Categories
Uncategorized

Cara mengobati Varises

Varises dapat menyebabkan komplikasi karena mengganggu aliran darah dalam pembuluh vena. Kebanyakan orang yang memiliki varises tidak mengalami komplikasi, tetapi jika hal itu terjadi, biasanya baru akan muncul beberapa tahun setelah pembuluh vena pertama kali terlihat menonjol. Berikut ini beberapa komplikasi yang bisa ditimbulkan dari varises :

  • Varises yang berada di dekat permukaan kulit bisa pecah saat kaki terbentur atau tergores. Perdarahan yang terjadi mungkin sulit dihentikan. Jika terjadi, segera berbaring dan angkat kaki sehingga posisi lebih tinggi dari tubuh, dan beri tekanan langsung pada area yang terluka. Hubungi dokter jika hal tersebut tidak membantu menghentikan perdarahan.
  • Penggumpalan darah. Jika penggumpalan darah terjadi di dalam pembuluh vena yang letaknya berdekatan dengan permukaan kulit, hal tersebut bisa menimbulkan tromboflebitis dan trombosis vena dalam.
  • Tromboflebitis merupakan penggumpalan darah di dalam pembuluh vena. Gejala yang biasa muncul adalah rasa nyeri pada bagian dalam pembuluh vena yang terkena varises dan kulit terlihat memerah.
  • Trombosis vena dalam. Mirip dengan tromboflebitis. Gejalanya berupa kaki bengkak dan terasa nyeri. Jika dibiarkan, bisa mengakibatkan komplikasi lain seperti emboli paru-paru, penyumbatan pembuluh arteri paru-paru sehingga menghalangi aliran darah dari jantung ke paru-paru.
  • Eksim varises. Kulit akan terlihat kemerahan, bersisik, hingga akhirnya mengelupas. Pada kasus tertentu, kulit penderita yang melepuh akan berkerak secara permanen.

Diagnosis Varises

Konsultasikan kondisi varises pada dokter apabila nyeri yang ditimbulkan mengganggu aktivitas harian. Begitu juga bila muncul luka di sekitar permukaan kulit yang menutupi pembuluh vena varises.

Dua cara pemeriksaan yang akan dilakukan dokter dalam mendiagnosis varises adalah pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengumpulkan riwayat medis terlebih dahulu, seperti gejala yang dirasakan serta faktor risiko yang mungkin ada pada diri pasien.

Setelah mengumpulkan informasi riwayat medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada area tubuh yang sakit, bengkak, atau luka. Dokter akan meminta pasien menggerakkan kaki ke dalam beberapa posisi berbeda agar bisa mengamati aliran darah.
Varises biasanya didiagnosis berdasarkan tampilan pembuluh vena, sehingga biasanya tidak diperlukan lagi tes lanjutan. Namun lain halnya jika dokter mencurigai adanya komplikasi yang terjadi akibat varises. Pemeriksaan lanjutan yang umum disarankan dokter adalah USG Duplex Dopler, yakni metode pemindaian untuk melihat aliran darah di dalam pembuluh vena.

Selain metode di atas, dokter dapat menyarankan untuk dilakukan angiogram untuk memeriksa aliran darah dalam pembuluh vena. Angiogram adalah metode pemeriksaan dengan menyuntikkan zat khusus ke dalam pembuluh vena agar ikut mengalir bersama darah. Kemudian, dokter akan melihat tingkat kelancaran aliran zat tersebut. Jika tidak lancar, maka ada indikasi terjadi penggumpalan darah di dalam pembuluh vena.
Dokter bisa juga menyarankan pemeriksaan ultrasonografi untuk melihat apakah katup pembuluh vena berfungsi baik atau tidak, serta melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah.

Gejala Varises

Varises umumnya terjadi di kaki, terutama di betis atau bagian belakang lutut. Namun varises juga bisa muncul pada bagian lain tubuh –seperti tenggorokan, vagina, panggul, dan anus. Varises dapat dikenali dengan segera, karena pada bagian kulit yang memiliki kondisi tersebut pembuluh vena akan terlihat menonjol dengan warna biru tua atau ungu.

