Categories
Uncategorized

Kenali Penyebab Stroke

Stroke adalah kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Stroke bisa berupa iskemik (sumbatan) maupun perdarahan (hemoragik). Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena adanya sumbatan atau bekuan darah yang menyumbat suatu pembuluh darah. Sedangkan pada stroke hemoragik, pembuluh darah pecah dan menyebabkan terhamatnya aliran darah yang normal serta darah keluar ke jaringan otak. Hampir 70 persen kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.

Diagnosis Stroke

Penentuan diagnosis stroke dapat dilakukan lewat pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Pemeriksaan tanda- tanda vital
  • Pemeriksaan fisik secara umum (dari ujung kepala hingga ujung kaki)
  • Pemeriksaan saraf.

Gejala Stroke

Gejala stroke dapat diingat lebih mudah dengan kata FAST. Masing-masing terdiri dari singkatan gejalanya:

  • F atau Face (wajah). Mintalah orang tersebut untuk tersenyum. Apakah ada sisi sebelah wajah yang tertinggal? Apakah wajah atau matanya terlihat jereng atau tidak simetris? Jika ya, orang tersebut mungkin saja sedang mengalami stroke.
  • A atau Arms (tangan). Mintalah orang tersebut untuk mengangkat kedua tangan. Apakah ia mengalami kesulitan untuk mengangkat salah satu atau kedua tangannya? Apakah salah satu atau kedua tangannya dapat ditekuk?
  • S atau Speech (perkataan). Mintalah orang tersebut untuk berbicara atau mengulangi suatu kalimat. Apakah bicaranya terdengar tidak jelas atau pelo? Apakah ia kesulitan atau tidak berbicara? Apakah ia memiliki kesulitan untuk memahami yang Anda katakan?
  • T atau Time (waktu). Jika ia memiliki seluruh gejala yang disebutkan di atas, orang tersebut mungkin mengalami stroke. Ingat, stroke merupakan keadaan darurat. Anda harus segera membawa orang tersebut ke rumah sakit. Ingat juga untuk mencatat kapan orang tersebut mengalami gejala- gejala tersebut.

Gejala stroke lainnya antara lain:

  • Pingsan
  • Kehilangan kesadaran
  • Kelumpuhan tiba- tiba wajah, tangan atau kaki, terutama pada sisi sebelah tubuh
  • Kesulitan melihat dengan salah satu atau kedua mata
  • Kesulitan berjalan
  • Gangguan koordinasi atau keseimbanga
  • Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidak mampuan untuk mengendalikan emosi.

Pengobatan Stroke

Penangan stroke biasanya dilakukan dengan pemberian oksigen dan pemasangan infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin).

Tetapi obat ini biasanya tidak diberikan pada penderita tekanan darah tinggi. Selain itu juga tidak boleh diberikan pada penderita dengan perdarahan otak, karena dapat menambah resiko terjadinya perdarahan dalam otak.

Selain itu kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika mengonsumsi obat tertentu yang berfungsi untuk menghancurkan bekuan darah. Biasanya diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sebagai catatan, sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.
Rehabilitasi intensif bisa membantu penderita untuk belajar mengatasi kelumpuhan/ kecacatan karena kelainan fungsi sebagian jaringan otak.

Bagian otak lainnya kadang bisa menggantikan fungsi yang sebelumnya dijalankan oleh bagian otak yang mengalami kerusakan.

Rehabilitasi segera dimulai setelah tekanan darah, denyut nadi dan pernafasan penderita stabil. Dilakukan latihan untuk mempertahankan kekuatan otot, mencegah kontraksi otot dan luka karena penekanan (akibat berbaring terlalu lama) dan latihan berjalan serta berbicara.

Penyebab Stroke

Terdapat berbagai penyebab stroke hemorhagik dan iskemik. Penyebab stroke hemorhagik antara lain:

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Koagulopati
  • Penggunaan obat pengencer darah
  • Malformasi atau gangguan pembuluh darah seperti: aneurisma, angioma cavernosa
  • Vaskulitis
  • Keganasan di otak

Penyebab stroke iskemik antara lain:

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Diabetes mellitus atau kencing manis
  • Penyakit jantung: atrial fibrilasi, gangguan katup, gagal jantung, stenosis mitral
  • Hiperkolesterolemia atau kolesterol tinggi
  • Stenosis karotis
  • Hyperhomocystinemia
  • Obesitas atau kegemukan
  • Gaya hidup: konsumsi alkohol berlebih, merokok, penggunaan obat- obatan terlarang
  • Sickle cell disease

 

Categories
Uncategorized

Tetanus dan pencegahannya

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani. Penyakit ini ditandai dengan peningkatan kekakuan umum dan kejang-kejang otot rangka.

Meski tetanus bisa dicegah, imunitas terhadap penyakit ini tidak berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu dibutuhkan injeksi booster jika seseorang mengalami luka yang rentan terinfeksi tetanus

Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita tetanus adalah sebagai berikut:

  • Kekakuan otot saluran pernapasan dan pita suara
  • Cedera tulang yang ditandai dengan pergeseran tulang hingga keluar dari posisi normalnya
  • Patah tulang
  • Infeksi pada paru
  • Gangguan saraf
  • Penurunan kesadaran hingga koma

Diagnosis Tetanus

Biasanya diagnosis tetanus hanya berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan secara umum. Seperti pemeriksaan tekanan darah, suhu tubuh, laju napas, dan denyut nadi. Untuk pasien tetanus tidak dibutuhkan pemeriksaan laboratorium. Namun, ketika pasien terdapat luka yang diduga terdapat infeksi tetanus, dapat dilakukan pemeriksaan bakteri di laboratorium untuk menukan keberadaan bakteri.

Gejala Tetanus

Penderita tetanus akan mengalami gejala-gejala seperti berikut ini:

  • Kaku pada bagian tubuh tertentu, seperti pada rahang dan perut hingga susah duduk
  • Kejang
  • Denyut nadi yang terlalu cepat
  • Susah menelan makanan atau minuman
  • Laju napas yang terlampau cepat
  • Peningkatan atau penurunan tekanan darah
  • Penurunan kesadaran

Pengobatan Tetanus

Untuk penanganan pasien tetanus, prosedur pengobatan tahap pertamanya adalah:

  • Letakkan pasien pada posisi yang aman dan nyaman
  • Jika pasien tidak sadar atau kejang, jangan berikan sendok atau memasukkan benda apa pun ke dalam mulut
  • Bantu pasien untuk melancarkan pernapasan dengan memiringkan posisi tubuh pasien. Hal ini dimaksudkan agar lidah terjatuh ke belakang
  • Segera hubungi rumah sakit atau instansi kesehatan terdekat

