Categories
Uncategorized

Awas, Orang dewasa juga bisa cacingan

Cacingan merujuk pada infeksi cacing dalam tubuh manusia. Terdapat tiga kelompok cacing yang dikenal dapat menginfeksi manusia, yaitu:

  • Platyhelminthes atau cacing pipih, terdiri dari: Trematode, misalnya Schistosima japonicum. Pada manusia umumnya hidup dalam darah dan sering ditemukan di daerah tropis yang panas.
    Cestoda, misalnya Taenia soliumTaenia Saginata. Hidup dalam saluran pencernaan manusia dan memakan makanan yang sudah tercerna sebagian dalam usus manusia.
  • Acanthocephalins, yang umumnya menyerang sistem gastro-instestinal (pencernaan) manusia.
  • Nematoda, yang dapat menyerang saluran gastro-intestinal, darah, sistem limfatik, dan jaringan subkutan manusia. Contohnya adalah Wuchereria bancroftiBrugia malayiAscaris lumbricoidesTrichuris trichiura. Cacing ini sering ditemukan pada hewan peliharaan, misalnya anjing dan kucing. Hewan peliharaan tersebut kemudian dapat menularkan infeksi cacing pada manusia.

Penyebab Cacingan

Ada berbagai cara cacing menginfeksi manusia hingga akhirnya menyebabkan seseorang mengalami cacingan, seperti:

  • Menyentuh objek yang memiliki telur cacing (terutama jika Anda tidak mencuci tangan setelahnya)
  • Menyentuh tanah, mengonsumsi makanan atau cairan yang mengandung telur cacing
  • Berjalan tanpa menggunakan alas kaki di atas tanah yang mengandung cacing
  • Makan makanan mentah atau kurang matang yang mengandung cacing

Diagnosis Cacingan

Pengumpulan informasi dari penderita dan pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menentukan diagnosis cacingan. Selanjutnya, akan dilakukan tindakan untuk menemukan sampel cacing, misalnya cacing dewasa atau telur cacing. Hal ini akan membantu proses penentuan diagnosis.

Sering kali sampel feses diperlukan untuk memeriksa adanya telur cacing. Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan sampel darah, misalnya dalam kasus filariasis (kaki gajah).

Metode diagnosis yang dilakukan dapat berbeda-beda, hal ini bergantung dari jenis cacing yang menginfeksi.

Gejala Cacingan

Gejala cacingan sangat beragam, bergantung pada jenis cacing yang menginfeksi. Namun, beberapa hal berikut bisa menjadi pertanda adanya cacingan:

  • Menemukan cacing dalam feses atau saat buang air besar
  • Memiliki ruam kemerahan, gatal, dan berbentuk seperti cacing pada kulit
  • Mengalami diare atau sakit perut selama lebih dari dua minggu
  • Terkadang juga terdapat keluhan konstipasi/ sembelit
  • Perut yang terlihat bengkak atau mengalami perut kembung
  • Mengalami penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas
  • Gatal hebat pada area anus, terutama pada malam hari
  • Reaksi pada kulit, seperti ruam, biduran, dan reaksi alergi lainnya pada kulit
  • Rasa gelisah dan kecemasan, timbul karena adanya iritasi akibat zat beracun dan sisa metabolisme cacing kepada sistem saraf pusat manusia
  • Merasa lelah dan kurang tenaga
  • Nyeri sendi dan otot
  • Pada anak dapat timbul gejala tumbuh kembang yang terhambat dan malnutrisi
  • Kaki gajah dan beberapa gejala lainnya

Pengobatan Cacingan

Pengobatan yang dilakukan pada penderita cacingan umumnya dilakukan dengan mengonsumsi obat cacing yang diminum selama satu hingga tiga hari. Penghuni rumah yang sama dengan penderita cacingan bisa saja memerlukan konsumsi obat cacing juga.