Penderita varises biasanya juga merasakan gejala-gejala, seperti rasa nyeri pada kaki, kaki terasa berat dan panas (terutama setelah duduk atau berdiri dalam waktu lama). Selain itu biasanya juga terjadi pembengkakan kaki bagian bawah, serta gatal pada permukaan kulit yang menutupi varises.

Umumnya, gejala akan lebih terasa jika penderita duduk atau berdiri dalam waktu lama. Anda bisa meluruskan kaki sejenak dengan berjalan kaki santai untuk membantu pengatasnya. Atau Anda bisa berbaring sambil memposisikan kaki lebih tinggi dibanding tubuh dengan menaruh bantal di bawah kaki. Pada wanita, gejala varises akan terasa lebih berat beberapa hari sebelum dan pada saat menstruasi.

Pengobatan Varises

Varises tingkat ringan dapat ditangani dengan pengobatan mandiri di rumah. Pengobatan mandiri dapat meredakan gejala, mengurangi tingkat keparahan, dan mencegah terjadinya komplikasi.

Anda bisa melakukan pengobatan mandiri dengan rutin berolahraga (terutama gerakan untuk menguatkan kaki), memerhatikan bobot tubuh agar tidak berlebih, tidak berdiri terlalu lama, dan beristirahat dengan cara berbaring agar posisi kaki lebih tinggi daripada tubuh. Anda bisa menggunakan bantal untuk menyangga kaki.

Penggunaan alat bantu juga dapat meringankan gejala varises, yaitu dengan memakai stoking khusus varises atau bebat kompresi. Fungsinya adalah memberikan tekanan yang dibutuhkan pada otot dan pembuluh vena, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar.
Anda akan disarankan untuk memakai kaus kaki kompresi saat beraktivitas sepanjang hari. Jika pemakaian kaus kaki kompresi membuat kulit kaki kering, Anda bisa mengoleskan pelembap terlebih dulu sebelum memakainya.

Ganti kaus kaki kompresi secara berkala, usia pemakaiannya berkisar antara tiga hingga bulan. Pastikan Anda memakai kaus kaki kompresi yang sesuai dengan tingkat keparahan varises. Jika gejala varises tidak mereda dengan pengobatan mandiri atau justru semakin parah dan berisiko menimbulkan komplikasi, segeralah berkonsultasi ke dokter. Biasanya dokter akan menyarankan pengobatan berikut:

  • Skleroterapi, yaitu dengan menyuntikkan cairan khusus ke pembuluh vena varises. Tujuannya adalah untuk membentuk luka yang akan menutup saluran darah. Efek samping terapi ini antara lain perubahan warna kulit, nyeri punggung bawah, sakit kepala, dan penglihatan berkurang (bersifat sementara).
  • Radiofrekuensi ablasi. Metode ini menggunakan energi radiofrekuensi untuk membakar dinding pembuluh vena varises. Hal tersebut akan membuat dinding pembuluh vena menutup. Setelah pembuluh vena varises berhasil ditutup, aliran darah akan otomatis dialihkan ke pembuluh vena lain yang masih berfungsi normal.
  • Bedah terbuka. Ini dilakukan untuk mengangkat pembuluh vena varises.

Untuk mencegah terjadinya varises, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut:

  • Hindari duduk atau berdiri dalam waktu lama, ubah posisi secara berkala.
  • Hindari berada dalam posisi yang membatasi peredaran darah pada tungkai (seperti menyilangkan kaki ketika duduk).
  • Tinggikan posisi tungkai dan kaki ketika duduk.
  • Berolahraga secara teratur.

Penyebab Varises

Varises diawali dengan adanya tekanan pada dinding pembuluh vena yang dipicu oleh beragam faktor. Hal ini berakibat pada renggangnya pembuluh vena sehingga menyebabkan katup melemah.

Katup yang lemah tersebut kemudian tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik, mengakibatkan aliran darah ke jantung terganggu. Darah yang mengalir lagi ke bawah akan membuat endapan. Jika hal ini terus terjadi, endapan akan membuat pembuluh vena bengkak, merusak katup, dan muncul varises.

Lalu, faktor apa saja yang bisa memicu terjadinya kerusakan pada pembuluh vena dan membuat seseorang berisiko terhadap varises?

