Categories
Uncategorized

Penyebab Bayi lahir dengan bibir sumbing

Bibir sumbing merupakan kelainan berupa celah pada bibir atas. Celah ini bisa terjadi pada bagian langit-langit rongga mulut (cleft palate), bisa juga pada bagian bibir saja (cleft lip). Di beberapa kasus juga bisa terjadi pada kedua bagian. Namun pada umumnya, hampir separuh kasus bibir sumbing, melibatkan celah pada bibir atas serta atap rongga mulut. Kelainan ini dapat diketahui melalui prosedur USG dari trimester pertama kehamilan. Saat itu, Anda bisa melihat jika ada gangguan pada proses perkembangan area wajah –termasuk langit-langit rongga mulut. Itulah sebabnya kondisi ini digolongkan sebagai cacat sejak lahir.

Diagnosis Bibir Sumbing

Bibir sumbing dapat dideteksi sejak masa kehamilan atau dikenal dengan antenatal diagnosis. Proses pemeriksaan dilakukan dengan prosedur USG –baik USG 3 dimensi maupun 4 dimensi. Dokter dapat melihat adanya perbedaan dalam perkembangan struktur wajah janin pada pemeriksaan antenatal trimester pertama. Saat melihat hal tersebut, dokter bisa saja menawarkan pada Anda untuk melakukan tes cairan.

Prosedur tes cairan dilakukan dengan mengambil sampel cairan ketuban dari rahim. Tes ini akan menunjukkan apakah janin telah mewarisi sindrom genetic yang dapat menyebabkan cacat lahir lainnya.

Gejala Bibir Sumbing

Gejala utama dari bibir sumbing dapat langsung terlihat, yakni adanya celah pada bibir atas atau atap rongga mulut. Selain itu, ada juga beberapa gejala lainnya, seperti:

  • Sulit menghisap ASI
    Bayi dengan bibir sumbing akan mengalami kesulitan saat mengisap ASI, karena kondisi mulut yang sulit melakukan gerakan mengisap. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan botol khusus yang direkomendasikan oleh dokter gigi spesialis gigi anak dan dokter spesialis anak.
  • Kesulitan berbicara
    Tergantung oleh tingkat keparahan, pada beberapa kondisi bibir sumbing juga dapat menyebabkan kesulitan berbicara. Namun, besarnya celah bukan indikator seberapa serius gangguan dalam berbicara. Bahkan celah yang kecil pun dapat menyebabkan kesulitan dalam berbicara.
  • Gangguan pendengaran
    Semua telinga anak normal memproduksi cairan telinga yang kental dan lengket. Namun, adanya celah di bibir sumbing dapat membuat cairan tersebut menumpuk di gendang telinga. Hal ini menyebabkan gangguan atau bahkan kehilangan pendengaran sementara.
    Selain itu, menumpuknya cairan pada telinga bagian tengah juga dapat mengenai tuba eustachia, yakni saluran yang menghubungkan telinga dengan rongga mulut. Hal ini dapat mengakibatkan infeksi telinga.
  • Gangguan pertumbuhan rahang dan gigi
    Bibir sumbing juga dapat memengaruhi pertumbuhan rahang dan proses tumbuh kembang gigi. Susunan gigi dapat berjejal karena kurang berkembangnya rahang, sehingga mengakibatkan gangguan berbicara. Karena itu, penanganan yang cepat dan tepat diperlukan untuk memperbaiki kondisi bibir sumbing.

Pengobatan Bibir Sumbing

Penanganan anak dengan bibir sumbing memerlukan tim dokter khusus. Tim tersebut terdiri dari dokter gigi spesialis bedah mulut, dokter spesialis bedah plastik, ahli terapi bicara, audiologist (ahli pendengaran), dokter spesialis anak, dokter gigi spesialis gigi anak, dokter gigi spesialis ortodonti, psikolog, dan ahli genetik. Tindakan operasi lazim dilakukan untuk mengobati bibir sumbing. Waktu operasi ini bervariasi, tergantung dari kondisi bibir sumbing yang diderita. Biasanya operasi yang digunakan dalam kasus ini adalah dengan cara bius total.

Operasi untuk menutup celah di bibir sudah dapat dilakukan pada saat bayi berusia tiga bulan dan memiliki berat badan yang cukup. Sementara itu, operasi untuk menutup celah pada atap rongga mulut dapat dilakukan pada usia kira-kira enam bulan.