Pencegahan Cacingan

Sebagai tindakan untuk mencegah cacingan, perlu Anda perhatikan beberapa hal berikut:

  • Menjaga kebersihan dan membiasakan diri untuk mencuci tangan. Terutama setelah menggunakan kamar kecil, sebelum makan, atau mempersiapkan makanan. Bawalah cairan disinfektan yang dapat digunakan sepanjang hari.
  • Cuci buah dan sayur hingga bersih sebelum dimasak.
  • Masak makanan hingga matang. Perhatikan bahwa berbagai sumber protein perlu suhu tertentu untuk mencapai kematangan masing-masing.
  • Konsumsi air putih dalam kemasan atau air putih yang matang.
  • Berikan obat cacing pada hewan peliharaan secara rutin, terutama untuk anjing dan kucing.
  • Buang kotoran hewan peliharaan di tempat sampah secepatnya. Gunakan masker dan sarung tangan saat melakukan hal ini.
  • Selalu gunakan alas kaki.
  • Simpan alas kaki yang digunakan untuk aktivitas luar ruangan di luar rumah

 

Categories
Uncategorized

Kenali Gejala Gangguan Elektrolit

Dalam tubuh manusia, secara normal terdapat beberapa jenis elektrolit seperti natrium (sodium), kalium (potasium), kalsium, klorida, magnesium, dan fosfat. Elektrolit ini terdapat di dalam darah, cairan tubuh, dan urine.

Selain itu, tubuh juga mendapatkan elektrolit ini melalui asupan makanan, minuman, atau suplemen. Elektrolit dalam jumlah yang normal dibutuhkan tubuh agar sel bisa menjalankan semua fungsinya dengan baik.

Gangguan elektrolit terjadi bila salah satu atau beberapa jenis elektrolit berada dalam kadar yang rendah atau berlebihan dari kadar normal. Umumnya gangguan elektrolit tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dicetuskan oleh kondisi medis tertentu. Pada keadaan gangguan elektrolit yang berat, kondisi yang berbahaya seperti penurunan kesadaran, kejang, bahkan henti jantung mendadak bisa terjadi.

Secara medis, beberapa jenis kondisi spesifik untuk gangguan elektrolit terdiri dari:

  • Hipernatremia (kelebihan natrium di dalam darah)
  • Hiponatremia (kekurangan natrium di dalam darah)
  • Hiperkalsemia (kelebihan kalsium di dalam darah)
  • Hipokalsemia (kekurangan kalsium di dalam darah)
  • Hiperfosfatemia (kelebihan fosfat di dalam darah)
  • Hipofosfatemia (kekurangan fosfat di dalam darah)
  • Hiperkalemia (kelebihan kalium di dalam darah)
  • Hipokalemia (kekurangan kalium di dalam darah)
  • Hipermagnesemia (kelebihan magnesium di dalam darah)
  • Hipomagnesemia (kekurangan magnesium di dalam darah)
  • Hiperkloremia (kelebihan klorida di dalam darah)
  • Hipokloremia (kekurangan klorida di dalam darah)

Penyebab Gangguan Elektrolit

Terdapat banyak penyebab gangguan elektrolit Namun penyebab yang paling sering adalah karena tubuh kehilangan cairan dalam jumlah yang banyak, seperti melalui muntah, diare, atau keringat yang sangat berlebihan.

Selain itu, penyebab lain dari gangguan elektrolit adalah:

  • Luka bakar yang luas
  • Efek samping obat tertentu seperti obat golongan diuretik yang digunakan untuk mengobati hipertensi atau gagal jantung
  • Gagal ginjal, baik akut maupun kronik
  • Gangguan hormon paratiroid, bisa berupa hiperparatiroid maupun hipoparatiroid
  • Kanker
  • Efek samping kemoterapi
  • Malnutrisi dan diet yang berlebihan
  • Gagal hati (sirosis)
  • Gangguan hormon tiroid, bisa berupa hipertiroid maupun hipotiroid

Diagnosis Gangguan Elektrolit

Dokter akan melakukan wawancara terkait keluhan yang dialami penderita dan mencari kemungkinan penyebab gangguan elektrolit. Selain itu, pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk pemeriksaan saraf dan otot juga perlu dilakukan.

Selanjutnya untuk memastikan adanya gangguan elektrolit, dokter akan meminta penderita untuk melakukan pemeriksaan darah untuk melihat kadar masing-masing elektrolit di dalam darah.

Gejala Gangguan Elektrolit

Gejala gangguan elektrolit sangat tergantung seberapa berat gangguan yang dialami. Jika kadar elektrolit hanya meningkat atau berkurang sedikit dari normal, umumnya tidak ada gejala apa pun yang terjadi. Namun bila kadarnya berubah cukup signifikan, maka berbagai gejala dapat terjadi.