  • Jenis kelamin. Wanita lebih berisiko terkena varises ketimbang pria. Hal ini disebabkan karena hormon wanita cenderung membuat dinding pembuluh darah rileks, sehingga katup berpotensi mengalami kebocoran.
  • Faktor keturunan. Anda berisiko lebih besar terkena varises jika memiliki keluarga dengan riwayat kondisi tersebut.
  • Dengan bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah akan berkurang. Hal ini akan membuat katup melemah, sehingga darah akan dengan mudah kembali ke bawah dan membuat endapan di dalam pembuluh vena.
  • Bobot tubuh yang besar akan memberikan tekanan lebih pada pembuluh vena kaki, sehingga menyulitkan proses pengembalian darah ke jantung.
  • Jika Anda sering beraktivitas dengan berdiri terlalu lama, ini akan mempersulit kembalinya aliran darah ke jantung.
  • Produksi darah cenderung meningkat saat hamil, sehingga akan memberikan tekanan lebih pada pembuluh vena. Hormon kehamilan juga membuat otot dinding pembuluh vena rileks sehingga perlindungan katup melemah.

 

Categories
Uncategorized

Penyebab dan Gejala TBC tulang belakang

TBC tulang belakang, atau sering disebut sebagai spondilitis TBC, merupakan infeksi tuberkulosis yang menyerang tulang belakang. Biasanya tulang belakang yang terkena adalah bagian torakal dan lumbal (di daerah punggung bawah). TBC tulang belakang tak hanya dapat menyerang tulang belakang, melainkan dapat pula menyerang tulang panggul dan lutut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penderita TBC tulang terbanyak di dunia.

Penyebab TBC Tulang Belakang

Penyebab penyakit TBC tulang belakang adalah karena infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya infeksi awalnya menyerang paru, kemudian kuman menyebar ke pembuluh darah dan sampai ke tulang belakang.

Orang-orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, kurang gizi, dan penderita HIV/ AIDS diketahui lebih rentan mengalami penyakit ini.

Diagnosis TBC Tulang Belakang

Untuk memastikan ada tidaknya penyakit TBC tulang, perlu dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya bakteri TBC di dalam tubuh. Pemeriksaan tersebut antara lain dengan pemeriksaan laju endap darah dan  pemeriksaan Mantoux (dengan menyuntikkan kuman tuberkulosis di bawah kulit lengan).

Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan rontgen tulang belakang. Namun pada hampir 50% kasus, hasil rontgennya normal. Pemeriksaan utama untuk melihat kondisi tulang belakang adalah dengan MRI tulang belakang.

Bila benar terbukti ada TBC tulang belakang, dokter akan menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan rontgen dada dan pemeriksaan dahak untuk mengetahui apakah ada infeksi TBC di paru yang biasanya menjadi sumber penyebaran TBC ke tulang belakang.

Gejala TBC Tulang Belakang

Gejala awal dari TBC tulang belakang adalah nyeri punggung yang semakin hari makin bertambah nyerinya. Gejala lain adalah adanya demam hilang timbul, keringat berlebih di malam hari, berat badan turun, punggung terlihat makin membungkuk.

Pada infeksi yang berat, dapat terjadi pula kelumpuhan atau gangguan saraf lainnya.

Pengobatan TBC Tulang Belakang

Pengobatan TBC tulang terdiri dari pemberian obat antituberkulosis dan operasi. Pengobatan menggunakan OAT harus dilakukan untuk membunuh bakteri penyebab TBC.

Obat antituberkulosis (OAT) umumnya dikonsumsi selama setidaknya satu tahun. Selain itu, bila bakteri menyerang tulang belakang secara progresif, operasi perlu dilakukan untuk menghentikan progresivitas infeksi tulang dan menjaga struktur tulang belakang tetap normal.

Pencegahan TBC Tulang Belakang

Untuk mencegah TBC tulang belakang, hal berikut ini yang perlu dilakukan:

  • Imunisasi BCG saat bayi berusia dua bulan
  • Makan makanan yang bergizi (karbohidrat, sayur, protein, buah) dengan jadwal yang teratur
  • Hindari kontak dengan penderita TBC
Categories
Uncategorized

Waspada hamil anggur

Hamil anggur adalah tumor jinak yang berkembang di dalam rahim. Pada kehamilan normal, sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma akan berkembang menjadi zigot, embrio, dan kemudian janin yang mendapatkan asupan dari plasenta. Namun, pada hamil anggur, kondisi embrio menjadi tidak normal dan plasenta berkembang menjadi massa kista abnormal.

