setidaknya selama satu tahun.

Gejala   Gangguan Kepribadian

Gejala gangguan kepribadian sangat bervariasi bergantung dari jenisnya:

Kelas 1

Gangguan kepribadian paranoid

  • Penderita sulit untuk percaya pada orang lain karena takut dimanfaatkan.
  • Bersikap sangat berhati-hati dalam berhubungan dengan orang lain karena takut dikhianati.
  • Memperhatikan ancaman atau bahaya yang tidak diperhatikan oleh orang normal.

Gangguan kepribadian schizoid

  • Penderita tidak tertarik untuk menjalin hubungan dekat dengan orang lain, termasuk keluarga, karena merasa akan terganggu kebebasannya dan akan menimbulkan banyak masalah.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Berperilaku dingin terhadap orang lain.
  • Tidak tertarik pada hubungan intim.

Gangguan kepribadian schizotypal

  • Sulit menjalin hubungan dekat dengan orang lain.
  • Mereka berpikir dan mengungkapkan diri mereka dengan cara yang dianggap aneh oleh orang lain.
  • Berperilaku eksentrik.
  • Mereka percaya dapat membaca pikiran orang lain atau memiliki kekuatan khusus seperti indra keenam.
  • Merasakan kecemasan jika orang lain tidak sependapat.
  • Merasa sangat cemas dan paranoid bila harus berada di situasi sosial.

Kelas 2

Gangguan kepribadian antisosial

  • Penderita mudah frustrasi dan sulit mengendalikan amarah.
  • Selalu menyalahkan orang lain atas masalah dalam kehidupan.
  • Bisa bersikap agresif dan kasar serta mengganggu orang lain dengan perilaku mereka.
  • Berperilaku berbahaya dan melawan hukum.

Gangguan kepribadian borderline (gangguan yang paling umum ditemui)

  • Penderita mengalami masalah dalam berpikir, memiliki perilaku impulsif, dan masalah dalam mengendalikan emosi.
  • Mereka mungkin memiliki hubungan yang intens namun tidak stabil dan sangat cemas orang akan meninggalkannya.
  • Memiliki pikiran bunuh diri dan sering merasa kesepian.

Gangguan kepribadian histrionic

  • Penderita tidak merasa nyaman ketika tidak menjadi pusat perhatian.
  • Mereka merasa harus menghibur orang lain.
  • Orang lain bisa memandangnya perilakunya sebagai dramatis atau terlalu berlebihan dalam menampakkan emosi.
  • Bergantung pada persetujuan orang lain.
  • Mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Gangguan kepribadian narsisitik

  • Penderita merasa berbeda atau lebih baik dari orang lain.
  • Mereka bergantung pada orang lain karena memiliki kepercayaan diri yang rapuh.
  • Tidak suka jika diabaikan oleh orang lain.
  • Tidak menyukai keberhasilan orang lain.
  • Mendahulukan kepentingan pribadi dan sering dinilai egois
  • Memanfaatkan orang lain.

Kelas 3

Gangguan kepribadian avoidant

  • Penderita sering menghindari pekerjaan atau kegiatan sosial dengan orang lain
  • Sangat sensitif terhadap kritik
  • Khawatir terus-menerus jika ditolak
  • Khawatir ditertawakan atau dipermalukan orang lain
  • Menghindari hubungan, persahabatan, dan keintiman karena takut penolakan
  • Merasa kesepian dan terisolasi, dan inferior terhadap orang lain
  • Menolak mencoba aktivitas baru karena takut mempermalukan diri sendiri.

Gangguan kepribadian dependent

  • Penderita merasa membutuhkan dan tidak dapat mengambil keputusan tanpa bantuan orang lain
  • Membiarkan orang lain memikul tanggung jawab atas banyak aspek kehidupan
  • Menyetujui hal-hal yang dirasa salah
  • Tidak suka kesendirian atau kehilangan dukungan seseorang
  • Memiliki kepercayaan diri yang rendah
  • Melihat orang lain lebih mampu
  • Dinilai orang lain pasif dan terlalu patuh

Gangguan kepribadian obsesif kompulsif

  • Penderita menjaga segala sesuatu agar teratur
  • Menetapkan standar tinggi yang tidak realistis untuk diri sendiri dan orang lain
  • Khawatir bila Anda atau orang lain mungkin membuat kesalahan
  • Mengharapkan malapetaka jika keadaannya tidak sempurna
  • Enggan mengeluarkan uang untuk diri sendiri atau orang lain
  • Memiliki kecenderungan untuk menggantung barang yang tidak memiliki fungsi atau nilai yang jelas.