Jika sudah dilakukan prosedur pengobatan tahap pertama, berikut ini tahap lanjutan yang akan dilakukan oleh rumah sakit:

  • Antibiotik
    Jenis antibiotik yang diberikan adalah penisilin prokain, ampisilin, tetrasiklin, metronidazol, dan eritromisin. Bila pasien menderita radang paru, pasien dapat diberi tambahan obat jenis sefalosporin.
  • Netralisasi toksin
    Sebelum memberikan serum antitetanus (ATS) pada pasien, akan dilakukan uji serum terlebih dahulu pada kulit pasien. Bila rumah sakit memiliki human tetanus immunoglobulin, dapat diberikan juga kepada pasien sebagai tambahan.
  • Antikonvulsan
    Pemberian obat yang dapat mencegah atau mengurangi kejang (konvulsan) juga bisa dilakukan, seperti diazepam. Obat ini juga berfungsi untuk mengatasi rasa cemas.
  • Perawatan luka
    Dilakukan setelah pemberian antitoksin ATS dan antikonvulsan.
  • Terapi suportif
    Pada tahap ini, pasien akan dibebaskan jalan napasnya kemudian diberikan oksigen. Pemberian cairan dan nutrisi serta pemantauan juga akan dilakukan.

Pencegahan Tetanus
Untuk mencegah tetanus, sebaiknya Anda menerapkan hal-hal berikut ini:

  • Imunisasi secara rutin
    Termasuk imunisasi dasar difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) yang diberikan sebanyak tiga kali sejak usia 2 bulan. Imunisasi ini dilakukan dengan jarak 4-6 minggu, yang kemudian dilakukan kembali pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
  • Penanganan luka segera
    Jika mengalami luka, segera bersihkan dan berikan cairan antitetanus untuk menghindari infeksi. Terutama pada luka dalam, seperti terkena besi, terjatuh di tempat kotor, atau digigit anjing.

Penyebab Tetanus

Tetanus timbul akibat dari serangan bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini biasanya hidup di tanah, debu, dan kotoran hewan. Bakteri bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka dan tumbuh lebih cepat di area yang kekurangan oksigen. Jadi, semakin dalam dan semakin sempit lukanya, akan semakin sedikit oksigen yang berada di sekitarnya, dan kemungkinan terjadinya tetanus semakin besar.

 

Categories
Uncategorized

Benjolan di anus ? hati hati wasir

Wasir atau dalam bahasa medis disebut hemoroid, merupakan suatu kondisi dimana terjadi pelebaran dari pembuluh darah yang berlokasi di sekitar anus. Pembuluh darah anus yang melebar ini seringkali teregang hebat, menipis, dan teriritasi. Kondisi tersebut terutama terjadi bila faktor-faktor risiko terus berulang (contohnya sering mengalami buang air besar yang keras). Hal inilah yang berujung pada terjadinya komplikasi wasir yaitu kondisi anemia hingga syok, bila terjadi perdarahan yang begitu banyak dari pembuluh darah yang teriritasi tersebut.

Terdapat dua klasifikasi wasir:

  • Interna → Pada kondisi ini, wasir yang terbentuk berlokasi cukup dalam sehingga penderita tidak mampu melihat atau merasakan pelebaran pembuluh darah yang terjadi.
  • Eksterna → Wasir ini terbentuk dari pembuluh darah yang berlokasi lebih luar dari wasir interna. Saat mengeluarkan tinja, wasir sering timbul keluar sehingga mudah dilihat dan dirasakan penderitanya. Wasir eksterna biasanya menyebabkan penderita sangat tidak nyaman akibat mudahnya pembuluh darah teriritasi dan menimbulkan rasa nyeri.

Diagnosis Penyakit Wasir Ambeien

Untuk menentukan diagnosis wasir, maka dokter akan melakukan serangkaian alur diagnosis yang dimulai dari wawancara. Dalam wawancara, dokter akan menggali keluhan-keluhan yang Anda rasakan. Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan fisik, yaitu pemeriksan secara menyeluruh oleh dokter. Detail pemeriksaan yang penting untuk dilakukan meliputi pemeriksaan area anus untuk memastikan penyebab keluhan adalah wasir. Anda mungkin saja diinstruksikan untuk mengedan saat pemeriksaan.

Selain melihat gambaran area anus (mencari benjolan), pemeriksaan juga mungkin disertai tindakan colok dubur (memasukkan jari ke dalam anus untuk memeriksa permukaan dalam anus) untuk kecurigaan wasir interna. Selain itu, pemeriksaan akan dilengkapi pula dengan pencarian adanya tanda-tanda telah terjadinya anemia sebagai komplikasi wasir (terdapat pucat pada konjungtiva mata). Pemeriksaan penunjang bisa saja dibutuhkan bila hasil pemeriksaan fisik belum memuaskan. Misalnya karena wasir di dalam/ interna, terdapat rencana tindakan operatif pada wasir, maupun untuk mencari kemungkinan lain penyebab perdarahan dari anus (yang paling diwaspadai adalah kondisi kanker usus besar).

Pemeriksaan penunjang tersebut adalah anoskopi, sigmoidoskopi dan kolonoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan alat yang dilengkapi oleh kamera ke dalam anus, untuk melihat gambaran dalam area usus besar bagian bawah secara jelas dan mendetail.

Gejala Penyakit Wasir Ambeien

Berikut adalah gejala-gejala yang umumnya timbul akibat wasir :

  • Munculnya darah segar menetes dari anus saat buang air besar
  • Gatal pada anus
  • Nyeri timbul akibat teriritasinya wasir akibat bergesekan dengan pakaian atau saat duduk. Nyeri hebat juga dapat timbul bila terdapat pembekuan darah pada wasir
  • Tampak benjolan lembab di area anus yang berwarna merah muda (lebih terang) dari area sekitarnya
  • Muncul benjolan keluar dari anus pasca buang air besar, benjolan dapat masuk sendiri atau harus didorong terlebih dahulu
  • Pucat, mudah lemas, tidak mudah konsentrasi, bila telah terjadi komplikasi anemia akibat perdarahan yang berlebihan

Pengobatan Penyakit Wasir Ambeien

Bila Anda mengalami tanda dan gejala telah terjadi wasir, maka hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah seberapa berat derajat wasir yang diderita. Bila wasir tersebut tidak tampak (hanya dirasakan), masih dapat masuk dengan sendirinya, maka Anda masih dapat menunda kunjungan ke dokter.