Hamil anggur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni hamil anggur lengkap dan hamil anggur parsial. Data epidemiologi menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 1.200 kehamilan adalah hamil anggur.

Diagnosis Hamil Anggur

Untuk menentukan diagnosis hamil anggur, perlu dilakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara langsung oleh dokter.

Bila dokter mencurigai diagnosis ke arah hamil anggur, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang tertentu seperti ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan hormon beta-human chorionic gonadotropin (b-HCG) dalam darah. Hasil USG pada hamil anggur lengkap dapat menunjukkan tidak adanya janin, tidak adanya cairan ketuban, plasenta tebal disertai kista yang memenuhi rahim, serta kista ovarium.

Sedangkan, hasil USG pada hamil anggur parsial dapat menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang terhambat, cairan ketuban yang sangat sedikit, dan plasenta tebal disertai kista.

Gejala Hamil Anggur

Pada awalnya hamil anggur dapat menunjukkan tanda-tanda layaknya kehamilan pada umumnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, terdapat beberapa tanda dan gejala yang dapat timbul pada hamil anggur, yakni:

  • Perdarahan dari vagina berwarna merah terang atau cokelat gelap pada trimester pertama.
  • Mual dan muntah yang hebat.
  • Terkadang, dapat keluar kista menyerupai anggur dari vagina.
  • Rasa nyeri atau tekanan pada dasar panggul, yang cukup jarang dialami.
  • Perkembangan rahim yang sangat cepat, melewati batas normal pada usia kehamilan tertentu.
  • Peningkatan tekanan darah.
  • Kista ovarium.
  • Anemia
  • Peningkatan aktivitas kelenjar tiroid.

Pengobatan Hamil Anggur

Bila seseorang mengalami tanda dan gejala yang serupa dengan hamil anggur, disarankan untuk langsung berkonsultasi dengan dokter. Jika seorang wanita memiliki riwayat hamil anggur sebelumnya, dokter dapat menyarankan untuk menunggu enam bulan hingga satu tahun sebelum mencoba untuk hamil lagi.

Dalam kehamilan selanjutnya, dokter juga akan melakukan pemeriksaan USG lebih dini untuk memantau kondisi dan meyakinkan bahwa janin berkembang dengan baik.

Hamil anggur tidak dapat diteruskan sebagai kehamilan normal. Untuk mencegah timbulnya komplikasi, jaringan hamil anggur tersebut harus dikeluarkan.

Beberapa pilihan tindakan yang dapat dilakukan adalah dilation and curretage (D&C). Ini merupakan prosedur di mana mulut rahim dilebarkan dan jaringan hamil anggur tersebut dikeluarkan dengan instrumen vakum.

Namun, bila jaringan hamil anggur cukup besar dan tidak ada rencana untuk kehamilan selanjutnya, dapat dilakukan histerektomi atau pengangkatan rahim.

Setelah dilakukan tindakan, umumnya dokter akan memantau kadar hormon b-HCG dalam darah selama enam bulan hingga satu tahun setelahnya, untuk memastikan bahwa tidak ada jaringan hamil anggur yang tertinggal.

Penyebab Hamil Anggur

Hamil anggur disebabkan oleh sel telur yang melewati proses pembuahan yang abnormal. Dalam kondisi normal, sel tubuh manusia memiliki 46 (23 pasang) kromosom, di mana separuh dari kromosom tersebut didapat dari ayah, dan separuh lagi dari ibu.

Namun, pada hamil anggur lengkap, seluruh kromosom dari sel telur yang dibuahi didapat dari ayah. Karena sesaat setelah terjadi proses pembuahan, kromosom dari sel telur ibu mengalami inaktivasi, dan kromosom dari sel sperma ayah mengalami duplikasi.