Tidak semua jenis gangguan elektrolit menimbulkan gejala yang sama, namun umumnya banyak gejala serupa yang terjadi, seperti:

  • Gangguan irama jantung, dapat berupa denyut jantung terlalu lambat (bradikardia), denyut jantung terlalu cepat (takikardia), atau denyut jantung tidak teratur.
  • Lemas dan mudah lelah
  • Mual dan muntah
  • Kejang
  • Diare
  • Sembelit
  • Kram perut
  • Kelemahan otot hingga tangan dan kaki jadi sulit digerakkan
  • Sakit kepala
  • Penurunan kesadaran, bahkan hingga tingkat koma
  • Baal atau kesemutan

Jika salah satu keluhan ini terjadi, maka penanganan segera perlu dilakukan. Jika dibiarkan terlalu lama, gangguan elektrolit yang satu dapat mengganggu komponen elektrolit lainnya, dan bisa berujung pada kondisi gawat yang mengancam nyawa.

Pengobatan Gangguan Elektrolit

Pengobatan spesifik untuk gangguan elektrolit tergantung pada jenis elektrolit yang terganggu dan jenis gangguan yang dialami tubuh (kelebihan atau kekurangan elektrolit). Namun secara umum, ada beberapa pengobatan yang biasa dilakukan untuk mengatasi gangguan elektrolit yaitu:

  • Pemberian cairan melalui pembuluh darah vena

Pemberian cairan melalui infus umumnya dilakukan pada kondisi gangguan elektrolit yang disebabkan karena kehilangan cairan tubuh (muntah, diare, dan lain-lain). Cairan yang biasanya diberikan adalah natrium klorida.

  • Pemberian obat elektrolit melalui pembuluh darah vena

Jika terjadi kondisi kekurangan elektrolit yang berat, untuk dapat mengatasinya dalam waktu cepat, perlu dilakukan pemberian elektrolit yang disuntikkan melalui pembuluh darah vena.

  • Pemberian obat elektrolit oral

Pemberian elektrolit melalui tablet yang diminum umumnya diberikan pada kondisi gangguan elektrolit yang bersifat kronik, seperti pada kondisi gagal ginjal kronik atau pada penyakit hipoparatiroidisme (kekurangan hormon paratiroid yang menyebabkan kalsium dalam darah berada dalam jumlah yang lebih rendah dari seharusnya).

  • Hemodialisis

Tindakan hemodialisis (cuci darah) perlu dilakukan pada kondisi gangguan elektrolit yang berat, yang tidak bisa diatasi dengan pemberian obat-obatan. Tindakan ini umumnya diperlukan pada kondisi kelebihan kalium di dalam darah (hiperkalemia) yang mengakibatkan jantung berdenyut tidak teratur.

Pencegahan Gangguan Elektrolit

Tidak semua gangguan elektrolit bisa dicegah. Namun kondisi gangguan elektrolit yang disebabkan karena kehilangan cairan tubuh dapat dicegah dengan cara mengonsumsi oralit bila mengalami muntah atau diare, serta mengonsumsi air putih dalam jumlah yang cukup setiap hari untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

 

Categories
Uncategorized

Bintik putih, Panu ?

Panu adalah infeksi pada kulit yang ditandai dengan munculnya bercak putih hingga cokelat yang bersisik halus. Penyakit ini sering ditemukan pada daerah tropis dan subtropis yang bersuhu hangat dan lembap. Orang dari semua umur bisa terkena panu, terutama remaja.

Cara mencegah panu adalah dengan menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan hindari berbagi barang pribadi dengan orang lain (seperti handuk, celana dalam, dan baju).

Diagnosis Panu

Untuk mendiagnosis panu, dokter akan melakukan pemeriksaan pada bercak yang bersisik. Selain itu, ada juga pemeriksaan mikroskopis terhadap sampel kerokan sisik halus.

Gejala Panu

Gejala yang ditimbulkan dari panu antara lain:

  • Bercak yang berwarna lebih muda dari warna kulit sekitarnya pada orang dengan kulit berwarna, atau tampak sebagai bercak lebih gelap pada orang dengan kulit pucat.
  • Bentuknya bulat atau tidak beraturan, dapat berbatas tegas atau tidak tegas.
  • Jika diraba, terasa ada sisik halus dan tipis.
  • Bercak panu sering ditemukan pada kepala, muka, leher, bagian atas dada, ketiak, lengan, perut, lipat paha, dan kaki. Biasanya muncul pada daerah yang tertutup pakaian dan bersifat lembap.