Hal yang terpenting, upayakan perbaikan gaya hidup untuk mencegah agar wasir tidak memberat. Pencegahan ini juga penting bagi Anda yang belum pernah menderita wasir:

  • Menjaga konsistensi tinja agar tidak keras, yaitu dengan mengonsumsi asupan makanan yang tinggi kandungan serat (misalnya buah-buahan, sayur-sayuran, gandum utuh, dll)
  • Cukupkan asupan cairan Anda
  • Hindari menunda proses buang air besar. Segeralah buang air besar saat Anda merasakan tanda-tandanya, sebab tinja yang tersimpan lama di usus besar akan terus mengalami penyerapan air sehingga konsistensinya akan mengeras seiring jalannya waktu
  • Hindari mengedan terlalu kuat dan terlalu lama sat buang air besar
  • Tingkatkan aktivitas fisik karena memiliki pengaruh atas kelancaran pencernaan Anda
  • Hindari melakukan aktivitas yang memperlama waktu duduk di atas jamban (membaca, merokok) karena meningkatkan tekanan dan mempermudah terjadinya wasir
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal
  • Hindari mengangkat beban yang terlalu berat, terutama ditambah kebiasaan menahan napas (mengedan) saat mengangkat beban berat tersebut

Lain halnya jika wasir disertai keluhan ketidaknyamanan yang begitu mengganggu Anda, menimbulkan perdarahan yang banyak, atau wasir telah menonjol keluar dan tidak dapat masuk sama sekali. Biasanya Anda akan disarankan untuk segera mengunjungi dokter untuk memperoleh penanganan.

Bila Anda mengalami perdarahan dari anus untuk pertama kalinya, maka Anda juga disarankan untuk memperoleh pemeriksaan dari dokter karena perdarahan lewat anus dapat pula disebabkan oleh berbagai penyakit lain seperti polip usus besar, kanker usus besar, atau penyakit Chron’s.

Penyebab Penyakit Wasir Ambeien

Penyebab terjadinya wasir hingga saat ini diyakini sebagai kombinasi adanya faktor keturunan (genetik). Selain itu juga terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat mencetuskan terjadinya wasir.

Adapun faktor-faktor risiko tersebut adalah sebagai berikut :

  • Usia tua
  • Sembelit berulang (konstipasi kronik)
  • Sering mengedan saat buang air besar
  • Kehamilan
  • Tekanan dalam perut yang meningkat (misalnya karena adanya tumor)
  • Kurang mencukupi kebutuhan serat dan cairan
  • Obesitas
  • Mengalami penyakit batuk kronik (dalam jangka waktu lama)

 

Categories
Uncategorized

Awas, Orang dewasa juga bisa cacingan

Cacingan merujuk pada infeksi cacing dalam tubuh manusia. Terdapat tiga kelompok cacing yang dikenal dapat menginfeksi manusia, yaitu:

  • Platyhelminthes atau cacing pipih, terdiri dari: Trematode, misalnya Schistosima japonicum. Pada manusia umumnya hidup dalam darah dan sering ditemukan di daerah tropis yang panas.
    Cestoda, misalnya Taenia soliumTaenia Saginata. Hidup dalam saluran pencernaan manusia dan memakan makanan yang sudah tercerna sebagian dalam usus manusia.
  • Acanthocephalins, yang umumnya menyerang sistem gastro-instestinal (pencernaan) manusia.
  • Nematoda, yang dapat menyerang saluran gastro-intestinal, darah, sistem limfatik, dan jaringan subkutan manusia. Contohnya adalah Wuchereria bancroftiBrugia malayiAscaris lumbricoidesTrichuris trichiura. Cacing ini sering ditemukan pada hewan peliharaan, misalnya anjing dan kucing. Hewan peliharaan tersebut kemudian dapat menularkan infeksi cacing pada manusia.

Penyebab Cacingan

Ada berbagai cara cacing menginfeksi manusia hingga akhirnya menyebabkan seseorang mengalami cacingan, seperti:

  • Menyentuh objek yang memiliki telur cacing (terutama jika Anda tidak mencuci tangan setelahnya)
  • Menyentuh tanah, mengonsumsi makanan atau cairan yang mengandung telur cacing
  • Berjalan tanpa menggunakan alas kaki di atas tanah yang mengandung cacing
  • Makan makanan mentah atau kurang matang yang mengandung cacing

Diagnosis Cacingan

Pengumpulan informasi dari penderita dan pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menentukan diagnosis cacingan. Selanjutnya, akan dilakukan tindakan untuk menemukan sampel cacing, misalnya cacing dewasa atau telur cacing. Hal ini akan membantu proses penentuan diagnosis.

Sering kali sampel feses diperlukan untuk memeriksa adanya telur cacing. Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan sampel darah, misalnya dalam kasus filariasis (kaki gajah).

Metode diagnosis yang dilakukan dapat berbeda-beda, hal ini bergantung dari jenis cacing yang menginfeksi.

Gejala Cacingan

Gejala cacingan sangat beragam, bergantung pada jenis cacing yang menginfeksi. Namun, beberapa hal berikut bisa menjadi pertanda adanya cacingan:

  • Menemukan cacing dalam feses atau saat buang air besar
  • Memiliki ruam kemerahan, gatal, dan berbentuk seperti cacing pada kulit
  • Mengalami diare atau sakit perut selama lebih dari dua minggu
  • Terkadang juga terdapat keluhan konstipasi/ sembelit
  • Perut yang terlihat bengkak atau mengalami perut kembung
  • Mengalami penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas
  • Gatal hebat pada area anus, terutama pada malam hari
  • Reaksi pada kulit, seperti ruam, biduran, dan reaksi alergi lainnya pada kulit
  • Rasa gelisah dan kecemasan, timbul karena adanya iritasi akibat zat beracun dan sisa metabolisme cacing kepada sistem saraf pusat manusia
  • Merasa lelah dan kurang tenaga
  • Nyeri sendi dan otot
  • Pada anak dapat timbul gejala tumbuh kembang yang terhambat dan malnutrisi
  • Kaki gajah dan beberapa gejala lainnya

Pengobatan Cacingan

Pengobatan yang dilakukan pada penderita cacingan umumnya dilakukan dengan mengonsumsi obat cacing yang diminum selama satu hingga tiga hari. Penghuni rumah yang sama dengan penderita cacingan bisa saja memerlukan konsumsi obat cacing juga.