Pengobatan Gangguan Kepribadian

Pengobatan gangguan kepribadian biasanya meliputi terapi berbincang mendalam. Penderita berbicara dengan terapis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai pemikiran, perasaan, dan perilaku mereka. Terapis juga mendengarkan dan mendiskusikan masalah penting dengan penderita untuk mencari solusinya.

Terapi biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang sulit ditentukan, minimal tiga bulan, namun juga tergantung pada tingkat keparahan gangguan mental tersebut. Obat-obatan yang mungkin dibutuhkan termasuk antidepresan dan antipsikotik tergantung dari gangguan kepribadian yang terjadi.

Pencegahan Gangguan Kepribadian

Belum ada cara jitu untuk mencegah gangguan kepribadian. Tetapi terdapat beberapa kiat yang dapat membantu meringankan kondisi penderita dengan gangguan kepribadian, seperti:

  • Lebih mengenal kondisi gangguan kepribadian tersebut
  • Berolahraga secara teratur
  • Menghindari alkohol dan narkoba
  • Menulis buku harian
  • Memeriksa kesehatan secara rutin
  • Melakukan kegiatan relaksasi –seperti yoga, meditasi, dan sejenisnya
  • Tetap berhubungan dengan teman dan keluarga
  • Bergabung dengan kelompok pendukung

 

Categories
Uncategorized

Ketahui Penyebab Lepra

Penyakit lepra, yang juga dikenal dengan sebutan penyakit kusta atau Morbus Hansen, adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobakterium leprae. Penyakit ini menyerang saraf tepi (primer), kulit, dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. Serangan pada sistem saraf akan menyebabkan penderitanya mati rasa.

Dahulu penyakit ini sempat menjadi salah satu penyakit yang sangat ditakuti. Meski demikian, penyakit kusta sebenarnya dapat diobati dan dicegah.

Penyebab Lepra

Penyakit lepra disebabkan oleh serangkan bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini termasuk jenis bakteri yang hanya dapat berkembang pada beberapa sel manusia dan hewan tertentu. Cara penularan bakteri M. lepraeadalah melalui cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderitanya batuk atau bersin.

Selain bakteri M. leprae, ada beberapa faktor lain yang turut menjadi faktor risiko, seperti:

  • Melakukan kontak fisik secara rutin dengan penderita lepra
  • Melakukan kontak secara langsung dengan hewan penyebar bakteri M. leprae tanpa pelindung, seperti sarung tangan
  • Tinggal di daerah endemik lepra
  • Mengalami cacat genetik pada sistem kekebalan tubuh

Diagnosis Lepra

Untuk menentukan diagnosis lepra, dokter akan melakukan serangkaian wawancara medis dan melakukan pemeriksaan fisik secara langsung untuk menemukan gejala umum yang khas. Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut.

Gejala Lepra

Gejala penyakit lepra yang dapat dikenali antara lain:

  • Bentol kemerahan
  • Mati rasa, seperti kehilangan sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulit
  • Terjadi pembesaran pembuluh darah, biasanya di sekitar lutut dan siku
  • Terjadi perubahan bentuk wajah
  • Sering mengalami mimisan
  • Hilangnya jari jemari

Pengobatan Lepra

Untuk penanganan penyakit lepra, dokter akan memberikan obat-obatan antibiotik sesuai dengan jenis lepra yang diderita. Pengobatan diberikan secara teratur selama 6 bulan dan diselesaikan dalam waktu maksimal 19 bulan.

Pembedahan dapat dilakukan sebagai proses lanjutan dengan tujuan:

  • Menormalkan fungsi saraf yang rusak
  • Memperbaiki bentuk tubuh penderita yang mengalami perubahan
  • Mengembalikan fungsi anggota tubuh penderitanya

Pencegahan Lepra

Karena penyakit lepra termasuk penyakit yang akan menular, terutama pada orang dengan imunitas yang rendah, maka kontak yang erat dengan penderita perlu dibatasi. Selain itu juga perlu menjaga sistem imunitas tubuh dengan berolahraga rutin dan mengonsumsi makanan bergizi.