Di samping itu, panu juga bisa menyebabkan gatal- gatal ringan, terutama saat berkeringat.

Pengobatan Panu

Panu termasuk penyakit yang mudah kambuh. Oleh karena itu, pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun, dan konsisten.

Pengobatan panu tersedia dalam bentuk obat oles berupa krim, salep, lotion, dan sampo. Anda dapat membeli obat oles yang dijual bebas di apotek atau swalayan. Sebelum menggunakan obat, cuci dan keringkan dahulu daerah panu. Oleskan obat secara tipis sebanyak 1- 2 kali sehari, selama 2 minggu.

Sampo untuk panu harus mengandung selenium sulfida 1.8%. Gosokkan sampo pada bercak panu dan diamkan selama 5- 10 menit sebelum dibilas dengan air. Gunakan 2- 3 kali seminggu.

Bila pengobatan topikal tidak berhasil, obat minum bisa diberikan. Umumnya obat minum perlu dikonsumsi setiap hari selama minimal 5- 10 hari, bergantung pada jenis obat. Jika panu tidak kunjung membaik atau bahkan memberat, sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter spesialis kulit.

Penyebab Panu

Panu disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Jamur ini sebenarnya dapat ditemukan pada kulit yang sehat. Namun, baru menyebabkan infeksi bila tumbuh secara berlebihan.

Pemicu tumbuhnya jamur secara berlebihan antara lain:

  • Kulit yang berkeringat dan berminyak
  • Cuaca yang panas dan lembap
  • Berusia remaja atau awal 20-an
  • Mengalami penurunan sistem imun tubuh

 

 

Categories
Uncategorized

Waspada katarak bisa menyerang usia muda

Katarak atau kekeruhan lensa merupakan kondisi terjadinya kekeruhan pada organ mata, yaitu lensa mata. Gangguan mata ini merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati di dunia saat ini.

Sebagian besar katarak atau kekeruhan lensa timbul pada usia tua sebagai akibat paparan terus menerus terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya. Beberapa hal yang dapat memengaruhinya adalah merokok, radiasi sinar ultraviolet, dan peningkatan kadar gula darah.

Katarak atau kekeruhan lensa yang tersering terjadi pada orang yang berusia tua disebut sebagai kekeruhan lensa atau katarak senilis (katarak terkait usia). Sejumlah kecil kekeruhan lensa atau katarak juga dapat berhubungan dengan penyakit mata seperti glaukoma, ablasi, retinitis pigmentosa, trauma, uveitis, miopia tinggi, pengobatan tetes mata steroid, dan tumor intraokular.

Selain itu bisa juga dipengaruhi oleh penyakit sistemik spesifik. Misalnya diabetes, galaktosemia, hipokalsemia, steroid atau klorpromazin sistemik, rubela kongenital, distrofi miotonik, dermatitis atopik, sindrom Down, katarak turunan. Radiasi sinar X turut diduga dapat memengaruhi kekeruhan lensa mata.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat muncul pasca operasi tergolong rendah. Namun bila operasi katarak atau kekeruhan lensa mengalami komplikasi, maka mungkin saja terdapat kehilangan penglihatan sebagian maupun total.

Beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat operasi katarak atau kekeruhan lensa misalnya infeksi mata (endoftalmitis), pembengkakan dan terdapatnya cairan pada pusat lapisan saraf mata (edema makula sistoid), pembengkakan lapisan bening mata (edema kornea). Selain itu juga dapat terjadi komplikasi berupa perdarahan di depan mata (hifema), dan lepasnya lapisan retina mata (ablasio retina) akibat operasi katarak atau kekeruhan lensa. Sebagian orang juga dapat merasa silau pasca operasi kekeruhan lensa atau katarak .

Diagnosis Katarak

Penentuan diagnosis katarak atau kekeruhan lensa dilakukan lewat serangkaian wawancara dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa pemeriksaan lapang pandang (misalnya dengan melihat huruf pada jarak 6 m) yang biasanya memberikan hasil terdapatnya penurunan ketajaman penglihatan.