Pencegahan Cacingan

Sebagai tindakan untuk mencegah cacingan, perlu Anda perhatikan beberapa hal berikut:

  • Menjaga kebersihan dan membiasakan diri untuk mencuci tangan. Terutama setelah menggunakan kamar kecil, sebelum makan, atau mempersiapkan makanan. Bawalah cairan disinfektan yang dapat digunakan sepanjang hari.
  • Cuci buah dan sayur hingga bersih sebelum dimasak.
  • Masak makanan hingga matang. Perhatikan bahwa berbagai sumber protein perlu suhu tertentu untuk mencapai kematangan masing-masing.
  • Konsumsi air putih dalam kemasan atau air putih yang matang.
  • Berikan obat cacing pada hewan peliharaan secara rutin, terutama untuk anjing dan kucing.
  • Buang kotoran hewan peliharaan di tempat sampah secepatnya. Gunakan masker dan sarung tangan saat melakukan hal ini.
  • Selalu gunakan alas kaki.
  • Simpan alas kaki yang digunakan untuk aktivitas luar ruangan di luar rumah

 

Categories
Uncategorized

Kenali Gejala Gangguan Elektrolit

Dalam tubuh manusia, secara normal terdapat beberapa jenis elektrolit seperti natrium (sodium), kalium (potasium), kalsium, klorida, magnesium, dan fosfat. Elektrolit ini terdapat di dalam darah, cairan tubuh, dan urine.

Selain itu, tubuh juga mendapatkan elektrolit ini melalui asupan makanan, minuman, atau suplemen. Elektrolit dalam jumlah yang normal dibutuhkan tubuh agar sel bisa menjalankan semua fungsinya dengan baik.

Gangguan elektrolit terjadi bila salah satu atau beberapa jenis elektrolit berada dalam kadar yang rendah atau berlebihan dari kadar normal. Umumnya gangguan elektrolit tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dicetuskan oleh kondisi medis tertentu. Pada keadaan gangguan elektrolit yang berat, kondisi yang berbahaya seperti penurunan kesadaran, kejang, bahkan henti jantung mendadak bisa terjadi.

Secara medis, beberapa jenis kondisi spesifik untuk gangguan elektrolit terdiri dari:

  • Hipernatremia (kelebihan natrium di dalam darah)
  • Hiponatremia (kekurangan natrium di dalam darah)
  • Hiperkalsemia (kelebihan kalsium di dalam darah)
  • Hipokalsemia (kekurangan kalsium di dalam darah)
  • Hiperfosfatemia (kelebihan fosfat di dalam darah)
  • Hipofosfatemia (kekurangan fosfat di dalam darah)
  • Hiperkalemia (kelebihan kalium di dalam darah)
  • Hipokalemia (kekurangan kalium di dalam darah)
  • Hipermagnesemia (kelebihan magnesium di dalam darah)
  • Hipomagnesemia (kekurangan magnesium di dalam darah)
  • Hiperkloremia (kelebihan klorida di dalam darah)
  • Hipokloremia (kekurangan klorida di dalam darah)

Penyebab Gangguan Elektrolit

Terdapat banyak penyebab gangguan elektrolit Namun penyebab yang paling sering adalah karena tubuh kehilangan cairan dalam jumlah yang banyak, seperti melalui muntah, diare, atau keringat yang sangat berlebihan.

Selain itu, penyebab lain dari gangguan elektrolit adalah:

  • Luka bakar yang luas
  • Efek samping obat tertentu seperti obat golongan diuretik yang digunakan untuk mengobati hipertensi atau gagal jantung
  • Gagal ginjal, baik akut maupun kronik
  • Gangguan hormon paratiroid, bisa berupa hiperparatiroid maupun hipoparatiroid
  • Kanker
  • Efek samping kemoterapi
  • Malnutrisi dan diet yang berlebihan
  • Gagal hati (sirosis)
  • Gangguan hormon tiroid, bisa berupa hipertiroid maupun hipotiroid

Diagnosis Gangguan Elektrolit

Dokter akan melakukan wawancara terkait keluhan yang dialami penderita dan mencari kemungkinan penyebab gangguan elektrolit. Selain itu, pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk pemeriksaan saraf dan otot juga perlu dilakukan.

Selanjutnya untuk memastikan adanya gangguan elektrolit, dokter akan meminta penderita untuk melakukan pemeriksaan darah untuk melihat kadar masing-masing elektrolit di dalam darah.

Gejala Gangguan Elektrolit

Gejala gangguan elektrolit sangat tergantung seberapa berat gangguan yang dialami. Jika kadar elektrolit hanya meningkat atau berkurang sedikit dari normal, umumnya tidak ada gejala apa pun yang terjadi. Namun bila kadarnya berubah cukup signifikan, maka berbagai gejala dapat terjadi.

Tidak semua jenis gangguan elektrolit menimbulkan gejala yang sama, namun umumnya banyak gejala serupa yang terjadi, seperti:

  • Gangguan irama jantung, dapat berupa denyut jantung terlalu lambat (bradikardia), denyut jantung terlalu cepat (takikardia), atau denyut jantung tidak teratur.
  • Lemas dan mudah lelah
  • Mual dan muntah
  • Kejang
  • Diare
  • Sembelit
  • Kram perut
  • Kelemahan otot hingga tangan dan kaki jadi sulit digerakkan
  • Sakit kepala
  • Penurunan kesadaran, bahkan hingga tingkat koma
  • Baal atau kesemutan

Jika salah satu keluhan ini terjadi, maka penanganan segera perlu dilakukan. Jika dibiarkan terlalu lama, gangguan elektrolit yang satu dapat mengganggu komponen elektrolit lainnya, dan bisa berujung pada kondisi gawat yang mengancam nyawa.

Pengobatan Gangguan Elektrolit

Pengobatan spesifik untuk gangguan elektrolit tergantung pada jenis elektrolit yang terganggu dan jenis gangguan yang dialami tubuh (kelebihan atau kekurangan elektrolit). Namun secara umum, ada beberapa pengobatan yang biasa dilakukan untuk mengatasi gangguan elektrolit yaitu:

  • Pemberian cairan melalui pembuluh darah vena

Pemberian cairan melalui infus umumnya dilakukan pada kondisi gangguan elektrolit yang disebabkan karena kehilangan cairan tubuh (muntah, diare, dan lain-lain). Cairan yang biasanya diberikan adalah natrium klorida.

  • Pemberian obat elektrolit melalui pembuluh darah vena

Jika terjadi kondisi kekurangan elektrolit yang berat, untuk dapat mengatasinya dalam waktu cepat, perlu dilakukan pemberian elektrolit yang disuntikkan melalui pembuluh darah vena.

  • Pemberian obat elektrolit oral

Pemberian elektrolit melalui tablet yang diminum umumnya diberikan pada kondisi gangguan elektrolit yang bersifat kronik, seperti pada kondisi gagal ginjal kronik atau pada penyakit hipoparatiroidisme (kekurangan hormon paratiroid yang menyebabkan kalsium dalam darah berada dalam jumlah yang lebih rendah dari seharusnya).

  • Hemodialisis

Tindakan hemodialisis (cuci darah) perlu dilakukan pada kondisi gangguan elektrolit yang berat, yang tidak bisa diatasi dengan pemberian obat-obatan. Tindakan ini umumnya diperlukan pada kondisi kelebihan kalium di dalam darah (hiperkalemia) yang mengakibatkan jantung berdenyut tidak teratur.