Saat anak bertambah dewasa, operasi-operasi lain mungkin diperlukan untuk memperbaiki penampilan dari bibir dan hidung, serta fungsi dari atap rongga mulut. Jika ada celah pada gusi, dapat dilakukan implan tulang untuk mengatasinya.

Sedangkan untuk memperbaiki kesulitan dalam berbicara, anak dapat menjalani terapi bicara dengan ahlinya. Selain itu, dokter gigi spesialis anak dan ortodonti dapat memberikan perawatan yang berkaitan dengan perawatan gigi anak.

Pencegahan bibir sumbing

Pencegahan bibir sumbing dapat dimulai selama kehamilan, seperti:

  • Makan makanan yang bergizi.
  • Hindari kebiasaan merokok dan minum beralkohol.
  • Kunjungi dokter kandungan secara rutin untuk pemantauan.
  • Konsumsi asam folat sebanyak 400 mikrogram setiap hari, setidaknya satu bulan sebelum pembuahan dan selama dua bulan pertama kehamilan.

Anda juga perlu memperhatikan konsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan ini, yaitu obat antiepilepsi seperti phenytoin dan sodium valproate. Tak hanya itu, konsumsi tablet steroid dan obat methotrexate yang biasanya digunakan dalam pengobatan kanker dan penyakit peradangan tertentu, juga dapat meningkatkan risiko. Bila Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tersebut, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum hamil.

Penyebab Bibir Sumbing

Sampai saat ini penyebab bibir sumbing masih belum diketahui. Namun, penelitian menunjukkan bahwa proses terbentuknya kelainan ini sudah dimulai sejak minggu-minggu awal kehamilan. Saat usia kehamilan mencapai 6 minggu, bibir atas dan atap rongga mulut bayi dalam kandungan akan mulai terbentuk. Bibir dan rongga mulut terbentuk dari jaringan yang berada di kedua sisi sampai bersatu di bagian tengah mulut. Bila jaringan-jaringan ini gagal bersatu, maka akan terbentuk celah pada bibir atas atau atap rongga mulut.

Meski penyebab pasti dari bibir sumbing belum diketahui, para ahli menduga bahwa gabungan antara faktor genetik dan lingkungan ikut berpengaruh. Jika orangtua menderita bibir sumbing, risiko anak untuk memiliki kelainan ini akan semakin tinggi. Sementara itu, faktor lingkungan yang dapat memicu bibir sumbing pada bayi adalah gaya hidup ibu selama kehamilan. Misalnya karena efek samping obat-obatan, penyakit atau infeksi yang diderita ibu, merokok atau konsumsi minuman beralkohol selama hamil. Bahkan, kekurangan asam folat juga dapat memicu terjadinya kelainan ini.

 

 

Categories
Uncategorized

Cegah kanker lambung

Kanker lambung adalah jenis kanker atau suatu keganasan yang ditemukan pada lambung. Kanker lambung menempati urutan keempat penyebab kematian akibat kanker di seluruh dunia.

Lambung pada dasarnya memiliki empat lapisan –yaitu mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Umumnya kanker akan tumbuh pada lapisan mukosa dan kemudian dapat tumbuh lebih dalam ke lapisan lainnya.

Mukosa itu sendiri merupakan lapisan lambung di mana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan. Enzim, asam lambung, dan hormon adalah beberapa jenis cairan yang terdapat di mukosa.

Ada beberapa jenis kanker lambung, yaitu:

  • Ini adalah jenis kanker lambung yang paling umum. Berasal dari sel mukosa, yaitu pelapis bagian dalam lambung.
  • Berasal dari sel imun yang dapat ditemukan pada dinding lambung.
  • Gastrointestinal Stromal Tumor(GIST). Berasal dari interstitial cells of Cajal yang dapat ditemukan pada dinding lambung.
  • Carcinoid tumor. Ditemukan pada sel penghasil hormon pada lambung.
  • Jenis lain yang cukup jarang ditemukan adalah squamous cell carcinoma, small cell carcinoma, dan leiomyosarcoma.