Selain itu terdapat pemeriksaan dengan menggunakan senter yang diarahkan pada samping mata, yang akan memperlihatkan kekeruhan pada lensa mata yang berbentuk seperti bulan sabit (shadow test positif).

Pemeriksaan tambahan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dengan alat slit lamp hingga pemeriksaan oftalmoskopi pada daerah retina. Hal ini dilakukan bila dicurigai adanya kelainan tambahan di berbagai organ lain dalam mata.

Gejala Katarak

Gejala katarak atau kekeruhan lensa yang sering dijumpai adalah penglihatan berkabut dan semakin kabur. Pada gejala awal dapat terjadi penglihatan jauh yang kabur dan penglihatan dekat sedikit membaik dibandingkan sebelumnya (second sight). Bila kualitas lensa memburuk atau terjadi kelelahan maka second sight ini akan menghilang. Gejala lain yang dijumpai pada kekeruhan lensa atau katarak senilis adalah peningkatan rasa silau (glare).

Pada lensa mata penderita katarak atau kekeruhan lensa akan tampak bayangan putih. Selain itu dapat pula terjadi pandangan ganda, rabun senja dan terkadang membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.

Pengobatan Katarak

Satu-satunya terapi untuk pasien katarak atau kekeruhan lensa adalah lewat prosedur bedah katarak. Pada terapi ini lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular (ICCE). Teknik ini jarang dilakukan lagi sekarang.

Ekstraksi ekstrakapsular (ECCE). Pada teknik ini, bagian depan kapsul dipotong dan diangkat, lensa dibuang dari mata, sehingga menyisakan kapsul bagian belakang. Lensa penganti buatan dapat dimasukkan ke dalam kapsul tersebut. Kejadian komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian belakang utuh.

Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi. Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran- getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5 mm).Ini akan mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi.

Apabila diperlukan pembedahan maka pengangkatan lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada 90% kasus. Sisanya mungkin telah mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius. Misalnya glaukoma (peningkatan tekanan bola mata), ablasio retina (lepasnya retina mata), atau infeksi yang menghambat pemulihan daya pandang.

Adanya lensa intraokular (dalam bola mata) menyebabkan penyesuaian penglihatan setelah operasi kekeruhan lensa atau katarak menjadi lebih mudah dibandingkan sewaktu hanya tersedia kacamata katarak yang tebal.

Penyebab Katarak

Plak yang mengeras tersebut menjadi karang gigi.Penyebab kekeruhan lensa atau katarak adalah sebagai berikut:

  1. Penuaan → Sudah sewajarnya setiap organ akan menua dan kehilangan fungsinya, begitu juga pada lensa mata. Penuaan adalah penyebab tersering dari kekeruhan lensa atau katarak.
  2. Riwayat trauma → Lensa mata yang pernah mengalami kerusakan saat muda. Misalnya akibat masuknya serpihan material tajam ke mata, terbentur bola, kembang api. Riwayat trauma akan membuat katarak muncul lebih cepat.
  3. Menderita penyakit tertentu → Adanya riwayat menderita penyakit tertentu berkaitan dengan kejadian katarak atau kekeruhan lensa di kemudian hari. Misalnya penyakit diabetes melitus (penyakit gula), hipokalsemia (kekurangan kalsium darah), dermatitis atopik (penyakit kulit alergi).
  4. Mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka waktu lama: Contohnya obat kortikosteroid (sering digunakan untuk obat antiperadangan) dan amiodaron (obat untuk mengatur irama jantung). Penggunaan obat-obat tersebut berkaitan dengan kejadian katarak atau kekeruhan lensa.
  5. Infeksi saat kehamilan. Katarak atau kekeruhan lensa juga dapat diderita sejak lahir, yaitu pada katarak kongenital. Katarak atau kekeruhan lensa dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata anak. Penyebab utamanya terutama berkaitan dengan infeksi selama kehamilan, khususnya rubela.
  6. Merokok
  7. Toksin/ racun

 

Categories
Uncategorized

Cegah Nyeri Ulu Hati

Nyeri ulu hati merupakan salah satu keluhan di mana seseorang merasakan adanya nyeri, sensasi rasa panas, atau rasa terbakar pada dada tengah. Terkadang, keluhan nyeri ulu hati dapat terasa lebih berat saat berbaring atau membungkuk. Nyeri ulu hati merupakan suatu gejala dan bukan penyakit secara tersendiri. Oleh sebab itu, sangat penting untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut guna menentukan kemungkinan penyebab yang mendasarinya.