Pencegahan Gangguan Elektrolit

Tidak semua gangguan elektrolit bisa dicegah. Namun kondisi gangguan elektrolit yang disebabkan karena kehilangan cairan tubuh dapat dicegah dengan cara mengonsumsi oralit bila mengalami muntah atau diare, serta mengonsumsi air putih dalam jumlah yang cukup setiap hari untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

 

Categories
Uncategorized

Bintik putih, Panu ?

Panu adalah infeksi pada kulit yang ditandai dengan munculnya bercak putih hingga cokelat yang bersisik halus. Penyakit ini sering ditemukan pada daerah tropis dan subtropis yang bersuhu hangat dan lembap. Orang dari semua umur bisa terkena panu, terutama remaja.

Cara mencegah panu adalah dengan menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan hindari berbagi barang pribadi dengan orang lain (seperti handuk, celana dalam, dan baju).

Diagnosis Panu

Untuk mendiagnosis panu, dokter akan melakukan pemeriksaan pada bercak yang bersisik. Selain itu, ada juga pemeriksaan mikroskopis terhadap sampel kerokan sisik halus.

Gejala Panu

Gejala yang ditimbulkan dari panu antara lain:

  • Bercak yang berwarna lebih muda dari warna kulit sekitarnya pada orang dengan kulit berwarna, atau tampak sebagai bercak lebih gelap pada orang dengan kulit pucat.
  • Bentuknya bulat atau tidak beraturan, dapat berbatas tegas atau tidak tegas.
  • Jika diraba, terasa ada sisik halus dan tipis.
  • Bercak panu sering ditemukan pada kepala, muka, leher, bagian atas dada, ketiak, lengan, perut, lipat paha, dan kaki. Biasanya muncul pada daerah yang tertutup pakaian dan bersifat lembap.

Di samping itu, panu juga bisa menyebabkan gatal- gatal ringan, terutama saat berkeringat.

Pengobatan Panu

Panu termasuk penyakit yang mudah kambuh. Oleh karena itu, pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun, dan konsisten.

Pengobatan panu tersedia dalam bentuk obat oles berupa krim, salep, lotion, dan sampo. Anda dapat membeli obat oles yang dijual bebas di apotek atau swalayan. Sebelum menggunakan obat, cuci dan keringkan dahulu daerah panu. Oleskan obat secara tipis sebanyak 1- 2 kali sehari, selama 2 minggu.

Sampo untuk panu harus mengandung selenium sulfida 1.8%. Gosokkan sampo pada bercak panu dan diamkan selama 5- 10 menit sebelum dibilas dengan air. Gunakan 2- 3 kali seminggu.

Bila pengobatan topikal tidak berhasil, obat minum bisa diberikan. Umumnya obat minum perlu dikonsumsi setiap hari selama minimal 5- 10 hari, bergantung pada jenis obat. Jika panu tidak kunjung membaik atau bahkan memberat, sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter spesialis kulit.

Penyebab Panu

Panu disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Jamur ini sebenarnya dapat ditemukan pada kulit yang sehat. Namun, baru menyebabkan infeksi bila tumbuh secara berlebihan.

Pemicu tumbuhnya jamur secara berlebihan antara lain:

  • Kulit yang berkeringat dan berminyak
  • Cuaca yang panas dan lembap
  • Berusia remaja atau awal 20-an
  • Mengalami penurunan sistem imun tubuh

 

 

Categories
Uncategorized

Waspada katarak bisa menyerang usia muda

Katarak atau kekeruhan lensa merupakan kondisi terjadinya kekeruhan pada organ mata, yaitu lensa mata. Gangguan mata ini merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati di dunia saat ini.

Sebagian besar katarak atau kekeruhan lensa timbul pada usia tua sebagai akibat paparan terus menerus terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya. Beberapa hal yang dapat memengaruhinya adalah merokok, radiasi sinar ultraviolet, dan peningkatan kadar gula darah.

Katarak atau kekeruhan lensa yang tersering terjadi pada orang yang berusia tua disebut sebagai kekeruhan lensa atau katarak senilis (katarak terkait usia). Sejumlah kecil kekeruhan lensa atau katarak juga dapat berhubungan dengan penyakit mata seperti glaukoma, ablasi, retinitis pigmentosa, trauma, uveitis, miopia tinggi, pengobatan tetes mata steroid, dan tumor intraokular.

Selain itu bisa juga dipengaruhi oleh penyakit sistemik spesifik. Misalnya diabetes, galaktosemia, hipokalsemia, steroid atau klorpromazin sistemik, rubela kongenital, distrofi miotonik, dermatitis atopik, sindrom Down, katarak turunan. Radiasi sinar X turut diduga dapat memengaruhi kekeruhan lensa mata.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat muncul pasca operasi tergolong rendah. Namun bila operasi katarak atau kekeruhan lensa mengalami komplikasi, maka mungkin saja terdapat kehilangan penglihatan sebagian maupun total.

Beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat operasi katarak atau kekeruhan lensa misalnya infeksi mata (endoftalmitis), pembengkakan dan terdapatnya cairan pada pusat lapisan saraf mata (edema makula sistoid), pembengkakan lapisan bening mata (edema kornea). Selain itu juga dapat terjadi komplikasi berupa perdarahan di depan mata (hifema), dan lepasnya lapisan retina mata (ablasio retina) akibat operasi katarak atau kekeruhan lensa. Sebagian orang juga dapat merasa silau pasca operasi kekeruhan lensa atau katarak .

Diagnosis Katarak

Penentuan diagnosis katarak atau kekeruhan lensa dilakukan lewat serangkaian wawancara dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa pemeriksaan lapang pandang (misalnya dengan melihat huruf pada jarak 6 m) yang biasanya memberikan hasil terdapatnya penurunan ketajaman penglihatan.

Selain itu terdapat pemeriksaan dengan menggunakan senter yang diarahkan pada samping mata, yang akan memperlihatkan kekeruhan pada lensa mata yang berbentuk seperti bulan sabit (shadow test positif).

Pemeriksaan tambahan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dengan alat slit lamp hingga pemeriksaan oftalmoskopi pada daerah retina. Hal ini dilakukan bila dicurigai adanya kelainan tambahan di berbagai organ lain dalam mata.

Gejala Katarak

Gejala katarak atau kekeruhan lensa yang sering dijumpai adalah penglihatan berkabut dan semakin kabur. Pada gejala awal dapat terjadi penglihatan jauh yang kabur dan penglihatan dekat sedikit membaik dibandingkan sebelumnya (second sight). Bila kualitas lensa memburuk atau terjadi kelelahan maka second sight ini akan menghilang. Gejala lain yang dijumpai pada kekeruhan lensa atau katarak senilis adalah peningkatan rasa silau (glare).