Pada hamil anggur parsial, kromosom dari sel telur tetap ada, tetapi kromosom dari sel sperma mengalami duplikasi. Maka dari itu, didapat 69 kromosom dan bukan 46 sebagaimana seharusnya.

Beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan terjadinya hamil anggur, yaitu:

  • Usia kehamilan ibu. Hamil anggur lebih sering terjadi pada ibu hamil yang berusia di atas 35 tahun atau di bawah 20 tahun.
  • Riwayat mengalami hamil anggur sebelumnya.

 

Categories
Uncategorized

Menghadapi masa pubertas

Pubertas dini merupakan kondisi terjadinya pubertas, atau suatu kondisi di mana tubuh anak mulai mengalami perubahan menuju tubuh dewasa, pada usia yang lebih cepat dari kondisi umumnya. Pubertas yang terjadi sebelum usia 8 tahun pada perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada laki-laki dikategorikan sebagai pubertas dini. Pubertas merupakan perubahan fisik yang melibatkan pertumbuhan tulang dan otot dengan lebih cepat, perubahan bentuk dan ukuran tubuh, serta perkembangan sistem reproduksi tubuh.

Penyebab pubertas dini sering kali tidak diketahui. Pada sebagian kecil kasus, adanya kondisi tertentu seperti infeksi, kelainan hormon, tumor, atau kelainan atau cedera pada otak, dapat menyebabkan pubertas dini. Penanganan pubertas dini umumnya mencakup pengobatan untuk menunda pubertas.

Penyebab Pubertas Dini

Pubertas termasuk pubertas dini merupakan proses yang diawali di otak, yaitu saat otak memproduksi hormon yang disebut gonadotropin-releasing hormone (Gn-RH), yang kemudian mendorong kelenjar pituitari melepaskan lutenizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH).

Baik LSH maupun FH bekerja dengan cara merangsang ovarium untuk memproduksi hormon. Pada perempuan, hormon tersebut (estrogen) berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual perempuan. Pada pria, LSH dan FH bertugas merangsang testikel untuk memproduksi hormon (dikenal dengan testosteron) yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual laki-laki.

Produksi hormon tersebut menyebabkan terjadinya perubahan fisik pada masa pubertas. Terdapat dua tipe pubertas dini, yakni pubertas dini sentral dan pubertas dini perifer.

Pada pubertas dini sentral, umumnya penyebab yang melatari kondisi pubertas tidak dapat diidentifikasi. Proses pubertas pada kondisi ini biasanya terjadi lebih awal, namun pola dan urutannya tetap sesuai dengan pubertas pada umumnya. Pada sebagian besar anak dengan kondisi ini, tidak terdapat masalah medis yang perlu ditangani dan tidak ditemukan penyebab pubertas dini.

Pada pubertas dini perifer, penyebab umumnya adalah terdapatnya estrogen atau testosteron pada tubuh anak. Kondisi ini tidak melibatkan Gn-RH, yang umumnya merupakan pencetus awal pubertas.

Pada perempuan maupun laki-laki, beberapa hal dapat menyebabkan pubertas dini. Latar penyebab itu antara lain berupa tumor pada kelenjar adrenal atau kelenjar pituitari yang menyebabkan pelepasan estrogen atau testosteron; atau adanya pajanan sumber eksternal estrogen atau testosteron, seperti krim atau salep. Pada perempuan, pubertas dini perifer dapat dikaitkan dengan kista atau tumor ovarium. Sedangkan pada laki-laki, kondisi ini dapat dikaitkan dengan tumor pada sel yang memproduksi sperma atau testosteron.

Gejala Pubertas Dini

Tanda-tanda pubertas dini mencakup terjadinya hal-hal berikut sebelum usia 8 tahun pada perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada laki-laki.

Tanda yang umumnya ditemui pada perempuan adalah:

  • Pertumbuhan payudara
  • Menstruasi pertama (menarche)

Tanda yang umumnya ditemui pada laki-laki adalah:

  • Pembesaran testikel dan penis
  • Pertumbuhan rambut wajah (umumnya pertama kali diamati di antara hidung dan bibir atas)
  • Suara yang memberat

Tanda yang umumnya ditemui baik pada perempuan maupun laki-laki adalah:

  • Pertumbuhan rambut pada selangkangan dan ketiak
  • Peningkatan kecepatan pertumbuhan
  • Jerawat

Diagnosis Pubertas Dini

Untuk mendiagnosis adanya pubertas dini, dokter dapat melihat riwayat kesehatan anak dan anggota keluarganya, melakukan pemeriksaan fisik, serta meminta anak yang mengalami kondisi tersebut untuk melakukan pemeriksaan darah guna mengukur kadar hormon-hormon tertentu.