Penyebab Kanker Lambung

Penyebab pasti kanker lambung belum diketahui. Namun terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui, yaitu:

  • Infeksi H. Pylori
  • Kebiasaan merokok
  • Usia > 55 tahun
  • Jenis kelamin laki-laki
  • Golongan darah A
  • Pola makan tinggi garam, acar, processed food, daging merah, rendah serat
  • Adanya riwayat keluarga yang menderita kanker lambung
  • Beberapa kondisi medis: seperti tukak lambung/ peptic ulcerpernicious anemia
  • Riwayat operasi pada lambung

Diagnosis Kanker Lambung

Penentuan diagnosis kanker lambung dilakukan melalu serangkaian wawancara medis atau anamnesis untuk menanyakan gejala. Selain itu juga diperlukan pemeriksaan fisik untuk meraba adanya benjolan atau pembesaran kelenjar getah bening.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah. Pada kanker lambung sering ditemukan anemia akibat pendarahan. Kemudian endoskopi, yaitu pemeriksaan dengan tabung yang di ujungnya terdapat kamera. Dengan pemeriksaan ini bagian dalam lambung dapat dilihat dengan baik.

Selain itu juga dapat dilakukan biopsi untuk pemeriksaan sampel jaringan yang mencurigakan. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah ultrasound endoskopi, barium meal X-ray, CT-scan, PET-scan, dan laparoskopi.

Gejala Kanker Lambung

Tanda-tanda kanker lambung yang kerap ditemukan antara lain:

  • Penurunan nafsu makan dan berat badan
  • Nyeri pada perut atau rasa tidak nyaman pada area di atas pusar
  • Rasa penuh pada perut setelah makan (walaupun hanya sedikit)
  • Rasa panas pada perut
  • Rasa kembung dan bersendawa terus
  • Mual, muntah dengan atau tanpa darah
  • Kesulitan menelan
  • Pembengkakan perut atau pengumpulan cairan pada perut
  • Perdarahan dan anemia (bisa menyebabkan BAB kehitaman)
  • Kekuningan pada kulit atau bagian putih mata (pada kasus lanjut)

Pengobatan Kanker Lambung

Penanganan terhadap kanker lambung tergantung dari ukuran, lokasi dan jenis kanker. Meski demikian, pengobatan kanker yang umumnya dilakukan adalah:

  • Pembedahan
  • Kemoterapi
  • Terapi radiasi
  • Imunoterapi

 

Categories
Uncategorized

Ketahui Penyebab dan pencegahan Hepatitis C

Hepatitis C merupakan infeksi akibat virus yang menyebabkan terjadinya peradangan pada hati. Virus hepatitis C menyebar melalui darah yang terkontaminasi. Bila tidak ditangani, kondisi ini berpotensi untuk menyebabkan kerusakan pada hati seiring dengan berjalannya waktu. Oleh sebab itu, deteksi dan penanganan dini dari hepatitis C merupakan hal yang sangat penting.

Kondisi di mana seseorang mengalami infeksi jangka panjang oleh virus hepatitis C disebut sebagai hepatitis C kronik. Hepatitis C kronik umumnya tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun, hingga virus menyebabkan terjadinya kerusakan pada hati yang cukup signifikan, yang menyebabkan timbulnya tanda dan gejala dari penyakit hati.

Penyebab Hepatitis C

Infeksi hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C. Infeksi tersebut dapat menular melalui darah yang terkontaminasi saat virus masuk ke aliran darah seseorang yang belum terinfeksi.

Secara umum, virus hepatitis C (HCV) memiliki beberapa jenis. Jenis yang tersering di Amerika Serikat dan Eropa adalah tipe 1, dan tipe 2 lebih jarang ditemui di daerah tersebut. Sedangkan, di bagian dunia lain, tipe 1 dan 2 cukup sering ditemui, baik di Timur Tengah, Asia, maupun Afrika.

Gejala Hepatitis C

Hepatitis C seringkali tidak menunjukkan gejala hingga hati telah mengalami kerusakan yang cukup signifikan. Oleh sebab itu, banyak orang yang mungkin telah terinfeksi namun tidak mengetahuinya karena tidak mengalami gejala.

Beberapa tanda dan gejala yang dapat diamati pada hepatitis C adalah:

  • Nyeri pada otot
  • Demam
  • Rasa lelah sepanjang hari
  • Penurunan nafsu makan
  • Nyeri perut
  • Mudah mengalami perdarahan
  • Mudah mengalami lebam
  • Rasa gatal pada kulit
  • Urine yang berwarna gelap
  • Penumpukan cairan di perut
  • Kekuningan pada kulit dan mata
  • Penurunan berat badan
  • Pembengkakan pada kaki
  • Kebingungan, rasa lelah, dan bicara yang tidak jelas
  • Tampilan pembuluh darah yang menyerupai laba-laba pada kulit

Setiap infeksi hepatitis C kronik umumnya didahului oleh fase akut. Hepatitis C akut umumnya tidak terdiagnosis karena jarang menunjukkan gejala. Namun, bila terdapat tanda atau gejala, yang umumnya diamati adalah kuning pada kulit dan mata, diikuti oleh rasa lelah, mual, demam, dan nyeri otot.