Pada lensa mata penderita katarak atau kekeruhan lensa akan tampak bayangan putih. Selain itu dapat pula terjadi pandangan ganda, rabun senja dan terkadang membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.

Pengobatan Katarak

Satu-satunya terapi untuk pasien katarak atau kekeruhan lensa adalah lewat prosedur bedah katarak. Pada terapi ini lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular (ICCE). Teknik ini jarang dilakukan lagi sekarang.

Ekstraksi ekstrakapsular (ECCE). Pada teknik ini, bagian depan kapsul dipotong dan diangkat, lensa dibuang dari mata, sehingga menyisakan kapsul bagian belakang. Lensa penganti buatan dapat dimasukkan ke dalam kapsul tersebut. Kejadian komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian belakang utuh.

Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi. Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran- getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5 mm).Ini akan mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi.

Apabila diperlukan pembedahan maka pengangkatan lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada 90% kasus. Sisanya mungkin telah mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius. Misalnya glaukoma (peningkatan tekanan bola mata), ablasio retina (lepasnya retina mata), atau infeksi yang menghambat pemulihan daya pandang.

Adanya lensa intraokular (dalam bola mata) menyebabkan penyesuaian penglihatan setelah operasi kekeruhan lensa atau katarak menjadi lebih mudah dibandingkan sewaktu hanya tersedia kacamata katarak yang tebal.

Penyebab Katarak

Plak yang mengeras tersebut menjadi karang gigi.Penyebab kekeruhan lensa atau katarak adalah sebagai berikut:

  1. Penuaan → Sudah sewajarnya setiap organ akan menua dan kehilangan fungsinya, begitu juga pada lensa mata. Penuaan adalah penyebab tersering dari kekeruhan lensa atau katarak.
  2. Riwayat trauma → Lensa mata yang pernah mengalami kerusakan saat muda. Misalnya akibat masuknya serpihan material tajam ke mata, terbentur bola, kembang api. Riwayat trauma akan membuat katarak muncul lebih cepat.
  3. Menderita penyakit tertentu → Adanya riwayat menderita penyakit tertentu berkaitan dengan kejadian katarak atau kekeruhan lensa di kemudian hari. Misalnya penyakit diabetes melitus (penyakit gula), hipokalsemia (kekurangan kalsium darah), dermatitis atopik (penyakit kulit alergi).
  4. Mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka waktu lama: Contohnya obat kortikosteroid (sering digunakan untuk obat antiperadangan) dan amiodaron (obat untuk mengatur irama jantung). Penggunaan obat-obat tersebut berkaitan dengan kejadian katarak atau kekeruhan lensa.
  5. Infeksi saat kehamilan. Katarak atau kekeruhan lensa juga dapat diderita sejak lahir, yaitu pada katarak kongenital. Katarak atau kekeruhan lensa dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata anak. Penyebab utamanya terutama berkaitan dengan infeksi selama kehamilan, khususnya rubela.
  6. Merokok
  7. Toksin/ racun

 

Categories
Uncategorized

Cegah Nyeri Ulu Hati

Nyeri ulu hati merupakan salah satu keluhan di mana seseorang merasakan adanya nyeri, sensasi rasa panas, atau rasa terbakar pada dada tengah. Terkadang, keluhan nyeri ulu hati dapat terasa lebih berat saat berbaring atau membungkuk. Nyeri ulu hati merupakan suatu gejala dan bukan penyakit secara tersendiri. Oleh sebab itu, sangat penting untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut guna menentukan kemungkinan penyebab yang mendasarinya.

Penyebab Nyeri Ulu Hati

Nyeri ulu hati dapat terjadi akibat adanya asam lambung yang naik ke esofagus, yakni saluran yang membawa makanan dari mulut ke lambung. Umumnya, saat seseorang menelan, cincin otot yang terdapat pada bagian bawah dari esofagus, yang disebut sebagai sfingter esophageal bawah, mengalami relaksasi agar makanan dan cairan yang dikonsumsi dapat masuk ke dalam lambung. Setelahnya, sfingter tersebut mengalami kontraksi lagi.

Namun, apabila sfingter esophageal bawah mengalami relaksasi yang abnormal atau kelemahan, asam lambung dapat naik kembali ke esofagus, yang disebut sebagai refluks asam lambung, dan menyebabkan seseorang mengalami nyeri ulu hati. Naiknya asam lambung dapat diperparah oleh posisi tubuh yang berbaring atau membungkuk.

Beberapa jenis makanan atau minuman dapat memicu timbulnya nyeri ulu hati pada sebagian orang, contohnya:

  • Makanan pedas
  • Bawang
  • Buah-buahan sitrus
  • Produk yang terbuat dari tomat, seperti saus tomat
  • Makanan berlemak atau makanan yang digoreng
  • Pepermin
  • Coklat
  • Alkohol, minuman bersoda, kopi, atau minuman lain yang mengandung kafein
  • Makanan dalam porsi besar

Gejala Nyeri Ulu Hati

Nyeri ulu hati merupakan suatu gejala dan bukan penyakit secara tersendiri. Umumnya, keluhan ini ditandai dengan adanya:

  • Rasa nyeri, panas, atau terbakar pada dada yang dapat timbul sebelum atau setelah mengonsumsi makanan, atau pada malam hari
  • Rasa nyeri pada dada yang memberat saat berbaring atau membungkuk

Diagnosis Nyeri Ulu Hati

Karena nyeri ulu hati merupakan suatu gejala, penting untuk menentukan diagnosis penyakit yang mendasarinya. Hal ini dapat dilakukan dengan wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik secara langsung, dan pemeriksaan penunjang tertentu bila dinilai diperlukan.

Beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:

  • Pencitraan menggunakan sinar X, untuk menilai bentuk dan kondisi dari esofagus dan lambung.
  • Pemeriksaan endoskopi, untuk mengevaluasi adanya abnormalitas di esofagus. Dapat dilakukan pengambilan sampel jaringan atau biopsi untuk dianalisis lebih lanjut.
  • Pemeriksaan motilitas esofagus, untuk menentukan gerakan dan tekanan pada esofagus.

Penanganan Nyeri Ulu Hati

Penanganan dari nyeri ulu hati bergantung dari penyebab yang mendasarinya. Apabila nyeri ulu hati dinilai berkaitan dengan peningkatan asam lambung setelah dilakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara langsung, dokter dapat meresepkan pengobatan untuk membantu menurunkan kadar asam lambung.