Pemeriksaan sinar X pada tangan dan pergelangan tangan juga dapat membantu mendiagnosis adanya pubertas dini. Hasil pemeriksaan sinar X dapat membantu menentukan usia tulang. Ini merupakan tanda dan petunjuk bila tulang mengalami pertumbuhan yang terlalu cepat.

Untuk mengetahui tipe pubertas dini yang terjadi, dokter dapat melakukan pemeriksaan yang disebut tes stimulasi Gn-RH, dan mengambil sampel darah setelahnya. Pada anak dengan pubertas dini sentral, hormon ini akan menyebabkan peningkatan hormon lainnya. Namun, pada anak dengan pubertas dini perifer, kadar hormon lainnya akan tetap sama.

Pemeriksaan tambahan untuk pubertas dini sentral dapat berupa magneticresonance imaging (MRI) untuk melihat adanya kelainan pada otak yang menyebabkan pubertas dini. Bisa juga dilakukan pemeriksaan hormon tiroid bila terdapat tanda-tanda penurunan fungsi hormon tiroid seperti kelelahan, rasa lemah, peningkatan sensitivitas terhadap udara dingin, konstipasi, penurunan performa di sekolah, atau kulit kering dan pucat.

Sedangkan pemeriksaan tambahan untuk pubertas dini perifer dapat dilakukan untuk menginvestigasi penyebab dari kondisi tersebut. Misalnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah tambahan untuk mengevaluasi kadar hormon lainnya. Atau pada anak perempuan, dapat dilakukan ultrasonografi (USG) untuk memeriksa adanya kista atau tumor pada ovarium.

Penanganan Pubertas Dini

Penanganan pada pubertas dini bergantung dari penyebabnya. Tujuan utama penanganan ini adalah memungkinkan seorang anak untuk mencapai tinggi manusia dewasa.

Pada sebagian besar anak dengan pubertas dini sentral, yang tidak ditemui penyebab medisnya, tanda dan gejala pubertas dini dapat teratasi dengan pengobatan. Pengobatan yang disebut terapi analog Gn-RH yang umumnya mencakup pengobatan suntikan setiap bulan, yang dapat menunda pubertas.

Beberapa jenis pengobatan yang lebih baru dapat diberikan dengan interval yang lebih panjang. Anak akan mendapatkan pengobatan hingga mencapai usia normal untuk mengalami pubertas. Secara rata-rata, sekitar 16 bulan dari penghentian pengobatan, proses pubertas bisa berlangsung lagi.

Pada pubertas dini perifer, yang pubertas dini disebabkan oleh adanya kondisi medis tertentu, penanganan kondisi tersebut perlu dilakukan untuk menghentikan progresivitas pubertas. Misalnya, pada anak dengan tumor yang menyebabkan produksi hormon tertentu yang kemudian menyebabkan terjadinya pubertas, pengangkatan tumor yang bersangkutan dapat menghentikan proses pubertas.

Pencegahan Pubertas Dini

Beberapa faktor risiko tertentu untuk pubertas dini , seperti jenis kelamin dan ras, tidak dapat dihindari. Namun, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko mengalami pubertas dini, termasuk:

  • Menghindari paparan sumber eksternal estrogen dan testosteron, sebagai contoh obat-obatan atau makanan yang mengandung hormon tersebut
  • Mendukung anak untuk menjaga berat badan agar tetap ideal

 

Categories
Uncategorized

Kenali tanda – tanda Menopause

Menopause adalah kondisi di mana tidak terjadi menstruasi selama 12 bulan akibat tidak aktifnya folikel sel telur. Periode transisi menopause dihitung dari periode menstruasi terakhir diikuti dengan 12 bulan periode amenorea (tidak mendapatkan siklus haid).