Berikut ini adalah rekomendasi untuk mencegah penularan kusta:

  • Segera melakukan pengobatan sejak dini secara rutin terhadap penderita kusta, agar bakteri yang dibawa tidak menyebar
  • Menghindari atau mengurangi kontak fisik dengan jangka waktu yang lama
  • Meningkatkan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan
  • Meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh, dengan cara berolahraga dan meningkatkan pemenuhan nutrisi.
  • Usahakan tidak meludah sembarangan, karena basil bakteri masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet
Categories
Uncategorized

Mencegah Cantengan

Cantengan merupakan kondisi kuku bagian tepi yang menancap ke kulit, sehingga kulit dan jaringan di bawah kulit menjadi bengkak dan kemerahan. Cantengan dapat terjadi di kuku jari manapun, tetapi yang tersering adalah pada ibu jari kaki.

Penyebab cantengan belum diketahui dengan pasti. Namun, orang yang menggunakan alas kaki yang sempit atau ketat, cara menggunting kuku yang tidak tepat (kuku dipotong terlalu pendek atau terlalu melengkung), luka di jari atau kuku, infeksi jamur di kaki, dan faktor keturunan merupakan hal-hal yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami cantengan.

Diagnosis Cantengan

Umumnya dokter hanya perlu melakukan pemeriksaan terhadap kuku untuk dapat memastikan diagnosis cantengan. Namun, bila cantengan disertai dengan peradangan yang hebat atau luas, terkadang dibutuhkan foto rontgen untuk melihat apakah tulang ikut mengalami infeksi akibat cantengan.

Gejala Cantengan

Gejala utama yang dirasakan adalah nyeri hebat pada kulit sekitar kuku yang terkena. Selain itu, jari juga menjadi bengkak, keras, dan kemerahan. Bila cantengan telah terjadi lebih dari 1 minggu, dapat tumbuh jaringan (semacam daging) di tepi kuku. Jika cantengan disertai infeksi, bisa keluar nanah di sekitar kuku.

Pengobatan Cantengan

Bila cantenganbaru terjadi selama kurang dari 1 minggu, penderitanya dapat mencoba melakukan pengobatan di rumah dahulu, dengan cara:

  • Rendam kaki atau tangan yang mengalami cantengan dengan air hangat selama 10–15 menit 3–4 kali dalam sehari. Tidak perlu menambahkan garam, sabun, antiseptik, atau zat apa pun ke dalam air.
  • Setelah direndam, cobalah untuk mengangkat bagian tepi kuku yang menancap menggunakan cotton bud. Bila berhasil terangkat, sisipkan kapas atau dental floss untuk mempertahankan bagian tepi kuku tetap terangkat. Cara ini akan menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat, lakukanlah dengan perlahan.
  • Cuci kaki atau tangan yang terkena dengan air mengalir dan sabun dua kali sehari. Setelah itu, keringkan dengan handuk bersih yang berbahan lembut. Pastikan kaki dalam kondisi kering dan tidak lembap sepanjang hari.
  • Hindari penggunaan sepatu, usahakan menggunakan sandal hingga cantengan teratasi.

Bila keluhan akibat cantengan tidak membaik setelah melakukan keempat usaha tersebut dalam 3 hari, sebaiknya penderita berobat ke dokter.

Umumnya cantengan lebih efektif diatasi dengan dilakukan operasi “kecil” (bedah minor), dengan cara memotong dan mengambil bagian tepi kuku yang menancap ke kulit. Bila seluruh kuku di jari tersebut terlihat tidak sehat (kuku tebal, keras, permukaannya tidak rata), dokter dapat mencabut kuku di jari tersebut.

Agar tindakan ini nyaman dan tidak menyakiti pasien, akan diberikan obat anestesi lokal di sekitar kuku sebelum operasi dilakukan. Tindakan pengambilan bagian kuku, baik sebagian kuku atau seluruhnya, umumnya dapat dilakukan dengan rawat jalan saja.

Di samping itu, dokter akan menilai apakah cantengan disertai dengan infeksi bakteri atau jamur. Bila terdapat tanda infeksi bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik. Sementara itu, jika ada tanda infeksi jamur, maka dokter akan memberikan obat antijamur.

Meski sudah diobati, sekitar 10–30% kasus cantengan dapat berulang. Lakukan tindakan pencegahan yang baik agar cantengan tak timbul lagi.

Pencegahan Cantengan

Untuk mencegah cantengan, hal-hal berikut ini sebaiknya dilakukan:

  • Gunakan alas kaki yang cukup longgar, khususnya di daerah jari-jari. Usahakan alas kaki tidak menekan jari, tidak menyebabkan jari-jari saling berhimpitan saat berjalan.
  • Guntinglah kuku dengan lurus, tidak melengkung (bagian tepi kuku tidak lebih pendek).
  • Bila kuku jari keras dan tebal, rendamlah jari-jari di dalam air hangat selama 10–15 menit sebelum menggunting kuku.