Pencegahan Nyeri Ulu Hati

Beberapa modifikasi gaya hidup dapat diterapkan untuk mencegah timbulnya nyeri ulu hati, seperti:

  • Menjaga agar berat badan tetap stabil. Berat badan yang berlebih akan meningkatkan tekanan pada abdomen dan mendorong perut ke atas. Hal inilah yang menyebabkan asam lambung untuk naik ke esofagus.
  • Menghindari pakaian yang ketat, yang dapat meningkatkan tekanan pada abdomen dan sfingter esophageal bawah.
  • Menghindari konsumsi makanan yang dapat memicu timbulnya nyeri ulu hati. Contohnya makanan pedas, buah-buahan sitrus, makanan asam, kopi, cokelat, minuman bersoda, dan sebagainya.
  • Menghindari berbaring setelah mengonsumsi makanan, setidaknya selama tiga jam.
  • Menghindari makan terlalu malam.
  • Menghindari merokok, yang dapat menurunkan kemampuan sfingter esophageal bawah untuk berfungsi dengan baik.

 

Categories
Uncategorized

Cara mengobati Varises

Varises dapat menyebabkan komplikasi karena mengganggu aliran darah dalam pembuluh vena. Kebanyakan orang yang memiliki varises tidak mengalami komplikasi, tetapi jika hal itu terjadi, biasanya baru akan muncul beberapa tahun setelah pembuluh vena pertama kali terlihat menonjol. Berikut ini beberapa komplikasi yang bisa ditimbulkan dari varises :

  • Varises yang berada di dekat permukaan kulit bisa pecah saat kaki terbentur atau tergores. Perdarahan yang terjadi mungkin sulit dihentikan. Jika terjadi, segera berbaring dan angkat kaki sehingga posisi lebih tinggi dari tubuh, dan beri tekanan langsung pada area yang terluka. Hubungi dokter jika hal tersebut tidak membantu menghentikan perdarahan.
  • Penggumpalan darah. Jika penggumpalan darah terjadi di dalam pembuluh vena yang letaknya berdekatan dengan permukaan kulit, hal tersebut bisa menimbulkan tromboflebitis dan trombosis vena dalam.
  • Tromboflebitis merupakan penggumpalan darah di dalam pembuluh vena. Gejala yang biasa muncul adalah rasa nyeri pada bagian dalam pembuluh vena yang terkena varises dan kulit terlihat memerah.
  • Trombosis vena dalam. Mirip dengan tromboflebitis. Gejalanya berupa kaki bengkak dan terasa nyeri. Jika dibiarkan, bisa mengakibatkan komplikasi lain seperti emboli paru-paru, penyumbatan pembuluh arteri paru-paru sehingga menghalangi aliran darah dari jantung ke paru-paru.
  • Eksim varises. Kulit akan terlihat kemerahan, bersisik, hingga akhirnya mengelupas. Pada kasus tertentu, kulit penderita yang melepuh akan berkerak secara permanen.

Diagnosis Varises

Konsultasikan kondisi varises pada dokter apabila nyeri yang ditimbulkan mengganggu aktivitas harian. Begitu juga bila muncul luka di sekitar permukaan kulit yang menutupi pembuluh vena varises.

Dua cara pemeriksaan yang akan dilakukan dokter dalam mendiagnosis varises adalah pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengumpulkan riwayat medis terlebih dahulu, seperti gejala yang dirasakan serta faktor risiko yang mungkin ada pada diri pasien.

Setelah mengumpulkan informasi riwayat medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada area tubuh yang sakit, bengkak, atau luka. Dokter akan meminta pasien menggerakkan kaki ke dalam beberapa posisi berbeda agar bisa mengamati aliran darah.
Varises biasanya didiagnosis berdasarkan tampilan pembuluh vena, sehingga biasanya tidak diperlukan lagi tes lanjutan. Namun lain halnya jika dokter mencurigai adanya komplikasi yang terjadi akibat varises. Pemeriksaan lanjutan yang umum disarankan dokter adalah USG Duplex Dopler, yakni metode pemindaian untuk melihat aliran darah di dalam pembuluh vena.

Selain metode di atas, dokter dapat menyarankan untuk dilakukan angiogram untuk memeriksa aliran darah dalam pembuluh vena. Angiogram adalah metode pemeriksaan dengan menyuntikkan zat khusus ke dalam pembuluh vena agar ikut mengalir bersama darah. Kemudian, dokter akan melihat tingkat kelancaran aliran zat tersebut. Jika tidak lancar, maka ada indikasi terjadi penggumpalan darah di dalam pembuluh vena.
Dokter bisa juga menyarankan pemeriksaan ultrasonografi untuk melihat apakah katup pembuluh vena berfungsi baik atau tidak, serta melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah.

Gejala Varises

Varises umumnya terjadi di kaki, terutama di betis atau bagian belakang lutut. Namun varises juga bisa muncul pada bagian lain tubuh –seperti tenggorokan, vagina, panggul, dan anus. Varises dapat dikenali dengan segera, karena pada bagian kulit yang memiliki kondisi tersebut pembuluh vena akan terlihat menonjol dengan warna biru tua atau ungu.

Penderita varises biasanya juga merasakan gejala-gejala, seperti rasa nyeri pada kaki, kaki terasa berat dan panas (terutama setelah duduk atau berdiri dalam waktu lama). Selain itu biasanya juga terjadi pembengkakan kaki bagian bawah, serta gatal pada permukaan kulit yang menutupi varises.

Umumnya, gejala akan lebih terasa jika penderita duduk atau berdiri dalam waktu lama. Anda bisa meluruskan kaki sejenak dengan berjalan kaki santai untuk membantu pengatasnya. Atau Anda bisa berbaring sambil memposisikan kaki lebih tinggi dibanding tubuh dengan menaruh bantal di bawah kaki. Pada wanita, gejala varises akan terasa lebih berat beberapa hari sebelum dan pada saat menstruasi.

Pengobatan Varises

Varises tingkat ringan dapat ditangani dengan pengobatan mandiri di rumah. Pengobatan mandiri dapat meredakan gejala, mengurangi tingkat keparahan, dan mencegah terjadinya komplikasi.

Anda bisa melakukan pengobatan mandiri dengan rutin berolahraga (terutama gerakan untuk menguatkan kaki), memerhatikan bobot tubuh agar tidak berlebih, tidak berdiri terlalu lama, dan beristirahat dengan cara berbaring agar posisi kaki lebih tinggi daripada tubuh. Anda bisa menggunakan bantal untuk menyangga kaki.