Menopause merupakan bagian dari periode transisi perubahan masa reproduktif ke masa tidak reproduktif. Usia rata-rata menopause berkisar 43–57 tahun. Namun tidak ada cara yang pasti untuk memprediksi kapan seorang wanita akan memasuki masa menopause.

Selain itu, faktor keturunan juga turut berperan, di mana seorang wanita akan mengalami masa menopause pada usia tidak jauh berbeda dari ibunya.
Selama menopause, tubuh seorang wanita secara perlahan mengurangi produksi hormon estrogen dan progesterone sehingga terjadilah berbagai gejala.

Diagnosis Menopause

Penentuan diagnosis menopause dapat dilakukan apabila seorang wanita tidak mendapatkan haid selama 1 tahun (12 bulan berturut-turut).

Gejala Menopause

Gejala yang sering dikeluhkan pada menopause adalah:

  • Perubahan di dalam periode menstruasi (memendek atau memanjang, lebih banyak atau lebih sedikit atau tidak mendapat menstruasi sama sekali)
  • Hot flashes
  • Keringat malam
  • Kekeringan pada vagina
  • Gangguan tidur
  • Perubahan mood (depresi, mudah tersinggung)
  • Nyeri ketika bersanggama
  • Infeksi saluran kemih
  • Inkontinensia urin atau beser (tidak mampu menahan keluarnya air seni)
  • Tidak berminat pada hubungan seksual
  • Peningkatan lemak tubuh di sekitar pinggang
  • Bermasalah dengan konsentrasi dan daya ingat

Pengobatan Menopause

Menopause sendiri adalah bagian yang normal dari perjalanan hidup seorang wanita dan bukan merupakan penyakit yang perlu diterapi. Bagaimanapun juga, terapi dimungkinkan apabila gejala dari menopause mengganggu atau bertambah parah.
Modifikasi gaya hidup dapat mengurangi ketidaknyamanan yang dialami akibat gejala yang terjadi. Hal ini juga tentunya akan membuat tubuh terasa lebih sehat.

Modifikasi gaya hidup yang disarankan adalah:

  • Menambahkan makanan yang kaya akan kandungan kalsium. Bisa juga dilakukan dengan mengonsumsi suplemen kalsium.
  • Menghindari alkohol dan kafein yang dapat memicu terjadinya hot flashes.
  • Berhenti merokok.
  • Olahraga teratur. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur bisa membantu menurunkan berat badan, memperbaiki kualitas tidur, menguatkan tulang, dan meningkatkan mood. Jalan cepat, aerobic low impact, dan menari adalah contoh olahraga yang dapat menguatkan tulang.
  • Hindari stress. Meditasi atau yoga dapat membantu untuk relaks dan menyesuaikan diri dengan gejala yang dialami pada periode peralihan hormonal.

Beberapa dokter juga menyarankan untuk menggunakan pil kontrasepsi untuk mengurangi gejala yang terjadi.

Ketika masuk ke dalam fase menopause, bila gejala-gejala tersebut semakin mengganggu, maka bisa dilakukan terapi hormonal menggunakan hormon estrogen dan progesterone. Terapi ini dapat dilakukan bila masih terdapat rahim atau hormon estrogen bila sudah tidak memiliki rahim.

Terapi hormonal ini dapat mengurangi gejala yang terjadi di masa menopause dan mencegah keroposnya tulang. Terapi ini tersedia dalam berbagai macam bentuk, di antaranya adalah tablet atau patch yang ditempelkan ke kulit, Hormon Replacement Therapy (HRT), dan terapi hormonal lokal (vagina).

Terapi hormonal dapat mengandung estrogen saja, progesterone saja, testosterone saja, atau kombinasi estrogen-progesteron. Terapi hormonal efektif untuk mengurangi gejala hot flashes dan kekeringan pada vagina.

Penyebab Menopause

Menopause terjadi sebagai proses alami di mana tubuh seorang wanita secara perlahan mengurangi produksi hormon estrogen dan progesteron.

Namun, beberapa tindakan medis juga dapat menyebabkan produksi hormon progesteron dan estrogen menurun hingga memicu terjadinya menopause dini. Dengan adanya penurunan kedua hormon ini, proses ovulasi lama kelamaan akan berhenti.