Tanda dan gejala dari hepatitis C akut dapat timbul satu hingga tiga bulan setelah seseorang terekspos virus, dan dapat berlangsung selama dua minggu hingga tiga bulan.

Diagnosis Hepatitis C

Seseorang yang memiliki tanda dan gejala yang konsisten dengan hepatitis C berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara langsung dapat disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah untuk dievaluasi lebih lanjut.

Namun, karena sebagian besar kasus tidak menunjukkan tanda dan gejala, diagnosis dari hepatitis C juga dapat ditegakkan melalui pemeriksaan skrining atau penapisan, terutama pada kelompok individu dengan risiko lebih tinggi untuk terekspos virus hepatitis C.

Beberapa kelompok risiko yang disarankan untuk melakukan skrining hepatitis C adalah:

  • Individu yang pernah menggunakan obat-obat terlarang suntik atau dihirup
  • Individu dengan hasil fungsi hati abnormal dengan penyebab yang tidak diketahui
  • Bayi yang lahir dari ibu yang mengalami hepatitis C
  • Petugas kesehatan yang pernah terekspos pada darah atau jarum suntik secara tidak sengaja
  • Individu yang telah menjalani perawatan hemodialisis (cuci darah) jangka panjang
  • Individu yang terinfeksi HIV
  • Individu yang berhubungan seksual dengan jumlah pasangan multipel, atau dengan pasangan yang telah terdiagnosis mengalami hepatitis C

Selain pemeriksaan darah untuk memeriksa HCV, juga dapat dilakukan beberapa pemeriksaan lainnya seperti pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan viral load atau jumlah virus hepatitis C dalam tubuh, serta pemeriksaan biopsi hati bila dinilai diperlukan.

Pengobatan Hepatitis C

Pengobatan hepatitis C dapat dilakukan dengan beberapa metode. Salah satunya adalah pemberian obat antivirus, yang bertujuan untuk mengeliminasi virus dari tubuh. Target dari pemberian obat antivirus adalah tidak adanya virus hepatitis C yang terdeteksi di tubuh setidaknya 12 minggu setelah menyelesaikan pengobatan.

Penentuan jenis obat antivirus yang digunakan dan durasi pengobatan bergantung dari tipe virus hepatitis C, adanya kerusakan hati yang telah terjadi, adanya pengobatan yang telah dikonsumsi sebelumnya, dan adanya kondisi kesehatan lain yang dialami.

Pencegahan Hepatitis C

Terdapat beberapa cara untuk mencegah terinfeksi hepatitis C, termasuk :

  • Menghindari penggunaan obat-obat terlarang suntik, yang digunakan bersamaan dengan orang lain.
  • Tidak bertukar sikat gigi, alat cukur, dan beberapa peralatan lainnya yang dapat terkontaminasi oleh darah.
  • Walaupun risiko tertular hepatitis C melalui hubungan seksual relatif rendah, hal ini mungkin terjadi bila terdapat darah saat berhubungan, misalnya darah dari menstruasi atau perdarahan minor.

 

Categories
Uncategorized

Hati hati makanan kadaluarsa

Pemilihan makanan untuk disantap saat sahur dan buka puasa seperti saat ini perlu diperhatikan secara serius. Penyebabnya, makanan yang baik tentu akan menunjang ketahanan fisik Anda selama puasa Ramadan. Pastikan bahwa Anda dan keluarga tidak mengonsumsi makanan kadaluarsa karena berpotensi menyebabkan beragam gangguan kesehatan.

Teliti pilih makanan untuk menu buka puasa

Sebenarnya, ada banyak pilihan makanan ketika bulan puasa tiba seperti sekarang. Banyak makanan dijajakan di pinggir jalan untuk takjil atau makanan buka puasa. Hanya saja, Anda tidak bisa memastikan makanan itu higienis atau tidak.

Selain itu Anda juga perlu memeriksa tanggal kedaluwarsa sebuah makanan, terutama jika Anda memilih makanan  kemasan atau makanan yang dimasak sendiri tapi disimpan dalam waktu yang lama. Karena makanan yang sudah lewat tanggal baik konsumsinya, rentan terkontaminasi kuman, bakteri, dan jamur. Oleh karena itu Anda perlu sangat teliti dalam memilih makanan untuk buka puasa dan sahur.