Penggunaan alat bantu juga dapat meringankan gejala varises, yaitu dengan memakai stoking khusus varises atau bebat kompresi. Fungsinya adalah memberikan tekanan yang dibutuhkan pada otot dan pembuluh vena, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar.
Anda akan disarankan untuk memakai kaus kaki kompresi saat beraktivitas sepanjang hari. Jika pemakaian kaus kaki kompresi membuat kulit kaki kering, Anda bisa mengoleskan pelembap terlebih dulu sebelum memakainya.

Ganti kaus kaki kompresi secara berkala, usia pemakaiannya berkisar antara tiga hingga bulan. Pastikan Anda memakai kaus kaki kompresi yang sesuai dengan tingkat keparahan varises. Jika gejala varises tidak mereda dengan pengobatan mandiri atau justru semakin parah dan berisiko menimbulkan komplikasi, segeralah berkonsultasi ke dokter. Biasanya dokter akan menyarankan pengobatan berikut:

  • Skleroterapi, yaitu dengan menyuntikkan cairan khusus ke pembuluh vena varises. Tujuannya adalah untuk membentuk luka yang akan menutup saluran darah. Efek samping terapi ini antara lain perubahan warna kulit, nyeri punggung bawah, sakit kepala, dan penglihatan berkurang (bersifat sementara).
  • Radiofrekuensi ablasi. Metode ini menggunakan energi radiofrekuensi untuk membakar dinding pembuluh vena varises. Hal tersebut akan membuat dinding pembuluh vena menutup. Setelah pembuluh vena varises berhasil ditutup, aliran darah akan otomatis dialihkan ke pembuluh vena lain yang masih berfungsi normal.
  • Bedah terbuka. Ini dilakukan untuk mengangkat pembuluh vena varises.

Untuk mencegah terjadinya varises, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut:

  • Hindari duduk atau berdiri dalam waktu lama, ubah posisi secara berkala.
  • Hindari berada dalam posisi yang membatasi peredaran darah pada tungkai (seperti menyilangkan kaki ketika duduk).
  • Tinggikan posisi tungkai dan kaki ketika duduk.
  • Berolahraga secara teratur.

Penyebab Varises

Varises diawali dengan adanya tekanan pada dinding pembuluh vena yang dipicu oleh beragam faktor. Hal ini berakibat pada renggangnya pembuluh vena sehingga menyebabkan katup melemah.

Katup yang lemah tersebut kemudian tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik, mengakibatkan aliran darah ke jantung terganggu. Darah yang mengalir lagi ke bawah akan membuat endapan. Jika hal ini terus terjadi, endapan akan membuat pembuluh vena bengkak, merusak katup, dan muncul varises.

Lalu, faktor apa saja yang bisa memicu terjadinya kerusakan pada pembuluh vena dan membuat seseorang berisiko terhadap varises?

  • Jenis kelamin. Wanita lebih berisiko terkena varises ketimbang pria. Hal ini disebabkan karena hormon wanita cenderung membuat dinding pembuluh darah rileks, sehingga katup berpotensi mengalami kebocoran.
  • Faktor keturunan. Anda berisiko lebih besar terkena varises jika memiliki keluarga dengan riwayat kondisi tersebut.
  • Dengan bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah akan berkurang. Hal ini akan membuat katup melemah, sehingga darah akan dengan mudah kembali ke bawah dan membuat endapan di dalam pembuluh vena.
  • Bobot tubuh yang besar akan memberikan tekanan lebih pada pembuluh vena kaki, sehingga menyulitkan proses pengembalian darah ke jantung.
  • Jika Anda sering beraktivitas dengan berdiri terlalu lama, ini akan mempersulit kembalinya aliran darah ke jantung.
  • Produksi darah cenderung meningkat saat hamil, sehingga akan memberikan tekanan lebih pada pembuluh vena. Hormon kehamilan juga membuat otot dinding pembuluh vena rileks sehingga perlindungan katup melemah.

 

Categories
Uncategorized

Penyebab dan Gejala TBC tulang belakang

TBC tulang belakang, atau sering disebut sebagai spondilitis TBC, merupakan infeksi tuberkulosis yang menyerang tulang belakang. Biasanya tulang belakang yang terkena adalah bagian torakal dan lumbal (di daerah punggung bawah). TBC tulang belakang tak hanya dapat menyerang tulang belakang, melainkan dapat pula menyerang tulang panggul dan lutut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penderita TBC tulang terbanyak di dunia.

Penyebab TBC Tulang Belakang

Penyebab penyakit TBC tulang belakang adalah karena infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya infeksi awalnya menyerang paru, kemudian kuman menyebar ke pembuluh darah dan sampai ke tulang belakang.

Orang-orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, kurang gizi, dan penderita HIV/ AIDS diketahui lebih rentan mengalami penyakit ini.

Diagnosis TBC Tulang Belakang

Untuk memastikan ada tidaknya penyakit TBC tulang, perlu dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya bakteri TBC di dalam tubuh. Pemeriksaan tersebut antara lain dengan pemeriksaan laju endap darah dan  pemeriksaan Mantoux (dengan menyuntikkan kuman tuberkulosis di bawah kulit lengan).

Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan rontgen tulang belakang. Namun pada hampir 50% kasus, hasil rontgennya normal. Pemeriksaan utama untuk melihat kondisi tulang belakang adalah dengan MRI tulang belakang.

Bila benar terbukti ada TBC tulang belakang, dokter akan menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan rontgen dada dan pemeriksaan dahak untuk mengetahui apakah ada infeksi TBC di paru yang biasanya menjadi sumber penyebaran TBC ke tulang belakang.

Gejala TBC Tulang Belakang

Gejala awal dari TBC tulang belakang adalah nyeri punggung yang semakin hari makin bertambah nyerinya. Gejala lain adalah adanya demam hilang timbul, keringat berlebih di malam hari, berat badan turun, punggung terlihat makin membungkuk.

Pada infeksi yang berat, dapat terjadi pula kelumpuhan atau gangguan saraf lainnya.

Pengobatan TBC Tulang Belakang

Pengobatan TBC tulang terdiri dari pemberian obat antituberkulosis dan operasi. Pengobatan menggunakan OAT harus dilakukan untuk membunuh bakteri penyebab TBC.

Obat antituberkulosis (OAT) umumnya dikonsumsi selama setidaknya satu tahun. Selain itu, bila bakteri menyerang tulang belakang secara progresif, operasi perlu dilakukan untuk menghentikan progresivitas infeksi tulang dan menjaga struktur tulang belakang tetap normal.

Pencegahan TBC Tulang Belakang

Untuk mencegah TBC tulang belakang, hal berikut ini yang perlu dilakukan:

  • Imunisasi BCG saat bayi berusia dua bulan
  • Makan makanan yang bergizi (karbohidrat, sayur, protein, buah) dengan jadwal yang teratur
  • Hindari kontak dengan penderita TBC