Penyebab Nyeri Ulu Hati

Nyeri ulu hati dapat terjadi akibat adanya asam lambung yang naik ke esofagus, yakni saluran yang membawa makanan dari mulut ke lambung. Umumnya, saat seseorang menelan, cincin otot yang terdapat pada bagian bawah dari esofagus, yang disebut sebagai sfingter esophageal bawah, mengalami relaksasi agar makanan dan cairan yang dikonsumsi dapat masuk ke dalam lambung. Setelahnya, sfingter tersebut mengalami kontraksi lagi.

Namun, apabila sfingter esophageal bawah mengalami relaksasi yang abnormal atau kelemahan, asam lambung dapat naik kembali ke esofagus, yang disebut sebagai refluks asam lambung, dan menyebabkan seseorang mengalami nyeri ulu hati. Naiknya asam lambung dapat diperparah oleh posisi tubuh yang berbaring atau membungkuk.

Beberapa jenis makanan atau minuman dapat memicu timbulnya nyeri ulu hati pada sebagian orang, contohnya:

  • Makanan pedas
  • Bawang
  • Buah-buahan sitrus
  • Produk yang terbuat dari tomat, seperti saus tomat
  • Makanan berlemak atau makanan yang digoreng
  • Pepermin
  • Coklat
  • Alkohol, minuman bersoda, kopi, atau minuman lain yang mengandung kafein
  • Makanan dalam porsi besar

Gejala Nyeri Ulu Hati

Nyeri ulu hati merupakan suatu gejala dan bukan penyakit secara tersendiri. Umumnya, keluhan ini ditandai dengan adanya:

  • Rasa nyeri, panas, atau terbakar pada dada yang dapat timbul sebelum atau setelah mengonsumsi makanan, atau pada malam hari
  • Rasa nyeri pada dada yang memberat saat berbaring atau membungkuk

Diagnosis Nyeri Ulu Hati

Karena nyeri ulu hati merupakan suatu gejala, penting untuk menentukan diagnosis penyakit yang mendasarinya. Hal ini dapat dilakukan dengan wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik secara langsung, dan pemeriksaan penunjang tertentu bila dinilai diperlukan.

Beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:

  • Pencitraan menggunakan sinar X, untuk menilai bentuk dan kondisi dari esofagus dan lambung.
  • Pemeriksaan endoskopi, untuk mengevaluasi adanya abnormalitas di esofagus. Dapat dilakukan pengambilan sampel jaringan atau biopsi untuk dianalisis lebih lanjut.
  • Pemeriksaan motilitas esofagus, untuk menentukan gerakan dan tekanan pada esofagus.

Penanganan Nyeri Ulu Hati

Penanganan dari nyeri ulu hati bergantung dari penyebab yang mendasarinya. Apabila nyeri ulu hati dinilai berkaitan dengan peningkatan asam lambung setelah dilakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara langsung, dokter dapat meresepkan pengobatan untuk membantu menurunkan kadar asam lambung.

Pencegahan Nyeri Ulu Hati

Beberapa modifikasi gaya hidup dapat diterapkan untuk mencegah timbulnya nyeri ulu hati, seperti:

  • Menjaga agar berat badan tetap stabil. Berat badan yang berlebih akan meningkatkan tekanan pada abdomen dan mendorong perut ke atas. Hal inilah yang menyebabkan asam lambung untuk naik ke esofagus.
  • Menghindari pakaian yang ketat, yang dapat meningkatkan tekanan pada abdomen dan sfingter esophageal bawah.
  • Menghindari konsumsi makanan yang dapat memicu timbulnya nyeri ulu hati. Contohnya makanan pedas, buah-buahan sitrus, makanan asam, kopi, cokelat, minuman bersoda, dan sebagainya.
  • Menghindari berbaring setelah mengonsumsi makanan, setidaknya selama tiga jam.
  • Menghindari makan terlalu malam.
  • Menghindari merokok, yang dapat menurunkan kemampuan sfingter esophageal bawah untuk berfungsi dengan baik.