“Makanan kedaluwarsa bisa ada di makanan kalengan dan makanan yang dibuat sendiri. Untuk makanan sendiri, biasanya makanan yang sudah berhari-hari, misalnya masuk kulkas berhari-hari atau ditaruh begitu saja. Jika dimakan, itu akan membahayakan tubuh Anda,” ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong

“Untuk makanan kalengan biasanya ada tanggal yang tertera. Itu sangat membantu. Perhatikan juga makanan yang Anda masak. Ingat dengan baik kapan Anda memasaknya. Misalnya masak sayur, ingat kapan masaknya dan ingat waktunya jika disimpan,” dr. Sepri menambahkan. Makanan kedaluwarsa yang dimakan bisa menimbulkan beberapa gangguan kesehatan, seperti:

  • Sakit Perut
  • Muntah
  • Mual
  • Diare

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, bisa jadi Anda mengalami keracunan makanan kedaluwarsa. Bukannya sehat, kondisi kesehatan tubuh Anda malah bisa terganggu.

Bahaya Lainnya yang bisa anda alami 

Selain mengalami hal di atas, mengonsumsi makanan kedaluwarsa ternyata tidak efektif dari sisi gizi. makanan yang sudah kedaluwarsa sudah kehilangan sebagian besar nutrisinya. “Sehingga apabila Anda mengonsumsi makanan yang sudah lewat dari tanggal kedaluwarsanya, Anda akan rentan mengalami kurang gizi, meski sudah mengonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup,”

Mengonsumsi makanan kedaluwarsa juga rentan menyebabkan Anda mengalami gangguan pencernaan, perut kembung, mual dan muntah. Jika muntah yang Anda alami berlarut-larut, Anda bahkan bisa mengalami dehidrasi berat.

Alangkah berbahayanya jika Anda mengalami dehidrasi saat berpuasa. Di satu sisi, Anda tidak makan dan minum saja sudah kehilangan cairan. Jika ditambah dengan dehidrasi akibat makanan kedaluwarsa, kondisi tubuh Anda akan makin menurun.

Oleh karenanya, perhatikan betul beragam makanan yang Anda pilih untuk dihidangkan bagi keluarga Anda, terutama saat puasa seperti sekarang. Jika Anda membeli makanan takjil, tanyakan kapan pembuatannya dan kuat disimpan berapa lam. Kalau Anda memasak sendiri lalu menyimpannya dalam kulkas, beri label tanggal pada kemasannya. Jika Anda memilih makanan kemasan atau makanan kaleng, telitilah tanggal kedaluwarsanya.

Baik di saat puasa atau tidak, jangan sampai Anda mengonsumsi makanan kadaluarsa, Karena ada beragam gangguan kesehatan yang siap mengintai Anda dan keluarga.

Selamat menjalankan ibadah puasa sahabat bandung homecare 🙂

 

 

Categories
Uncategorized

Hepatitis A, inilah tanda tandanya

Hepatitis A adalah penyakit radang organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A (HAV). Sebagian besar pengidap hepatitis A adalah anak-anak, dan hanya satu dari sepuluh pengidap hepatitis A di bawah usia enam tahun yang mengalami sakit kuning. Tidak seperti jenis hepatitis lain, Hepatitis A tidak menyebabkan kerusakan organ hati permanen dan jarang sekali berlangsung bertahun-tahun.

Namun, pada kasus tertentu, hepatitis A dapat menyebabkan organ hati tidak berfungsi secara tiba-tiba. Hal ini terutama terjadi pada pengidap berusia lanjut atau mereka yang memiliki penyakit organ hati yang kronis. Selain itu, pada sebagian penderita infeksi ini bisa kambuh lagi.

Diagnosis Hepatitis A

Segera berkonsultasi kepada dokter apabila terjadi hal-hal berikut ini:

  • Anda mengalami gejala-gejala hepatitis A
    Umumnya, untuk mendeteksi virus hepatitis A harus dilakukan tes pada sampel darah.
  • Anda baru berada dalam situasi yang dapat berakibat pada terpapar virus hepatitis A, tetapi tidak mengalami gejala apa pun
    Penanganan dini mungkin akan bisa mencegah terjadinya infeksi.
  • Anda merasa perlu mendapat vaksinasi hepatitis A
    Tes darah sangat diperlukan agar diagnosis dapat segera dipastikan. Hal ini penting karena dapat mengesampingkan penyakit serius lain yang gejalanya hampir sama.

Diagnosis hepatitis A dilakukan lewat pengumpulan informasi oleh dokter berdasarkan gejala yang Anda rasakan. Selain itu juga diperlukan adanya pemeriksaan darah. Anda dapat didiagnosis menderita hepatitis A jika hasil tes darah menunjukkan adanya reaksi positif antibodi.

Apabila hasil pemeriksaan darah menunjukkan positif hepatitis A, dokter akan melakukan pemeriksaan kondisi organ hati. Pemeriksaan dapat dilakukan lewat tes penunjang yang disebut evaluasi fungsi organ hati. Selain itu juga bisa dilakukan pemeriksaan USG.

Gejala Hepatitis A

Gejala-gejala hepatitis A timbul sekitar empat minggu setelah infeksi terjadi. Meski demikian, tidak semua pengidap hepatitis A akan menunjukkan gejala. Karena itulah penyakit ini kadang sulit disadari.

Gejala awal

Beberapa gejala yang mungkin dialami pengidap:

  • Merasa letih
  • Nyeri sendi dan otot
  • Demam ringan, biasanya tidak lebih dari 39° C
  • Hilang nafsu makan
  • Mual
  • Merasa nyeri pada perut kanan atas
  • Sakit kepala, sakit tenggorokan, dan batuk
  • Sembelit atau malah mengalami diare
  • Biduran

Gejala-gejala di atas biasanya berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu.

Gejala lanjutan

Setelah timbul gejala awal, pengidap juga akan mengalami kondisi di bawah ini:

  • Kulit dan mata terlihat menguning
  • Urine bewarna gelap
  • Feses berwarna pucat
  • Kulit terasa gatal dan muncul ruam
  • Perut kanan atas bengkak

Kebanyakan pengidap hepatitis A dapat pulih sepenuhnya dalam waktu beberapa bulan. Gejala sendiri dapat hilang-timbul hingga enam bulan.

Gejala dari kondisi yang lebih serius

Hepatitis A biasanya tidak berdampak serius, tetapi dalam beberapa kasus tertentu dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hati. Gejala dari kegagalan fungsi organ hati, di antaranya:

  • Muntah-muntah mendadak
  • Mudah memar atau terluka, misalnya sering mimisan
  • Sulit fokus dan sukar mengingat sesuatu
  • Mengantuk
  • Kebingungan

Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala di atas. Kegagalan fungsi organ hati dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan cepat.

Pengobatan Hepatitis A

Penyakit ini tidak memiliki penanganan khusus, karena sistem kekebalan tubuh akan melawan dan menghilangkan virus dengan sendirinya. Jadi, tujuan penanganan hepatitis A adalah untuk meringankan gejala yang dialami penderitanya.
Penderita hepatitis A sebaiknya melakukan hal-hal berikut pada masa pemulihan:

  • Beristirahat → Pengidap hepatitis A akan merasa kelelahan terutama pada masa awal infeksi.
  • Atasi mual dan muntah → Mual dapat memengaruhi nafsu makan. Jadi, alih-alih makan dengan porsi normal, makanlah dengan porsi kecil tetapi sering. Hindari juga makanan berlemak. Dokter dapat memberikan obat antimual atau antimuntah dalam bentuk tablet, kapsul, atau suntikan.
  • Istirahatkan organ hati → Jangan mengonsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan yang dapat berefek pada organ hati. Jika Anda sedang menjalani pengobatan untuk penyakit lain, diskusikan dengan dokter mengenai dosis atau jenis obat yang aman untuk kondisi hepatitis A.

Pencegahan hepatitis A

Penyebaran utama hepatitis A adalah melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Sehingga, langkah pencegahan yang utama adalah dengan menjaga kebersihan.

Pastikan Anda mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, hindari konsumsi makanan yang kurang matang, serta hindari membeli makanan dari tempat yang kurang terjamin kebersihannya. Langkah lainnya adalah dengan mendapatkan vaksinasi hepatitis A.

Penyebab Hepatitis A

Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A yang dapat dengan mudah menyebar. Cara penyebaran utamanya adalah melalui makanan atau minuman yang telah terkontiminasi feses pengidap hepatitis A.
Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebaran virus hepatitis A:

  • Sanitasi buruk
  • Kontak langsung dengan pengidap
  • Berbagi jarum suntik
  • Berhubungan seks dengan pengidap, terutama seks anal
  • Pria berhubungan seks dengan sesama pria
  • Bekerja di area yang berhubungan dengan kotoran, misalnya petugas kebersihan kali